in

Jangan Lihat dari Cover, Gadis Tomboi Ini Rela Jual Ginjal Demi Bangun Sebuah Masjid

Dari dulu kita memang tidak di ajarkan untuk menilai seorang hanya dari tampangnya saja. Dan ternyata hal tersebut terbukti. Misalnya saja, seperti yang kita tahu, ada banyak orang berpakaian rapi dan berdasi malah menjadi pencuri uang rakyat. Sedangkan mereka berpakaian compang-camping justru memiliki kejujuran dengan mengembalikan dompet yang ditemukan. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya.

Begitu pula yang terjadi di daerah Sulawesi selatan. Tidak ada yang menyangka kalau seorang gadis yang berperawakan tomboi rela menjual organnya demi pembangunan sebuah masjid. Dia adalah Lilis, seorang gadis pekerja di pabrik roti yang siap melelang ginjalnya seharga Rp 200 juta. Berikut kisah lengkap menyentuh hati pengorbanan gadis tomboi itu.

Hanya sorang gadis yang bekerja di pabrik roti

Gadis bernama Lilis ini bukanlah seorang yang punya banyak uang dan kekuasaan. Dia hanyalah pegawai pabrik roti di daerah kecamatan Karee, Sulawesi selatan. Meskipun penampilannya yang sedikit tomboy, namun ternyata dia memiliki hati bak bidadari. Perempuan ini bahkan rela menjual salah satu ginjalnya untuk melunasi kekurangan Rp 200 juta dalam pembangunan masjid di desanya.

Lilis Susanti [image source]
Tidak ada yang mengira kalau niatan tulus seperti itu malah muncul dari sosok seorang gadis tomboy ini. Dengan terang-terangan Lilis melelang ginjalnya di akun facebooknya. Lilis sangat berharap agar ada seorang yang mau membeli ginjalnya dengan harga yang tinggi.

Selalu menangis saat melihat masjid

Setiap dia melewati masjid yang sudah bertahun-tahun namun tidak rampung pembangunannya itu, Lilis selalu menangis dibuatnya. Ia sedih lantaran pembangunan masjid Miftahul Salam selalu terhenti karena kendala keuangan dan merasa menyesal karena tidak seberuntung daerah yang lainnya. Entah mengapa keinginan baik itu malah terbesit di hati seorang Lilis.

Kecamatan Keera [image source]

Pembangunan terus-terusan mangkrak karena dana dari pemerintah tidak kunjung cair juga. Alhasil jadilah masjid Miftahul Salam jadi sangat terbengkalai dan tidak terurus seperti itu. Sudah banyak cara dilakukan oleh aparatur desa setempat, namun hasilnya selalu saja nihil. Bahkan dana patungan desa tidak akan pernah cukup untuk menutupi kekurangannya.

Saat hujan, warga sering sholat dalam keadaan basah kuyub

Keadaan Masjid Miftahul Salam sebagai tempat ibadah sangat memprihatinkan. Keadaan atap yang tanpa genting dan tiang-tiang penyanggah yang masih berupa bambu. Bahkan saat hujan turun dengan deras, hasilnya warga harus basah kuyub saat melakukan sholat berjamaah. Banyak warga yang sebenarnya ingin membantu dalam pembangunan masjid itu, namun apalah daya karena kebanyakan warga juga tidak memiliki banyak uang untuk disumbangkan.

Masjid Miftahul Salam [image source]
Karena itulah terbesit dalam hati Lilis untuk menyedekahkan harta satu-satunya yang dia punyai, yaitu ginjal. Sama seperti yang lain, Lilis juga tidak memiliki banyak uang. Mungkin saking cintanya Lilis dengan masjid di kampungnya itu hingga ia nekat melakukan hal tersebut.

Banyak yang salut, namun banyak pula yang melarang

Masjid yang tidak rampung-rampung itu dikarenakan prosedur pemintaan dana yang tidak jelas. Sebelumnya, telah berkali-kali pihak desa mengajukan proposal ke pemerintah. Namun sayang tidak ada sama sekali pencairan dana yang diterima. Padahal Masjid itu merupakan sarana ibadah utama di desa Keera. Sebelumnya panitia pembangunan masjid telah mendapatkan dana sekitar Rp. 700 ribu dari gotong rotong warga. Namun hal tersebut pastinya sangat jauh untuk menutupi kekurangan pembangunan. Mendengar Lilis ingin menjual ginjalnya untuk para warga sangat salut dengan apa yang dia lakukan.

Sering mengajukan Proposal [image source]
Namun juga banyak yang menentang perbuatan Lilis tersebut. Salah satunya adalah ketua pembangunan Masjid Miftahul Salam, karena menurutnya masih banyak cara yang bisa ditempuh untuk menutupi kekurangan dana. Namun Lilis sepertinya sudah tidak peduli dengan hal tersebut mengingat proposal yang terus ditolak, baginya yang penting masjid utama di desa Keera itu dapat berdiri lagi.

Tidak ada yang membayangkan kalau niat setulus itu malah berasal dari sosok perempuan tomboi seperti Lilis. Saking cintanya dengan kampung halamannya, bahkan dia rela mengorbankan ginjalnya hanya untuk melihat masjid Miftahul Salam berdiri. Hal ini pastinya menjadi tamparan bagi diri kita, pasalnya jangankan mengorbankan ginjal, bahkan beramal dengan seadanya saja kita sering lewat. Kita harus banyak belajar pada sosok Lilis ini.

Written by Arief Dian

Seng penting yakin.....

Leave a Reply

Pria dengan Tampang ‘Biasa aja’ ini Bisa Gonta-Ganti Pasangan Kencan Tiap Minggu Lho, Kamu?

Anak Penjual Kerupuk Hingga Sopir Angkot di Surabaya Berkesempatan Menjadi Mekanik Pesawat