Sebagai induk tertinggi sepak bola Indonesia, baru-baru ini PSSI mengeluarkan keputusan tegas terkait kejadian negatif suporter yang berujung kematian Haringga Sirila. Mereka memutuskan untuk memberhentikan kompetisi sepak bola sampai waktu yang belum ditentukan. Melihat hal tersebut pastinya akan langsung timbul pertanyaan tentang bagaimana efektivitas hal tersebut untuk membuat olahraga banyak dicintai masyarakat Indonesia ini lebih baik lagi.

Seperti yang kita ketahui bersama meski kerap dijatuhi saksi peristiwa ini cenderung dapat kembali terulang. Hal ini dibuktikan dengan 41 kali suporter yang telah berpulang di jagad sepak bola nasional. Nah, berkaca dari hal tersebut beberapa cara sepak bola luar agaknya bisa dicontoh untuk menjadikan bola tanah air lebih baik . Kendati butuh penyesuaian, namun cara mereka sudah terbukti ampuh untuk mengurangi arogansi suporter. Dan berikut cara kompetisi luar menghukum aksi negatif fans bola.

Mesir melakukan hukuman mati terhadap kelakuan kurang ajar suporter

Ilustrasi sepak bola Mesir [Sumber Gambar]
Jika di Indonesia hukuman mati identik dengan tersangka bom atau teroris, di kompetisi sepak bola Mesir hal semacam itu ternyata juga bisa menyasar fans bola di sana. Layaknya hukuman Qisas, mereka akan mendapatkan saksi tersebut jika melakukan hal berkaitan dengan pembunuhan orang lain. Dilansir laman Merdeka.com, beberapa suporter Tim Port Said harus merasakan hukuman mati lantaran melakukan aksi yang menyebabkan 74 orang kehilangan nyawa. Nah, apakah hukuman ini cocok diterapkan di Indonesia? bisa iya bisa tidak tergantung kebijakan PSSI juga ya sobat

Akibat insiden kematian, klub Inggris dilarang bermain di Eropa bertahun-tahun

Peristiwa heysel [Sumber Gambar]
Bagi pencinta sepak bola peristiwa Heysel tentunya menjadi insiden yang tak terlupakan. Selain menyimpan duka yang mendalam, peristiwa itu juga menjadikan puluhan orang kehilangan nyawa. Kejadian yang selalu diperingati setiap 29 Mei ini, rupanya sempat membuat sepak bola Inggris diasingkan dari hiruk-pikuk kompetisi Eropa bertahun-tahun. Melansir laman PandditFootball, seluruh kesebelasan di negara Ratu Elizsabet dihukum selama lima tahun tidak berlaga di kompetisi Eropa dan ditambah 12 bulan untuk kesebelasan Liverpool yang dianggap sebagai pelaku. Hal ini dilakukan untuk membuat suporter dari negeri tersebut tidak membuat ulah lagi. Dan hasilnya setelah peristiwa itu terjadi revolusi fans bola di sana.

Menyanyikan lagu diskriminatif suporter Inggris dihukum seumur hidup

Suporter Inggris [Sumber Gambar]
Mungkin di stadion-stadion Indonesia menyanyikan lagu bernada diskriminatif  bukanlah sesuatu yang dilarang atau akan mendapatkan hukuman. Namun berbeda jika hal semacam itu dilakukan oleh suporter  bola Inggris. Asosiasi sepak bola sana yakni FA akan memberikan saksi berat untuk mereka para pendukung yang membawakan nyanyian provokatif. Dilansir laman Republika.co.id, lantaran menyanyikan lagu rasis berbau perang dunia 1 dan 2 di pertandingan Inggris Vs Jerman di Dortmund, suporter Tim Tiga Singa divonis hukuman seumur hidup. Hukuman semacam ini rasanya juga patut diterapkan di Indonesia. Pasalnya, berawal dari hal tersebutlah bibit arogansi antar suporter bola tanah air muncul.

Boca Junior merasakan hal pedih lantaran ulah suporter kelewat batas

Fans Boca Junior [Sumber Gambar]
Selain beberapa hukuman tadi, saksi diskualifikasi juga sempat hadir di jagad sepak bola Amerika Serikat. Sebagai bentuk ketegasan menindak perilaku suporter yang melanggar aturan, hal ini sempat membuat Boca Junior meradang. Ketika itu klub Argentina ini tengah berjuang merebut gelar juara harus merasakan diskualifikasi. Perilaku suporternya yang menyemprot gas air mata pemain klub rival River Plate disebut-sebut menjadi penyebabnya. Tak hanya sanksi itu saja, klub identik dengan kostum biru ini juga menerima denda ratusan juta dan juga hukuman pertandingan tanpa penonton empat laga. Berkaca dari hal ini, apakah peristiwa terbunuhnya Haringga Sirila harusnya layak mendapatkan hukuman seperti yang diterima oleh Boca Junior?

Melihat beberapa hukuman ini, mungkin dapat dijadikan opsi untuk membuat para suporter tanah air yang berlaku anarkis kapok. Pasalnya, banyak kasus mengenai kematian fans bola tanah air yang tidak berujung sanksi berat. Bahkan menurut laman Tirto, baru ada 15 dari 19 kasus kejadian yang sudah diusut. Jadi, kendati hukuman berat adalah cara yang baik, namun kesadaran akan persaudaraan antar suporter lain pastinya jauh lebih mujarab untuk mengatasi masalah seperti ini.