Baru-baru ini jagad sepak bola Indonesia tengah berduka sedalam-dalamnya. Kematian Haringga Sirila yang dikeroyok oleh beberapa pendukung Persib hingga meninggal menjadi penyebabnya. Kisah tragis yang kembali menginjak-injak nilai sportivitas itu juga membuat sepak bola Indonesia yang minim prestasi semakin kelam. Selain itu juga mempertegas jika perdamaian antar suporter itu hanyalah hal yang semu belakang.

Berbicara mengenai suporter yang harus rela meregang nyawa di olahraga ini, Haringga Sirila bukanlah satu-satunya  korban kebiadaban fans di jagad sepak bola Indonesia. Sebelumnya, beberapa fans bola dari sekian klub tanah air juga sempat merasakan kekejaman yang sama. Bahkan beberapa kasusnya tak menemukan titik terang atau pengusutan hingga tuntas. Siapa sajakah mereka yang berpulang dengan Haringga Sirila? Mari simak ulasan berikut ini.

Imam Iswanto suporter pertama meninggal karena pengeroyokan

Ilustrasi pengeroyokan [Sumber Gambar]
Jika menilik jauh ke belakang ternyata kelakuan biadab suporter melakukan pengeroyakan sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Perilaku yang kini seperti tidak habisnya itu pertama kali menimpa salah satu suporter PSIS Semarang (Panser Biru). Dilansir laman PanditFootball, menurut data dari Litbang Save Our Soccer (SOS) nama Imam Siswanto menjadi korban pertama dari ulah pengeroyokan. Aksi biadab dilaksanakan oknum suporter The Jak itu terjadi pada 27 Mei 2001 di Stasiun Manggarai. Korban yang sebetulnya berniat menonton bola malah harus pulang tinggal nama lantaran dihajar habis-habisan.

Suporter Persib, Rangga Cipta harus berpulang setelah merayakan gol di GBK

Kericuhan suporter [Sumber Gambar]
Selain Haringga Sirila nasib apes agaknya juga menimpa Rangga Cipta. Sebagai pendukung Persib yang memberanikan datang ke markas Persija, ia harus rela pulang tanpa nyawa setelah dikeroyok oleh beberapa suporter berpakaian Persija. Kejadian yang terjadi pada medio 2012 tersebut membuatnya harus terluka sangat parah dibagian kepala. Pengeroyokan itu sendiri terjadi setelah pemuda 22 tahun ini melakukan perayaan gol Persib ke gawang Persija. Aksi lepas kontrol itu pun langsung membuatnya diketahui pendukung tuan rumah sebagai suporter rival. Alhasil, hampir semua orang yang ada didekatnya melakukan pemukulan sampai penendangan. Meski sempat polisi datang nyawanya akhirnya tak tertolong.

Muhammad Iqbal berpulang setelah bentrok di derby Yogyakarta

Bentrok suporter [Sumber Gambar]
Dalam perkembangannya tidak hanya derby Persija Vs Persib atau Arema dengan Persebaya saja yang kerap memunculkan insiden anarkis. Pertandingan antara PSS Sleman Vs PSIM Yogyakarta juga acap kali memunculkan hal-hal berujung korban jiwa. Seperti beberapa waktu lalu dalam lanjutan kompetisi Liga 2, kedua fans kesebelasan tersebut terlibat baku hantam dan memunculkan satu fans meninggal dunia. Dilansir laman Detik.com, Muhamad Iqbal menjadi nama suporter PSS yang harus berpulang. Pemuda 16 tahun ini meninggal setelah insiden bentrok yang membuatnya mengalami luka parah pada tubuhnya.

Kericuhan laga Arema Vs Persib juga hadirkan korban jiwa

Kericuhan suporter Arema [Sumber Gambar]
Selain disebabkan oleh aksi bar-bar, meninggalnya suporter juga sering sekali terjadi lantaran kejadian chaos di lapangan hijau. Mereka pada umumnya meregang nyawa lantaran terjatuh, terhimpit atau adanya kerusakan pada stadion. Khusus untuk faktor pertama tadi beberapa waktu lalu terjadi kepada pendukung Arema ketika menghadapi Persib dilanjutan Liga 1. Insiden yang hingga kini tak terlupa tersebut memakan korban Aremania bernama Dimas Duha Romli. Mengutip laman Kompas.com, pemuda 17 tahun meninggalkan dunia setelah terinjak-injak lantaran merangseknya penonton ke dalam Stadion Kanjuruhan Malang.

Away ke Solo, Micko Pratama harus kembali ke rumah tuhan

Kericuhan Bonek di Solo [Sumber Gambar]
Kisah mengenai perilaku bar-bar juga sempat membuat suporter Persebaya Micko Pratama meregang nyawa. Pria yang diketahui melakukan away atau menonton pertandingan keluar kota, dikeroyok oknum setelah menyaksikan laga Persebaya Vs PS Tira. Dilansir laman Sindonews, pemuda genap 17 tahun ini meninggal setelah mengalami luka parah di bagian kepala. Insiden yang jadi bukti jika orang-orang Indonesia sudah mulai hilang rasa kemanusiaannya.

Melihat beberapa korban jiwa tersebut agaknya slogan “Tidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa” tak pernah benar-benar diresapi oleh suporter sepak bola di Indonesia. Jika hal semacam itu terus saja berlanjut sepertinya Indonesia layak tidak gelar kompetisi sepak bola. Kendati akan banyak pengaruhnya, namun sangat biadab apabila terus membiarkan hal ini berulang.