in

Mengenal Pasthun, Suku Pejuang Taliban di Afghanistan yang Ditakuti Tentara AS

Berbagai macam konflik bersenjata yang mendera Afghanistan, membuat salah satu suku ternama di wilayah tersebut mulai angkat senjata. Terlebih, negara tersebut sempat menjadi ajang perang kepentingan dua kekuatan besar di era Perang Dingin (cold war), antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet (kini Rusia).

Salah satu suku yang terkenal adalah Pasthun, di mana mereka kemudian membentuk sebuah organisasi bernama Taliban di awal tahun 1990-an sebagai bentuk gerakan nasionalis setempat. Uniknya, kelompok ini sempat mendapat dukungan dari Amerika Serikat hingga kemudian berbalik memusuhinya.

Suku terbesar yang mendiami wilayah Pakistan dan Afghanistan

Suku yang banyak mendominasi wilayah Afhganistan dan Pakistan [sumber gambar]
Suku Pasthun yang banyak mendiami wilayah Pakistan dan Afghanistan, merupakan kelompok mayoritas di tengah keragaman suku yang ada di kota Quetta dan Kabul. Dilansir dari Roadjunky.com, mereka digambarkan sebagai orang-orang gunung yang sangat tangguh dan tetap hidup dengan memelihara budaya tradisional mereka, Pasthunwali.

Kelompok mayoritas yang banyak menjadi anggota Taliban

Banyak bergabung menjadi Taliban [sumber gambar]
Setelah pasukan Uni Soviet mundur dari Afghanistan, kelompok Taliban mulai berdiri pada tahun 1990-an di wilayah Pakistan Utara. Dilansir dari BBC.com, Gerakan ini awalnya didominasi oleh orang-orang Pashtun dan pengaruhnya mulai terasa pada musim gugur 1994. Tak lama, gerakan Taliban semakin membesar hingga mengundang perhatian AS.

Terlibat perang berkepanjangan dengan pasukan AS

Pasukan Taliban terlibat konflik dengan militer AS [sumber gambar]
Peristiwa serangan di World Trade Centre, New York September 2001, membuat AS murka dan menyalahkan Taliban karena dianggap memberi perlindungan kepada Osama Bin laden dan Gerakan Al Qaida. Segera saja, operasi militer digelar untuk menggempur Taliban mulai tanggal 7 Oktober 2001 hingga saat ini. Alhasil, Perang berkepanjangan antara pihak AS melawan Taliban selama 19 tahun itu membuat militer negeri Paman Sam mulai kelelahan.

Jenderal AS mengakui betapa sulitnya mengalahkan Taliban

Jenderal Austin Scott Miller [sumber gambar]
Menurut perhitungan Institut Watson Universitas Brown yang dipublikasikan oleh kantor berita Turki Anadolu, pemerintah AS akan menghabiskan uang sebanyak 6 triliun dolar AS atau sekitar Rp88.000 triliun untuk membiayai perang mereka di Afghanistan. “Konflik di Afghanistan tak bisa dimenangkan secara militer. Hanya bisa diselesaikan dengan solusi politik,” ucap komandan operasi NATO “Resolute Support”, Jenderal Austin Scott Miller.

Kekuatan besar yang tetap eksis hingga saat ini

Kelompok yang tetap berkuasa di atas tanah Afghanistan hingga saat ini [sumber gambar]
Begitu kuatnya dominasi Taliban hingga ini, kelompok tersebut bahkan ditawari menjadi partai politik dan mengikuti pemilihan umum di negara tersebut. Sejak konflik berkecamuk, Taliban menguasai sekitar 70% wilayah Afghanistan pada 1996 hingga kini. “Harus ada gencatan senjata, Taliban akan diakui sebagai partai politik dan proses untuk saling percaya akan terwujud,” kata Presiden Ashraf Ghani yang dikutip dari BBC.com.

BACA JUGA: Makan Tidur Bersama Bom, Inilah Kisah Horor Kondisi Desa Qezelabad di Afghanistan

Tak seperti ISIS yang banyak didominasi pejuang asing yang datang ke Suriah, anggota Taliban banyak diisi oleh orang-orang dari suku Pasthun yang sedari awal memang merupakan mayoritas di Afghanistan. Tak heran jika AS merasa kewalahan dalam menghadapi kelompok yang satu ini. Kekuasaan mereka pun tetap berlanjut hingga kini.

Written by Dany

Menyukai dunia teknologi dan fenomena kultur digital pada masyarakat modern. Seorang SEO enthusiast, mendalami dunia blogging dan digital marketing. Hobi di bidang desain grafis dan membaca buku.

Leave a Reply

Punya Aset Rp 180 Juta Lewat Saham, Supir Taksi Ini Diam-diam Meraih Sukses dan Kaya Raya

Misteri Gayatri, Perempuan Penunggu Alas Purwo yang Terkenal Paling Angker di Pulau Jawa