Di masanya, si Pitung merupakan sosok musuh bebuyutan kaum Hindia Belanda. Sebab dirinya kerap kali mencuri berbagai hal seperti barang-barang dari kapal penjajah untuk dibagikan kepada rakyat miskin. Di sisi lain, lelaki yang kerap disapa Bang Pitung itu merupakan pahlawan bagi rakyat Betawi. Pasalnya, di tengah tindasan kompeni dan kemelaratan yang menimpa, Pitung menjelma pahlawan yang menyelamatkan mereka dari kekurangan makanan.

Lantas apa yang membuat Pitung yang tak memiliki senjata begitu berani menentang penjajah yang jelas-jelas dibekali senapan beragam rupa? Ternyata, Bang Pitung menguasai seni bela diri yang cukup mumpuni hingga tak ada satupun dari kaum kolonial yang mampu menakhlukkannya. Cara kotor pun dibuat oleh kaum kolonial untuk melenyapkan Pitung. Meski Pitung telah tiada, namun silat yang ia praktikkan dulu masih tetap ada hingga sekarang. Ya, itulah Silat Marunda

Awalnya, Silat Dipelajari Pitung dari Gurunya di Daerah Kemayoran

Latihan Silat Marunda [image: source]
Sebelum menguasai ilmu silat, Pitung awalnya hanyalah anak muda biasa. Sebuah kejadian pahit dikatakan mengubah hidupnya. Konon di usia 14 tahun, Pitung yang pulang dari menjual kambing milik kakeknya dihadang sekumpulan perampok yang kemudian merebut uangnya. Merasa menyesal dan takut dipersalahkan oleh keluarganya, Pitung pun kabur ke daerah Kemayoran, Jakarta Pusat. Di kampung tersebut, Pitung bertemu dengan gurunya yaitu H. Naipin. Sejak hari itulah si Pitung akhirnya diangkat murid oleh H. Naipin dan mempelajari silat sekitar enam tahun lamanya.

Marunda, Tempat Pitung Mempraktikkan Ilmu Silatnya

Latihan Silat Marunda [image: source]
Meski lahir di daerah Rawa Belong, Si Pitung lama menetap di Kampung Marunda. Lelaki yang konon memiliki nama asli Salihoen ini memiliki tempat persembunyian di Marunda dan secara terus menerus melatih kemampuannya dalam olah kanuragan. Dua abad setelahnya Marunda sudah mengalami berbagai perubahan namun semangat juang Pitung masih melekat di hati masyarakat. Karenanya, sepeninggal Pitung pun warga Marunda terus mempelajari silat yang selalu mereka lihat dari teladannya itu.

Gerakan Silat Marunda Terinspirasi Pertarungan Monyet dan Biawak

Latihan Silat Marunda [image: source]
Berbeda dari mazhab pencak silat yang ada di nusantara, silat Marunda dikatakan terinspirasi dari perkelahian monyet melawan biawak. Sebab di masa lalu, daerah Kampung Marunda memang dipenuhi monyet yang berkeliaran di mana-mana. Sepeninggal Pitung, gerakan-gerakan ini terus diajarkan secara turun temurun hingga tetap lestari sampai saat ini.

Beberapa Ilmu Si Pitung yang Tak Mampu Dikuasai Sembarang Orang

Latihan Silat Marunda [image: source]
Selain silat Marunda, si Pitung juga dikenal memiliki ajian rawa rontek. Dengan ajian ini, Pitung tak bisa dilukai dengan benda tajam apapun. Konon, ada ritual khusus yang harus dilakukan sehingga ajian rawa rontek yang sakti mandraguna bisa dikalahkan. Tidak hanya rawa rontek, Pitung pun dikatakan menguasai ‘main pukulan’. Jurus yang mengandalkan keahlian tangan ini konon pernah digunakan Pitung untuk mengalahkan kawanan copet sekampung.

Hingga kini, banyak versi berbeda terkait cerita sejarah si Pitung dan silat warisannya. Meski begitu, tidak ada yang memungkiri bahwa Pitung adalah simbol keberanian rakyat Betawi dalam melawan penjajah dan tanda menjunjung tinggi harga diri bangsa Hal inilah yang patut diteladani oleh generasi penerus bangsa.