Bulan Maret 2013 lalu, nilai kekayaannya tercatat mencapai 8,5 miliar dolar atau sekitar Rp. 85 triliun. Namanya pun tertulis di majalah Forbes sebagai miliuner terkaya di urutan 131. Dan di Indonesia, namanya dinyatakan sebagai orang yang paling kaya. Siapa dia? Ya, siapa lagi kalau bukan Robert Budi Hartono.

Pria yang lahir dengan nama asli Oei Hwie Tjhong ini memang bukan pria sembarangan. Ia adalah anak dari seorang pengusaha rokok bernama Oei Wie Gwan. Kesuksesan pria yang lahir tanggal 28 April 1940 ini memang tak lepas dari warisan yang didapat dari sang ayah. Tapi bukan berarti ia tinggal ongkang-ongkang kaki. Untuk bisa menuju titik yang sekarang ini yang mana sangat luar biasa, Robert Budi melakukan usaha yang sangat keras.

Orang-orang mungkin hanya memandang apa yang ada sekarang, tapi dulu sosok terkaya ini memang berjuang mati-matian sehingga bisa sesukses sekarang. Lebih jauh tentang Robert Budi Hartono, berikut adalah beberapa fakta tentangnya yang sepertinya jarang diketahui.

Pada Usia 22 Tahun Sudah Diserahi Tanggung Jawab Mengelola Pabrik Rokok

Suami dari Widowati Hartono dan telah dikaruniai tiga orang putra ini memiliki perjalanan yang jatuh bangun dalam kariernya. Saat masih berusia 22 tahun, Robert Budi Hartono menerima tantangan yang besar. Ia mendapat warisan memegang pabrik rokok Djarum Gramophon. Di tahun pertama, ia sudah harus mendapat ujian yang berat. Pabriknya mengalami kebakaran hebat, bahkan sampai hampir meludeskan aset perusahaan. Usianya masih awal 20an tapi sudah harus menghadapi ujian berat. Apakah ia menyerah? Tentu tidak.

Pada Usia 22 Tahun Sudah Diserahi Tanggung Jawab Mengelola Pabrik Rokok [Image Source]
Budi dan kakaknya pun membuat terobosan. Setelah berupaya keras mencari talangan dana dan juga melakukan inovasi bisnis yang penuh perhitungan, pabrik yang hampir kolaps itu kembali dihidupkan. Dengan usaha yang terus berkelanjutan, kini produk rokok Djarum bukan cuma menguasai pasar lokal tapi juga telah berkembang dan merambah ke taraf internasional. Sungguh benar adanya bahwa usaha dan kerja keras tak akan mengkhianati hasil akhir yang didapat.

Bisnis Terus Dikembangkan ke Berbagai Sektor

Untuk bisa terus sukses, tak bisa hanya berhenti di satu tempat saja. Budi dikenal sebagai orang yang memiliki semangat melakukan ekspansi bisnis yang luar biasa. Di bawah bendera Djarum Group, Budi sudah merambah ke berbagai sektor seperti perbankan, properti, agribisnis, multimedia, elektronik, sampai ke dunia marketing. Saham bank swasta BCA pun sebagian besar dimiliki olehnya dan kakaknya Michael Bambang Hartono.

Bisnis Terus Dikembangkan ke Berbagai Sektor [Image Source]
Berawal dari perusahaan rokok kini yang kini makin menggurita, Robert Budi makin melebarkan sayap ke ranah berinvestasi. Di bidang agribisnis misalnya, 65 ribu hektar perkebunan sawit di Kalimantan Barat dimilikinya. Selain itu, banyak proyek yang juga dijalankan di bidang properti. Untuk proyek Grand Indonesia yang mencakup renovasi hotel, gedung perkantoran, pusat belanja, dan apartemen, nilai investasinya mencapai 1,3 triliun rupiah. Berbagai produk elektronik merek Polytron juga bagian dari bisnis besarnya.

Sangat Menyukai Olahraga Bulu Tangkis

Perkumpulan Bulutangkis Djarum didirikan tahun 1969 karena Budi menyukai olahraga yang satu ini. Pernah dengar atlet bulutangkis melegenda Liem Swie King? Sosok yang dijuluki “King Smash” itu awalnya ditemukan oleh Budi di lapangan bulutangkis tempat melinting kretek.

Sangat Menyukai Olahraga Bulu Tangkis [Image Source]
Liem Swie King saat itu dikenal sebagai pemuda yang berdaya juang tinggi. Dan benar saja ia berhasil menjadi atlet besar yang telah mengharumkan nama Indonesia.

Kini, Robert Budi Hartono dan kakaknya Michael Bambang Hartono merupakan sosok yang begitu luar biasa di Indonesia. Bisnis mereka berkembang ke berbagai sektor. Mereka berdua menjadi pemiliki Grand Indonesia. Selain itu, melalui Ventures Global Prima Digital, situs Kaskus yang terkenal itu dibeli. Etos kerja dan inovasi yang dilakukan oleh Robert Budi Hartono benar-benar luar biasa sekali, ya. Kira-kira kamu bisa mengikuti jejaknya nggak, nih?