Selama ini, pejabat publik atau anggota pemerintahan sering digambarkan memiliki gaya hidup mewan nan glamor. Wajar saja. Sebagai figur publik, penampilan mengkilat dan mentereng seolah menjadi hal yang wajib. Namun, hal tersebut tak berlaku pada sosok Presiden Urugay, Jose Mujica. Kepala negara berusia 83 tahun tersebut, bahkan dijuluki sebagai ‘pemimpin termiskin di dunia’.

Bukan karena harta dan jabatan yang disandangnya, Jose memilih hidup sederhana agar ia dapat hidup lebih tenang dan bergaul normal di tengah-tengah rakyatnya. Sebuah teladan langka yang kini sudah jarang terlihat di dunia politik modern. Alhasil, kisah hidupnya itu pun menuai banyak pujian. Itulah mengapa, sosok seperti Jose Mujica yang kini telah pensiun sebagai Presiden, patut dijadikan cerminan bagi perjabat kita di Tanah Air.

Berangkat dari seorang pemberontak di negaranya

Sedari muda, Jose Mujica merupakan seorang idealis yang berhaluan Marxisme. Saat itu, Ia berkeinginan untuk menghapus ideologi Kapitalis. Dagi dirinya, pemahaman tersebut hanyalah sebuah skema yang telah memperbudak manusia di bawah pemujaan harta benda. Pada 1960-an, ia bergabung dengan Gerakan Pembebasan Nasional Tupamaros (MLN-Tupamaros).

Pernah menjadi seorang gerilyawan pemberontak [sumber gambar]
Karena dianggap radikal, ia sempat tertembak sebanyak enam kali oleh Polisi dan ditahan selama 14 tahun di sebuah penjara isolasi. Hingga pada 2009 lalu, Jose Mujica akhirnya terpilih sebagai Presiden dengan meraup suara sebanyak 52% dari rakyat Uruguay.

Dikenal dekat dengan rakyat

Jika tokoh politik di Indonesia kerap melakukan blusukan demi terlihat merakyat, lain halnya dengan Jose Mujica. Bagi dirinya, masyarakat umum adalah segalanya. Hal ini tercermin dari perkataannya yang menyiratkan, bahwa tak ada perbedaan dan jarak antara politisi dan rakyat.

Dikenal dekat dengan rakyat [sumber gambar]
Ia juga berujar dapat pergi kemana saja dengan bebas tanpa perlindungan ketat karena merasa telah dilindungi oleh rakyat. Kalau tokoh di Indonesia pergi tanpa pengawalan, mungkin yang tertinggal hanyalah nama.

Saya tidak khawatir tentang itu (keamanan saya) karena saya dilindungi oleh rakyat saya.” ujarnya yang dilansir dari bbc.com.

Cara pandang Mujica tentang tindakan KKN

Bagi pria kelahiran 20 Mei 1935 ini, tindakan korupsi seperti suap menyuap merupakan perkara yang berat bagi dirinya. Selama menjabat sebagai Presiden dalam kurun waktu 20 tahun, ia mengaku telah membantu seseorang untuk mendapatkan pekerjaan.

Tetap sederhana saat bertemu dengan Obama [sumber gambar]
Itupun dengan alasan kemanusiaan dan tidak terdapat motif politis tertentu. Mereka adalah seorang pria berusia 74 tahun, yang tak lain adalah temannya dan kini telah meninggal. lainnya ialah sang sahabat yang menyandang penyakit difabel mental. Untuk kasus suap sendiri, ia memiliki pandangan lain.

Saya selalu mengatakan kepada para pengusaha: ‘Jika kalian mendengar ada pejabat yang meminta suap tetapi tidak melapor pada saya, hubungan kita akan berakhir.” ujarnya yang dilansir dari bbc.com.

Sosok Presiden yang tak tinggal dalam Istana Negara

Adalah lazim jika seorang Presiden tinggal dan menjalankan pemerintahannya di sebuah gedung khusus yang disediakan oleh negara. Namun tidak bagi Jose Mujica. Ia justru tinggal di sebuah rumah peternakan milik istrinya yang terletak di pinggiran Kota Montevideo, Uruguay.

Jose Mujica tinggal di rumah sederhana [sumber gambar]
Layaknya warga biasa, tak ada pasukan Paspampres yang terlihat berjaga di rumahnya meski Jose adalah seorang Presiden. Hanya dua orang Polisi dan seekor anjing yang bertugas mengawasi rumahnya. Ia bahkan harus bersusah payah memasak dan memenuhi kebutuhannya sendiri dengan berprofesi sebagai petani bunga krisan.

Kepala negara yang malah minus harta kekayaan

Harta yang paling bernilai selama ia menjabat sebagai Presiden adalah mobil VW kodok butut berwarna biru miliknya. Bahkan pada saat melaporkan harta kekayaannya pada negara, Jose hanya memiliki dana aset sebesar US$ 1.800 atau Rp 17,4 juta.

Harta kekayaannya hanyalah sebuah mobil [sumber gambar]
Jumlah Itupun berasal dari kendaraan miliknya seperti yang disebutkan di atas. Mobil VW Kodok lansiran tahun 1987 tersebut, bahkan sempat ditawar oleh salah seorang Syekh Arab seharga $1 juta atau Rp 12 miliar. Namun, Jose ternyata enggan melepaskan dan tetap setia memakai hingga ia pensiun sebagai Presiden.

Dekat dengan rakyat dan hidup sederhana, membuat sosok Jose Mujica menjadi inspirasi di peta perpolitikan dunia. Sudah seharusnya para pejabat dan elite politik kita di Indonesia, mencontoh teladan dari sosok tersebut. Bukan kekayaan dan ketenaran yang diinginkan warga. Melainkan kerja nyata dari para wakil rakyat yang mampu menampung aspirasi serta memahami kebutuhan mereka.