Jargon bahwa Indonesia merupakan bangsa pelaut bukanlah dongeng belaka. Selain fakta bahwa Nusantara terdiri dari gugusan pulau yang dipisahkan oleh laut, ada banyak teknologi maritim di masa lalu yang dilestarikan hingga era modern saat ini. Salah satunya adalah kapal kayu legendaris bernama KRI Dewaruci.

Selain telah mengarungi samudera ganas di seluruh penjuru dunia, KRI Dewaruci juga digunakan sebagai kapal latih bagi anggota Taruna dan Taruni muda di satuan Angkatan Laut. Tak banyak yang tahu, ada berbagai pristiwa pahit maupun manis yang mengiringi perjalanan kapal kayu ini. Meski begitu, sederet prestasi dan pengakuan dari mata internasional, mmembat sosokya saat menarik untuk ditelaah.

Berawal dari sebuah kapal rusak yang dibuat ‘setengah jadi’

Berawal dari kapa ‘setengah jadi’ [sumber gambar]
Adalah H. C. Stülcken & Sohn Hamburg asal Jerman Barat yang berjasa atas kelahiran kapal kayu kebanggan Indonesia ini. Cikal bakal KRI Dewaruci dimulai saat Angkatan Laut Indonesia hendak membeli kapal latih bagi kadetnya. Pilihan pun jatuh kepada sebuah kapal layar tipe Barquentine yang di rancang oleh Adrian Baun pada 1932. Sayang, kondisinya saat itu masih setengah jadi lantaran proses pembangunannnya terhenti karena Perang Dunia kedua meletus di Eropa. Delegasi Indonesia yang saat itu diwakili oleh Kapten Pelaut A.F.H. Rosenow dan Kapten R.M. Oentoro Koesmardjo, memutuskan untuk tetap membelinya.

Menjadi Kapal latih Taruna AAL yang legendaris

Digunakan para kadet AAL untuk berlatih [sumber gambar]
Karena bakal digunakan sebagai latihan para kadet, kapal ini kemudian dimodifikasi ulang agar sesuai untuk digunakan berlayar dengan kemiringan hingga 45 derajat. Proses pengerjaannya diawasi secara langsung oleh Kapten A.F.H. Rosenow yang menjadi komandan kapal. Dilansir dari id.wikipedia.org, kapal ini secara resmi dirancang ulang pada 1952 oleh H. C. Stülcken & Sohn Hamburg asal Jerman Barat dan meluncur secara resmi pada 24 Januari 1953. Istimewanya, seluruh awak kapal merupakan kadet Angkatan Laut yang sebelumnya dikirim belajar ke negeri Hitler itu. Merekalah yang menjadi penumpang pertama saat kapal dilayarkan kembali ke Indonesia.

Diberi nama salah satu tokoh wayang

Diambil dari tokoh pewayangan [sumber gambar]
Kapal layar tanpa nama itu akhirnya sukses berlabuh di Indonesia. Jerman Barat yang diwakili oleh Kapten Otto von Hattendorf, menyerahkannya secara resmi pada ALRI pada 2 Oktober 1953. Nama tokoh pewayangan Dewa Rutji yang kelak dikenal sebagai Dewaruci. Yang unik, kapal kayu satu ini tidak diberi nomor lambung seperti kapal perang secara umum. Penamaannya pun berubah seiring dengan kebijkaan baru di tubuh Angkatan Laut. Saat masih berstatus ALRI, kapal ini diberi nama RI Dewa Rutji. Namun saat berubah menjadi TNI Angkatan Laut, kemudian diubah menjadi KRI Dewaruci.

Kapal kayu legendaris yang sarat dengan prestasi

Prestasinya dikenal hingga mancanegara [sumber gambar]
Meski telah berusia tua, KRI Dewaruci mendapatkan nama harum di Indonesia dan mata dunia. Dilansir dari nasional.kompas.com, kapal ini telah menjelajahi 21 negara, singgah di 29 kota selama 285 hari untuk mengikuti sejumlah festival dan lomba layar. Pada bulan Juli 2010, KRI Dewaruci berhasil menyabet tiga penghargaan dalam festival The Tall Ship Race 2010 yang berlangsung di Antwerpen, Belgia. Dua di antaranya adalah kapal terbaik dalam peran parade memasuki Pelabuhan Antwerpen (The Spectacular Ship in Entering Parade to The Harbour) dan sebagai kapal yang berasal dari negara terjauh (Vessel Furthest from Home Port). Juga di Australia, kapal legendaris ini sukses merengkuh Cutty Shark Thropy saat Tall Ships Race di Australia tahun 1998.

Menjadi simbol kebangaan Indonesia di mata dunia

Jadi simbol kebangaan Indonesia di mata dunia [sumber gambar]
Keberadaan KRI Dewaruci sangat berarti bagi bangsa Indonesia. Selain tujuan utama sebagai latihan arung samudera bagi para kadet yang bernama Kartika Jala Krida, kapal ini juga digunakan untuk mengikuti sejumlah lomba internasional. Ada juga sebuah tradisi unik yang turun temurun dari para awak KRI Dewaruci. Mereka kerap melaksanakan upacara tabur bunga untuk menghormati arwah Komandan KRI Dewa Ruci yang pertama, Kapten Pelaut August Friederich Hermann Rosenow. Hal tersebut dilakukan saat kapal berlayar di selat antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Tempat di mana abu jasad sang komandan ditaburkan.

Sejarah bangsa Indonesia sebagai bangsa pelaut, semakin menguat dengan adanya KRI Dewaruci yang telah berhasil mengarungi samudera luas. Selain menjadi ‘wajah’ bagi Indonesia, keberadaannya akan kembali mengingatkan kita semua. Bahwa sejatinya kita merupakan Bangsa Pelaut seperti ucapan Bung Karno beberapa puluh tahun silam.