Kasus adanya fasilitas mewah LP Sukamiskin beberap waktu silam, sempat menghebohkan masyarakat Indonesia. Pemandangan angker nan seram layaknya sel penjahat, tak ditemukan di tempat tersebut. Beragam fasilitas mewah yang ada, seakan menggeser gambaran suram tentang rumah tahanan itu.

Ternyata, bukan hanya LP Sukamiskin yang heboh karena fasilitas mewah di dalamnya. Penjara yang terletak di Kota Depok, Jawa Barat ini juga tak kalah elitenya. Dinamakan Kampung Asimilasi Gandul, penjara ini menerapkan konsep Lapas Terbuka. Para tahanannya pun bebas beraktivitas layaknya di kehidupan biasa. Penasaran? Intip bareng yuk Sahabat Boombastis.

Penjara dengan konsep terbuka ala kos-kosan

Lapas terbuka layaknya perkampungan biasa [sumber gambar]
Lapas terbuka Kampung Asimilasi Gandul memang berbeda dengan penjara kebanyakan. Untuk ruang tahanan bagi narapidana, desainnya mirip dengan kos-kosan mahasiswa. Bangunan tersebut, mempunyai sekitar 20 kamar dengan luas masing-masing 3 x 4 meter persegi dan sanggup menampung sekitar 100 narapidana. Sayang, karena ketebatasan dana, kini lapas tersebut hanya membina 60 tahanan saja.

Rata-rata yang tinggal di Kampung Asimilasi Gandul itu 15-20 orang setiap bulannya,” ujar Kepala Lapas Terbuka Kelas II-B Wachjoe Widowati yang dilansir dari x.detik.com.

Peraturan longgar layaknya kehidupan biasa

Bebas beraktivitas di Kampung Asimilasi Gandul [sumber gambar]
Selama berada di Kampung Asimilasi Gandul, para tahanan dibiarkan bebas beraktivitas namun tetap diawasi. Seperti kamar yang tidak dikunci, bisa bertemu dengan keluarga lebih lama, dan boleh memiliki uang dengan jumlah tertentu. Bagi mereka yang muslim, akan dikawal oleh petugas saat menunaikan shalat Jum’at. Di sisi lain, narapidana dilarang membawa ponsel dan harus mematuhi aturan penggeledahan rutin secara ketat.

Kan, sudah ada aturan dari Direktorat, penggeledahan minimal satu minggu sekali. Harus kita geledah. Karena kita isinya nggak banyak, jadi kita lebih mudah memantaunya,” ujar Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan Kampung Asimilasi Gandul, Andi Oloan Sibarani yang dilansir dari x.detik.com.

Lapas ternyaman untuk narapidana khusus

Hanya untuk narapidana kejahatan umum [sumber gambar]
Bukan sembarang napi yang bisa menghuni Kampung Asimilasi Gandul. Mereka yang tersangkut kasus terorisme, narkoba, korupsi, makar terhadap NKRI, kejahatan HAM dan tindak pidana transnasional terorganisir, bukan golongan yang menghuni lapas terbuka itu. Sebaliknya, Kampung Asimilasi Gandul ditujukan bagi napi yang terjerat kasus kejahatan umum biasa dengan seleksi ketat. Salah satu syaratnya adalah wajib menyertakan penjamin, yaitu keluarga inti.

Ditujukan untuk terapi sosial bagi tahanan

untuk mereka yang telah menjalani setengah masa hukuman [sumber gambar]
Istilah ‘Asimilasi’ pada lapas terbuka Kampung Asimilasi Gandul, bertujuan untuk memberikan terapi pada tahanan. Rata-rata para penghuninya adalah mereka yang telah menjalani setengah hingga dua pertiga dari masa hukuman di lapas tertutup dan masuk ke tahap asimilasi. Istilah itu sendiri merupakan sebuah proses, di mana para napi akan dibina hingga memenuhi persyaratan tertentu. Caranya adalah dengan membaurkan mereka ke kehidupan bermasyarakat.

Terapkan sistem keamanan minimum security

Meski dibiarkan hidup bebas, para tahanan tetap diawasi sipir dengan pengawasan kemanan minimal (minimum security). Setiap napi, dijatah tinggal selama dua minggu hingga satu bulan di Kampung Asimilasi Gandul. Para sipir juga menerapkan pendekatan individu (personal approach) untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri narapidana atas kepercayaan yang telah diberikan lapas. Meski demikian bebas, belum pernah terjadi peristiwa narapidana melarikan diri dari lapas.

Dirancang dengan tingkat keamanan minimalis [sumber gambar]
Kalau kabur, mereka kan ada risikonya. Kalau kabur, dua pertiganya dia menjalani masa pidananya tanpa ada remisinya. Mereka (di sini) pada dasarnya tinggal menunggu hari (bebas),” pungkas Andi Oloan Sibarani yang dilansir dari x.detik.com.

Meski suasananya bebas dan terkesan mirip kos-kosan, lapas tersebut hanya bisa dirasakan oleh kalangan terbatas dengan seleksi ketat. Senyaman dan seenak Kampung Asimilasi Gandul, tetap saja itu adalah penjara bagi pelaku kejahatan. Mending jangan masuk ya Sahabat Boombastis.