in

7 Fakta Kekejian Dr. Azahari, Teroris yang Akhirnya Merenggut Nyawa di Peluru Walet Hitam

Bagi masyarakat Indonesia, nama Dr. Azahari adalah sebuah catatan bahwa terorisme merupakan musuh bersama. Lihai merakit bom, pria kelahiran Malaysia ini membuat korban jiwa bertumbangan. Bikin negara ini dalam situasi darurat, sekaligus menyematkan ketakutan ke seluruh masyarakat.

15 tahun berlalu sejak Dr. Azahari dan kelompoknya berhasil ditumpas di Batu, Jawa Timur. Meski tinggal sejarah, sosok ini tak boleh dilupakan begitu saja. Sebuah pelajaran untuk anak bangsa supaya tidak pernah lengah terhadap terorisme. Berikut adalah fakta-fakta menarik tentang Dr. Azahari, dari awal perjalanan hidupnya hingga tewas tertembus pelor panas.

Sosok terpelajar yang memilih pemahaman radikal

Dr. Azahari yang berhasil dibekuk di Batu, Jawa Timur. [sumber gambar]
Dr. Azahari bin Husin lahir di Malaysia, 14 September 1957. Pria berkacamata ini sempat tinggal dan mengenyam pendidikan di Australia. Setelah sukses mendapatkan gelar Ph.D dari Universitas Reading, Inggris, Dr. Azahari membagikan ilmunya sebagai tenaga pengajar di Universitas Teknologi Malaysia. Nasib mempertemukannya dengan pemimpin-pemimpin radikal dan mengenal terorisme. Bahkan ia melatih kemampuan merakit bom di Afghanistan.

Menebarkan ketakutan lewat serangan bom di berbagai penjuru Indonesia

Bali setelah diguncang bom tahun 2005. [sumber gambar]

Dr. Azahari berubah menjadi momok bagi masyarakat Indonesia. Bersama kelompoknya, pria ini melakukan serangkaian serangan bom. Mulai pengeboman Konsulat Filipina di tahun 2000, Bom Bursa Efek Jakarta, Bom Malam Natal, Bom Plaza Atrium, Bom Gereja Santa Anna dan HKBP, Bom Bali, Bom Bandar Udara Soekarno-Hatta, hingga Bom JW Marriott tahun 2003.

Penyergapan kelompok Dr. Azahari selalu gagal

Dr. Azahari buronan paling dicari di Indonesia. [sumber gambar]
Polri bukannya berdiam diri. Berkali-kali rencana penyergapan dilakukan, namun selalu gagal. Salah satunya adalah penyergapan Dr. Azahari dan pentolan teroris lainnya, Noordin M. Top, di Jakarta, tahun 2004. Meski lolos, Polri berhasil menemukan serpihan yang diduga merupakan sisa-sisa bahan peledak Bom Kedubes Australia.

Tak mau kecolongan lagi, Dr. Azahari terus dikejar Polri

Densus 88 [sumber gambar]
Banyaknya korban jiwa yang bertumbangan membuat Polri tak patah semangat. Pengejaran terus dilakukan, hingga akhirnya Tim Densus 88 Antiteror Polri mengendus jejak Dr. Azahari di Kota Batu, Jawa Timur. Sebuah rumah di Jalan Flamboyan A1 Nomor 7, dicurigai menjadi markas dadakan Dr. Azahari dan kelompoknya. Demi rencana penyergapan, tiga vila di sekitar rumah persembunyian Dr. Azahari disewa. Untuk pengintaian, para petugas pun menyamar sebagai masyarakat biasa, mondar-mandir di depan rumah tersebut.

Operasi penangkapan yang menegangkan

Densus 88 [sumber gambar]
Setelah dipastikan target berada di dalam rumah tersebut, Polri mendatangkan Crisis Response Team (CRT) Walet Hitam. Segalanya serba rahasia. Bahkan setelah landing di Bandara Abdurrahman Saleh, pesawat pengangkut langsung “diseret” ke dalam hanggar. Tujuannya supaya kedatangan tim pemukul ini tidak menarik perhatian siapa pun.

Terungkap sudah siapkan banyak bom untuk aksi teror berikutnya

Ilustrasi ledakan bom teroris [sumber gambar]
Satu peristiwa menarik terjadi sebelum penyergapan. Salah satu murid Azahari, sekaligus target, bernama Cholily terdeteksi meninggalkan rumah persembunyian. Beruntung, pria ini berhasil ditangkap di Demak, Jawa Tengah. Diketahui bahwa dirinya sedang dalam perjalanan menuju Semarang. Dari dia pula, terkuak fakta bahwa kelompok Dr. Azahari sedang menyiapkan bom dalam jumlah banyak.

Pertempuran hidup mati, dari pagi hingga sore hari

9 November 2005, pagi yang damai berubah menjadi kekalutan bagi warga Perumahan Flamboyan, Batu. Rentetan tembakan dan ledakan terdengar saling bersautan. Salah satu tim intelijen terluka setelah kakinya tertembus timah panas. Situasi darurat memaksa tim CRT untuk segera diturunkan. Kelompok Azahari tak mau menyerah begitu saja. Beberapa bom dilemparkan ke arah petugas namun dengan sigap tim sniper menembak dan meledakkan bom di udara.

Puing rumah bekas kontrakan Dr. Azahari [sumber gambar]
Salah satu tim penyerbu mendapatkan kesempatan untuk melumpuhkan pria berbahaya ini. Dor! Satu letusan tembakan diikuti dengan suara terjerembab mengakhiri perjalanan Sang Perakit Bom. Dr. Azahari. Ia ditemukan tewas bersama salah satu anggotanya bernama Arman. Dikabarkan bahwa selain jasad Dr. Azahari, terdapat pula 40 bom yang siap diledakkan. Andaikan operasi penyergapan ini tidak sesuai rencana, korban terorisme di negeri ini bakal bertambah banyak.

BACA JUGA: 3 Terduga Teroris Ditangkap Densus 88, Warga Kaget karena Selama Ini Dikenal Jadi Orang Baik

Begitu banyak daftar kekejian yang telah dilakukan oleh Dr. Azahari dan kelompoknya. Sebuah sejarah yang harus selalu diingat bagi generasi muda. Radikalisme adalah sumbu yang sangat berbahaya. Tak hanya memantik kerugian bagi diri sendiri, tapi juga orang lain.

Written by Bayu Yulianto

Steven Setiono, Belanja Mingguan Bisa sampai 30 Juta tapi Suka Makan di Pinggir Jalan

5 Fakta Kematian Gabby Petito, Keliling AS dengan Pacar hingga FBI Turun Tangan