Belitan kemiskinan, terkadang membuat manusia nekat berbuat apa saja demi terbebas dari belenggu tersebut. Namun, hal itu tak berlaku bagi sosok Dewi Yuliawati. Berangkat dari keluarga sederhana, ia berusaha bangkit dari keterpurukan ekonomi itu dengan mengantungkan cita-citanya menjadi seorang atlet.

Sempat diminta menjadi TKW oleh kedua orang tuanya, Dewi pun akhirnya bersyukur karena tak jadi memenuhi hal tersebut. Berkat prestasinya pada cabang olahraga dayung, Dewi yang sukses lolos ke Olimpiade Brasil ewat jalur kualifikasi pada nomor Single Sculls (W1X), akhirnya bisa menatap masa depannya dengan kepala tegak. Meski demikian, lika-liku perjuangan hidupnya sebelum menjadi atlet sangat menguras air mata.

Tinggal berhimpitan dalam gubuk di kawasan Muara Angke

Ilustrasi gubuk muara angke [sumber gambar]
Di sebuah gubuk 3×3 meter, Dewi Yuliawati tinggal berdesak-desakan dengan orang tua dan delapan anak-anaknya. Petak kecil tersebut, perlahan terasa longgar setelah beberapa penhuninya berkurang. Tiga saudara Dewi diketahui telah meninggal dunia dan sebagian lainnya telah menikah. Ia sendiri lebih banyak tinggal di asrama pelatnas dayung, di Pengalengan, Jawa Barat sejak awal tahun 2016. kedua orang tuanya bahkan kerap mudik ke kampung halamannya di banding tinggal di sana.

Emak dan bapak sudah lebih sering di kampung karena ada rencana relokasi Muara Angke. Kalau ada rencana kumpul bareng kami ke sana,” kata Dewi yang dilansir dari sport.detik.com.

Jalan terjal menjadi seorang atlet dayung

Sempat ditentang kedua orang tua [sumber gambar]
Saat Dewi masih duduk di bangku kelas 1 SMP, seorang alumni sekolahnya mengajak dirinya untuk berlatih dayung bersama pelajar lain di Pusat Pembinaan Latihan Pelajar Daerah (PPLPD) DKI Jakarta. Sayang, hal tersebut justru ditentang oleh kedua orang tuanya karena khawatir dirinya yang tak bisa berenang bisa tenggelam. Namun, Dewi tetap kukuh terhadap cita-citanya menjadi seorang atlet dayung profesional.

Sempat menjadi buruh pengupas kerang agar bisa latihan

Ilustrasi buruh pengupas kerang [sumber gambar]
Kendala lain yang dihadapi Dewi saat berlatih di Ancol adalah transportasi. Dilansir dari sport.detik.com, ongkos angkutan umum Muara Angke-Ancol pulang pergi dibayar dengan tarif pelajar. Hal ini ternyata menjadi hal yang rumit bagi Dewi. Karena tak mungkin meminta ongkos pada kedua orang tuanya, ia kerap berjalan kaki atau mencari tebengan saat pulang. Dewi bahkan nekat bekerja sebagai buruh kupas kerang hijau dengan upah Rp 5 ribu dengan volume hingga setengah drum minyak tanah.

Kalau kerjaan enggak keburu, saya minta teman yang sama-sama latihan buat nalangin ongkosnya dulu. Kalau enggak ya nebeng,” ucapnya yang dilansir dari sport.detik.com.

Derita Dewi yang sempat membuatnya hampir menyerah

Ada suatu masa, di mana Dewi sempat terpuruk dan hampir menyerah. Selain ia dirayu kedua orang tuanya agar menjadi seorang TKW, Dewi juga dihadapakkan persoalan sulit saat ayah dan ibunya jatuh sakit. Praktis, ia langsung menjadi tulang punggung keluarga pada saat itu. Padahal, ia masih ingin melanjutka sekolah dan cita-cita sebagai atlet. Beruntung, kedua guru sekolah Dewi akhirnya berinisiatif membiayai pendidikannya. Dengan syarat ia harus tetap giat berlatih dayung. Saat latihan pun, dirinya sempat kesetrum kabel milik PLN. Beruntung, ia selamat dan kondisinya semakin membaik dari hari ke hari.

“Saya senang dan bangga, Dewi kondisi semakin membaik, semangat terus untuk dapat segera mengikuti Pelatnas kembali, dan terus mengejar mimpi kibarkan merah putih di Asian Games,” kata Menpora Imam Nahrawi yang dilansir dari kemenpora.go.id.

Prestasi Dewi yang bahagiakan kedua orang tuanya

bahagiakan kedua orang tua lewat prestasinya [sumber gambar]
Tantangan demi tantangan yang datang, membuat semagat Dewi kian membara. Dilansir dari sport.detik.com, Ia sukses menjadi wakil Indonesia ke Olimpiade Rio lewat jalur kualifikasi pada nomor Single Sculls (W1X). Dewi juga tercatat sebagai mahasiswi semester 5 jurusan PGSD di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Selain itu, ia kini dapat mengirim uang bulanan kepada kedua orang tua di kampung halaman.

Emak dan Bapak juga bisa lebih santai pulang kampungnya karena saya bisa kirim uang bulanan buat mereka,” ucap Dewi yang dilansir dari sport.detik.com.

Luar bisa memang perjuangan Dewi di atas. Meski berangkat dari keluarga sederhana dengan segala keterbatasan yang ada, hal tersebut malah menjadi pengungkit sukesnya di masa depan. Dari berbagai persitiwa yang ia alami, kita bisa belajar. Seburuk apapun kondisi yang terjadi pada diri kita, percayalah, hal tersebut adalah salah satu proses agar kita menjadi lebih matang di masa depan. Jangan menyerah, itulah kuncinya.