Oleh Tuhan Sang Pencipta, manusia diberi kelebihan berupa akal untuk memaksimalkan kemampuannya. Dengan hal itulah, mereka bisa menentukan pencapaiannya selama hidup di dunia. Entah menjadi sukses atau malah sebaliknya. Agaknya, kisah ini ada pada sosok Dato Sri Tahir. Pahitnya masa kecil tak mengurungkan niatnya untuk sukses di masa depan.

Bahkan, namanya kini masuk dalam jajaran orang terkaya menurut majalah kenamaan, Forbes. Seolah bertolak belakang dengan kesuksesannya hari ini, Dato Sri Tahir ternyata sempat hidup susah di sebuah rumah kontrakan bersama keluarganya. Putra seorang penyewa becak ini, melewatkan sebuah episode perjuangan masa kecilnya yang menarik untuk diambil hikmahnya.

Berjuang dalam kesusahan hidup di masa kecil

Pernah hidup susah saat kecil [sumber gambar]
Dato Sri Tahir mengawali kisahnya dalam sebuah keluarga kecil yang tinggal di sebuah kontrakan kecil. Untuk menyambung hidup, Ayah dan Ibunya menyewakan becak kepada orang lain. “Saya itu dari Surabaya, dulu rumah saja kontrak. Saya lahir rumahnya kontrak, sampai umur 20 tahun rumahnya masih kontrak di Surabaya. Lebar rumah saya berapa kira-kira 3,5 meter atau 4 meter sama panjang. Orang tua saya kerjaannya sebagai penyewa becak,” ujar pria kelahiran 26 Maret 1952 yang dilansir dari finance.detik.com.

Menapaki suskes secara perlahan

Menapaki sukses sebagai pengusaha [sumber gambar]
Berawal dari kesukesan berbisnis garmen, Tahir muda mencoba peruntungan di usaha yang lain. Mayapada Group pun berhasil ia dirikan pada 1986. Tak dinyana, Bisnis barunya itu sukses besar dan merambah ke berbagai bidang seperti dealer mobil, perbankan hingga kesehatan. Hingga pada tahun 1990, usahanya di bidang keuangan melaju pesat. Tahir pun secara perlahan mulai meninggalkan bisnis garmen yang pernah digelutinya dahulu. Bahkan saat Indonesia dihajar oleh krisis moneter 1998, eksistensi bank Mayapada tetap kokoh dan tak terpengaruh dengan kondisi saat itu. Perlahan, Dato Sri Tahir mulai menancapkan kukunya di panggung bisnis Indonesia.

Gurita bisnis raksasa yang membuat dirinya kaya raya

Sukses di banyak bidang bisnis [sumber gambar]
Dilansir dari tirto.id, Dato Sri Tahir kini menjadi CEO untuk beberapa usahanya yang bergerak di bidang. Seperti PT Zuruch Topas Life (Zurich Insurance Group), Asuransi Sompo Japan Nipponkoa Indonesia, Duty Free Shoppers Indonesia, Mall Bali Galeria,PT Topas Multi Finance, Bank Mayapada, Bali Regent Hotel danTahir Faundation. Dilansir dari forbes.com, Tahir dinobatkan oleh majalah ekonomi tersebut sebagai orang terkaya nomor 8 dengan kekayaan sebesar 3,5 Miliar Dollar AS.

Senantiasa teringat akan masa kecilnya yang susah

Tetap ingat kenangan masa kecil [sumber gambar]
Meski telah sukses dan memiliki harta melimpah, Tahir selalu terngiang akan kenangan susahnya semasa kecil. Ia juga tak lupa akan asal usulnya sebagai anak seorang penyewa becak. Yang mengharukan, ia masih menyimpan foto-foto masa lalunya saat duduk di atas becak milik orang tuanya. Semua pengalaman itulah yang menempa diri Tahir hingga ia bisa menapaki kesuksesan seperti saat ini.

Sosok pengusaha dermawan yang peduli pada orang lain

Bekerja sama dengan yayasan Bill & Melinda Gates [sumber gambar]
Pada 2014 silam, Dato Sri Tahir mendirikan Tahir Foundation. Di mana ia menghibahkan dana sebesar Rp 8,5 miliar dalam bentuk lima unit bus untuk Pemda Jakarta. ia juga kerap menyumbangkan uang untuk mendukung pelayanan kesehatan, pendidikan dan reformasi hukum. Dilansir dari tirto.id, Tahir juga menyumbang hingga USD 200 juta kepada Bill & Melinda Gates Foundation untuk mengatasi masalah kesehatan di Indonesia. Sebagai informasi, gelar Dato’ Sri yang disandangnya, merupakan pemberian dari Sultan Pahang Malaysia atas kontribusinya menyelesaikan sebuah permasalahan antar perusahaan di negeri Jiran tersebut.

Meski telah bergelimang harta benda, Dato’ Sri Tahir ternyata tak pernah lupa akan masa lalunya yang hidup susah. Uang yang melimpah, tak membutakan dirinya untuk senantiasa berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Inilah sikap yang patut diteladani oleh siapa saja yang ingin sukses. Karena dengan berbagi, seseorang bisa meraih kekayaan materi maupun rohani.