in

Daeng Koro, Gembong Teroris Indonesia yang Sempat Menjadi Calon Pasukan Khusus TNI

Siapapun yang hendak membuat kekacauan di NKRI, resiko kehilangan nyawa adalah harga yang pantas untuk diterima. Terlebih, jika mereka termasuk sebagai penjahat kelas berat. Hal inilah yang menimpa sosok Daeng Koro. Gembong teroris yang paling diburu penegak hukum di Indonesia. Selama menjadi buronan negara, ia sukses menumbal nyawa aparat kepolisian dan warga sipil.

Dilansir dari nasional.kompas.com, Daeng Koro adalah seorang ahli strategi lapangan bagi kelompok radikal Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Ia juga diidentifikasi telah beragabung dengan jaringan kelompok teror Poso yang dipimpin oleh Santoso. Daeng Koro ternyata bukanlah orang sembarangan. Ia ternyata pernah menjadi anggota TNI AD sebelum akhirnya dipecat. Sepak terjangnya sebagai pengacau keamanan, membukitkan dirinya layak disebut sebagai teroris berbahaya.

Dulunya anggota aktif TNI AD

Sempat menjadi anggota TNI AD [sumber gambar]
Pria kelahiran Bantu, DIY Yogyakarta pada 1963 ini, merupakan anggota TNI AD yang aktif berdinas. Sebagai Tentara, ia justru aktif menjadi atlet voli bagi kesatuannya. Pada 1982, Daeng Koro sempat berdinas di salah satu Grup Kopassus yakni Pasukan Sandi Yudha (Koppasandha) sebagai calon komando (cako). Sayang, ia dinyatakan gugur karena tidak berhasil memenuhi kualifikasi sebagai prajurit khusus. Hal ini dijelaskan langsung oleh Kepala Pusat Penerangan Kopassus, Mayor Inf Achmad Munir yang dilansir dari news.detik .com.

Pada saat menjalani seleksi Komando, Daeng Koro tidak lulus seleksi karena hasil tes jasmani tidak memenuhi syarat sebagai prajurit Komando kemudian dia ditampung di Denma Cijantung selama 4 tahun,” ujarnya.

Dipecat karena kasus pelanggaran berat

Ilustrasi dipecat dari TNI [sumber gambar]

Gagal menjadi pasukan khusus, Daeng Koro kemudian dipindahkan ke Kariango untuk menjadi anggota Brigif Linud 3/TBS Kostrad dan menjadi tim TC voli pada 1987. Sialnya, ia harus berurusan dengan hukum militer karena terjerat kasus asusila di tahun 1988. Ia pun harus meringkuk di Rumah Tahanan Militer (RTM) selama 7 bulan. Pengadilan militer pun memecat dirinya dengan tidak hormat pada 1992, dengan pangkat terakhir sebagai Kopral Dua (Kopda). Daeng Koro pun akhirnya memilih untuk jalan sebagai seorang teroris.

Bergabung dengan Santoso dan diangkat menjadi komandan lapangan

Daeng Koro bergabung dengan kelompok Santoso [sumber gambar]
Daeng Koro tercatat telah melakukan aksi terorisme sejak tahun 2000. 12 tahun berselang, ia kemudian bergabung dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin oleh Santoso. Pengalamannya sebagai prajurit militer TNI AD di masa lalu, membuatnya diangkat sebagai komandan lapangan. Daeng Koro kerap ditunjuk sebagai pelatih dan ketua pelaksana beberapa kegiatan tadrib asyakari (latihan militer) kelompok MIT yang berlokasi di sekitar wilayah Sulawesi.

Sepak terjang sebagai gembong teroris yang paling dicari

Ilustrasi kelompok teroris [sumber gambar]
Dalam beraksi, Daeng Koro termasuk sosok yang sadis. Tak hanya mengincar nyawa aparat penegak hukum, warga sipil yang tak berdosa pun dibabatnya habis jika melawan. Di antaranya adalah, pembunuhan dua anggota Polisi, Briptu Andi Sapa dan Brigadir Sudirman di pegunungan Tamanjeka, Poso pada Selasa 16 Oktober 2012. Mayat keduanya ditemukan dengan kondisi luka gorok dan dikubur dalam satu lubang. Aksi yang kedua, Daeng Koro diduga melakukan penembakan terhadap warga sipil di Dusun Tamanjeka. Beruntung, tak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Tewas ditangan Densus 88 Anti Teror

Daeng Koro tewas di tangan Densus 88 [sumber gambar]
Tanggal 3 April 2015, menjadi akhir dari perjalanan Daeng Koro sebagai pentolan teroris. Ia tewas setelah sempat terlibat kontak sejata dengan Detasemen Khusus Anti Teror (Densus 88) di pegunungan Sakina Jaya. Dalam isnsiden yang berlangsung dalam satu jam itu, Polisi berhasil menyita dua telepon genggam, GPS, dua pucuk M-16, satu senjata rakitan dan sebuah bom lontong. Berdasarkan tes DNA yang dilakukan dirilis pada 8 April 2015, mayat yang terlibat baku tembak itu positif merupakan jenazah Daeng Koro.

Miris memang. Pengalaman sebagai mantan prajurit TNI AD, disalahgunakan oleh Daeng Koro. Padahal, ia tergolong mempunyai bakat sebagai atlet voli. Namun, nasi telah menjadi bubur. Semua sudah terlambat untuk disesali. Kisah di atas menunjukan, bahwa yang namanya kekerasan dalam bentuk terorisme, bakal dibenci masyarakat dan disikat habis oleh negara. Ambil hikmahnya aja deh Sahabat Boombastis.

Written by Dany

Menyukai dunia teknologi dan fenomena kultur digital pada masyarakat modern. Seorang SEO enthusiast, mendalami dunia blogging dan digital marketing. Hobi di bidang desain grafis dan membaca buku.

Leave a Reply

Insiden Miris Anggota Paskibraka Saat 17an

Kimberly Ryder Akan Menikah dengan Keponakan Tamara Bleszinsky, Netizen: Potek Hati Abang Dek