Selama ini Presiden Jokowi terkenal karena sosoknya yang jarang marah. Berbeda dengan pidato yang beredar beberapa waktu lalu. Di depan banyak wartawan dan staf negara, Jokowi tampak marah besar perihal impor cangkul dan pacul.

Jokowi bahkan dengan tegas mencibir keuntungan yang didapat oleh negara yang mengekspor cangkul tersebut. Melansir dari cnnindonesia.com, berdasar pada data Bank Indonesia, current account deficit/CAD per kuartal II 2019 mencapai US$8,4 miliar atau 3 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Lebih lengkapnya simak dalam ulasan berikut ini ya!

Data BPS terkait impor cangkul

Jokowi marah tentang impor cangkul [sumber gambar]
Sepanjang tahun 2019, impor cangkul yang dilakukan oleh Indonesia sebesar USD 93.155 atau setara Rp 1,3 miliar (kurs Rp 14.000) dengan berat sekitar 210.505 kg. Menurut BPS nilai tersebut tidak begitu besar, mengingat memang Indonesia sudah ketergantungan sejak tahun 2016 lalu. Bahkan, Kementerian Perdagangan ketika itu sudah memberikan izin untuk melakukan impor kepada  kepada PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero).

Impor cangkul yang dilakukan dari China

Cangkul Cap Crocodile [sumber gambar]
Total izin impor cangkul ini diberikan 1,5 juta unit. Untuk negara yang mengeskpor sendiri adalah China. Melansir kumparan.com, kegiatan impor cangkul dilakukan karena produksi dalam negeri tak mampu menutup kebutuhan yang sangat besar. Kebutuhan cangkul di dalam negeri menurut data Kementerian Perindustrian mencapai 10 juta unit per tahun. Terkait hal ini Kementerian Perindustrian sudah memberikan tugas untuk PT Krakatau Steel Tbk dan beberapa PT lain untuk terus memaksimalkan peran industri penghasil cangkul di Indonesia. Ya, agar kita enggak impor terus dong.

Mengapa negara memilih untuk impor?

Cangkul impor lebih murah [sumber gambar]
Nah, ternyata memang ada alasan di balik impor yang dilakukan ini. Selain industri penghasil cangkul di Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan terkait cangkul, harganya juga lebih murah cangkul impor dari China. Sesuai dengan yang ditulis oleh kumparan.com, ada beberapa pedagang yang dulunya memakai cangkul Cap Ayam (China), tetapi sekarang sudah tak ada lagi stoknya. Untuk cangkul selain Cap Ayam (salah satunya merk Stamvick) per cangkul dihargai 57.500 tanpa gagang. Untuk membeli gagang setidaknya harus merogoh kocek dari Rp 15.000 sampai Rp 20.000.

Kalau produksi terus digenjot, kita bisa kok pakai cangkul produksi lokal

Hariyadi Sukamdani [sumber gambar]
Terkait dengan masalah ini, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ikut berkomentar. Menurut ketua umunya, Hariyadi Sukamdani, Indonesia sangat bisa kok kalau mau produksi cangkul di dalam negeri, sehingga tak lagi mengandalkan impor. Karena cangkul ini sendiri merupakan benda yang low technology, bukan seperti smartphone atau elektronik lain. Selain itu, Dirjen  Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih segera menyetop impor cangkul. Ia dan pihaknya juga sedang menggenjot pembuatan bahan baku cangkul. Salah satu PT yang ditunjuk adalah PT Indo Baja yang ada di Jawa Timur.

BACA JUGA: Miris 7 Barang Impor ini Seharusnya Bisa Dihasilkan Sendiri Oleh Indonesia

Karena cangkul ini merupakan benda yang low technology, Indonesia pasti bisa kok lebih gigih dalam produksi, sehingga tak lagi butuh impor dari luar negeri. Mari kita majukan produk anak bangsa. Semoga ke depan petani bisa memakai cangkul made in Indonesia ya!