Tak banyak tokoh di Indonesia yang bisa memberikan ceramah bernuansa keagamaan yang diberi sentuhan-sentuhan seni. Salah satunya adalah sosok Emha Ainun Nadjib atau kerap disapa Cak Nun. Pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 ini, dikenal lewat grup masyarakat Maiyah-nya dan kesenian musik gamelan Kyai Kanjeng.
Berkat hal tersebut, masyarakat kini seolah memiliki oase pemikiran di tengah-tengah carut marutnya keadaan Indonesia, karena sikap salah kaprah dalam memaknai suatu kejadian.

Meski berbeda dengan seniman kebanyakan, dirinya sukses memberikan warna tersendiri di di tengah-tengah warga. Pembahasan tentang politik, agama, kultur sosial hingga permasalah hidup, berhasil dikemas secara khas dengan lantunan seni musik. Bagaimana lika-liku kehidupannya? Simak ulasan berikut.

Sosok budayawan yang pernah hidup menggelandang

Cak Nun sempat hidup menggelandang di luar negeri [sumber gambar]
Dilansir dari caknun.com, Budayawan kelahiran Jombang ini sempat hidup menggelandang hingga di Negeri Kincir Angin dan beberapa negara Eropa pada tahun 1984. Selama dua bulan, Cak Nun hidup terlunta-lunta tanpa uang sepeser pun bersama temannya. Seorang penyair asal Amerika Serikat yang menjadi imigran gelap di Belanda. Untuk bertahan hidup, dirinya mengandalkan barang bekas sisa yang dibuang ke dalam tempat sampah. Benar-benar suatu perjalanan hidup yang kelak mempengaruhi karakter Cak Nun dikemudian hari.

Pernah berguru pada sosok seniman misterius Indonesia

Umbu Landu Paranggi pernah jadi guru bagi Cak Nun [sumber gambar]
Umbu Landu Paranggi, merupakan salah satu seniman Indonesia yang memberikan pengaruh yang luas terhadap perjalanan hidup Cak Nun. Sosok tersebut, dianggap sebagai tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia sejak 1960-an. Dirinya menjadi tokoh dan panutan bagi penyair seperti Eko Tunas, Linus Suryadi AG, dan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. Yang unik, Umbu Landu kerap bepergian alias menggelandang sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain adalah naskah-naskah puisi koleksinya.

Punya istri mantan penyanyi ternama dan anak vokalis band

Cak Nun dan istri, Novia Kolopaking [sumber gambar]
Cak Nun diketahui beristrikan Novia Kolopaking, seorang mantan penyanyi papan atas tanah air. Ia juga memiliki seorang putra bernama Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe, yang dikenal sebagai vokalis dan seniman musik dari grup band Letto. Sebelumnya, ia pernah menikah dengan seorang wanita yang bernama Neneng Suryaningsih pada tahun 1985.

Jadi salah satu seniman yang ikut menyaksikan tumbangnya Soeharto

Cak Nun (kemeja biru) saksikan jatuhnya rezim Soeharto [sumber gambar]
Saat terjadi chaos politik pada Mei 1998, Cak Nun menjadi salah satu anggota dari Dewan Sembilan yang menghadiri pidato pengunduran diri Presiden Soeharto di Istana Merdeka. Dari transformasi sistem Orde Baru ke Reformasi inilah, dirinya kemudian memutuskan untuk melakukan pendidikan politik ke masyarakat melalui gerakan sholawat. Gamelan Kyai Kanjeng pun hadir dan setia menemaninya blusukan di tengah-tengah masyarakat.

Berkolaborasi dengan masyarakat dalam balutan kesenian

Cak Nun bersama masyarakat dalam acara Maiyah [sumber gambar]
Lewat komunitas Maiyah yang artinya gotong royong, Cak Nun berusaha membaur dan merangkul masyarakat di berbagai tingkat sosial dan golongan. Kini, Maiyah terbagi di beberapa kota besar Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jombang yang menjadi induk kegiatan, bernama Masyarakat Padhang Bulan. Di Jogjakarta, komunitas ini dinamakan Mocopat Syafaat, di Jakarta bernama Kenduri Cinta, di Semarang bernama Gambang Syafaat, di Surabaya bernama Bang Bang Wetan, di Banyumas bernama Juguran Syafaat, dan masih banyak lagi. Ada banyak tema yang dibahas pada acara tersebut. Mulai dari sisi keagamaan, politik, kehidupan, hingga isu-isu sosial yang terjadi pada masyarakat.

Cak Nun, adalah sosok Budayawan yang lekat dengan kehidupan sosial di masyarakat. Bahkan, terkadang tata bahasa yang digunakan dalam setiap acara, kerap menjadikan kita salah persepsi dengan apa yang telah diutarakan. Sepak terjangnya di tengah-tengah masyarakat, memberikan nuansa tersendiri. Terutama bagi mereka yang haus akan seni dalam berpendapat. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?