Kehidupan yang dijalani oleh manusia terkadang memiliki sisi-sisi supranatural yang penuh dengan misteri. Terutama soal dimensi-dimensi yang menjadi tempat tinggal saat ini. Keberadaannya yang saling berdampingan, kemudian memunculkan sebuah benda bernama Catatan Akashic (Akashic Records), yang dipercaya menjadi penyimpan rahasia alam semesta.

Karena mencakup alam semesta, catatan yang ada merangkum semua kejadian yang ada di jagat raya ini. Seperti awal terbentuknya dimensi seperti ruang, waktu, dan makhluk hidup( manusia, hewan, dan tumbuhan). Kepercayaan adanya catatan akashic ini berkembang dari kaum filosof-teologis (teosofi) Samkhya di India, yang meyakini adanya sebuah sumber yang merekam semua kejadian di alam semesta.

Sosok Sadghuru yang dikenal sebagai pakar Akhasic [sumber gambar]
Para pemikir (filosof) tersebut bersandar pada teori atom, yang kemudian berkembang dan menjadi dasar pemikiran Catatan Akashic. Bisa dibilang, hal ini disebut juga memori alam. Sebuah penyimpanan superbesar yang merangkum seluruh entitas di jagad raya dan lintas dimensi, yakni alam gaib, ruh, dan lainnya. Catatan Akashic pun menjadi sebuah teori yang menarik perhatian dari kalangan pemikir di Eropa pada abad 19 hingga abad 20.

Nama Akashic diambil dari bahasa Sansekerta ‘Akasha’ yang berarti “perpustakaan tersembunyi”. Untuk mengakses catatan ini tentu tak mudah karena harus melalui pikiran alam bawah sadar yang dibuka melalui meditasi. Tak heran jika Catatan Akashic dulu diakses oleh bangsa-bangsa kuno dari berbagai suku, seperti India, Moor, Tibet, Himalaya, Mesir, Persia, Arab, Yunani, Cina, Ibrani, dan Maya.

Ilustrasi Akashic Records [sumber gambar]
Penganut teosof sekaligus spiritualis terkenal asal Rusia yang bernama Madame Helena Petrovna Blavatsky, merupakan sosok yang getol terhadap proses pencarian Catatan Akashic. Bahkan, bahasa Sansekerta ‘Akasha’ disebut-sebut berasal dari pemikirannya. Pendiri Theosophical Society di New York pada 17 November 1875 itu mencirikan Catatan Akashic sebagai semacam kekuatan hidup yang mencatat masa lalu, masa depan, pemikiran dan tindakan manusia.

Catatan Akashic juga banyak dideskripsikan oleh para pemikir dari Barat yang kemudian dituangkan dalam bentuk karya tulis. Linda Howe dalam bukunya, How to Read The Akashic Records (2006) menuliskan, bahwa catatan tersebut dianggap menawarkan pemberdayaan dan transformasi yang memberikan kebijaksanaan , bimbingan, serta dukungan berharga yang di perlukan sepanjang kehidupan manusia.

Ilustrasi meditasi [sumber gambar]
Penulis lainnya, Michael Newton dalam bukunya yang berjudul Journey of Souls, Destiny of Souls, Evidence of Life between Lives (1994), menjabarkan bahwa tulisannya dapat membantu seseorang memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai keabadian jiwa manusia. Ini artinya, pembaca akan mula memahami sebab-sebab di balik peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan.

Ini artinya, para penulis di atas mencoba memberikan pendekatan terhadap pembaca, agar memikirkan Catatan Akashic dalam sebuah imajinasi yang tepat. Ada yang menganggapnya sebagai pusat informasi seperti ‘perpusatakaan besar’, ada pula yang menyebut sebagai ‘pangkalan data’. Jika kita mencoba mengetikkan kata kunci ‘akashic records’ di YouTube, akan muncul puluhan video yang menyajikan proses meditasi untuk ‘menuju’ ke sana.

BACA JUGA: Ngebleng, Ritual Puasa Ekstrem Ala Jawa yang Katanya Bisa Bikin Sakti

Ini artinya, Catatan Akashic atau Akashic Records tersebut dapat diraih dengan cara meditasi, memusatkan pikiran alam bawah sadar, menjalani ritual keagamaan dengan benar, dan membersihkan jiwa atau batin agar mencapai kesadaran spiritual tertinggi. Hal inilah yang diyakini banyak orang bisa menjadi cara atau jalan untuk mengakses Catatan Akashic. Nah, kamu tertarik mencoba Sahabat Boombastis?