Dari sekian cabang olahraga (cabor) mewakili Indonesia di Asian Para Games 2018, acungan jempol agaknya patut diberikan untuk kontingen bulutangkis. Di saat masyarakat belum bisa move on dengan pembukaan ajang tersebut mereka tiba-tiba sudah persembahan emas saja. Hal ini tentu menjadi kabar yang bagus lantaran meneruskan tradisi cabang ini yang kerap mengharumkan nama Indonesia di event olahraga manca.

Hafidzh Briliansyah dan kawan-kawan sendiri memperoleh hasil bagus tersebut setelah menggebuk atlet dari negara tetangga. Mereka tampil menawan dengan sukses catatkan hasil dua kali menang dan sekali kalah. Perolehan ini menjadi bukti jika keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk seseorang bisa berprestasi. Lantas seperti apakah kisahnya mereka? Simak di ulasan berikut ini.

Meski harus susah payah, Malaysia akhirnya berhasil ditaklukkan

Aksi pebulutangkis Indonesia [Sumber Gambar]
Sebagai kontingen yang memiliki kemampuan hampir berimbang, emas yang didapatkan oleh putra bangsa di cabor ini bisa dibilang tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Hafidzh Briliansyah cs dipaksa dag dig dug sampai babak ketiga lantaran kemenangan di laga pertama berhasil disamakan oleh pebulutangkis Negeri Jiran Cheah Like-Hairul Saba. Pasangan Malaysia tersebut menang dengan skor 10-21 dan 17-21 atas Hary Susanto-Hafidzh Briliansyah. Tapi, kebangkitan atlet Malaysia itu tidak berjalan lama, pasalnya setelah hasil bagus itu perwakilan mereka harus tumbang atas pebulutangkis Indonesia Dheva Anrimusthika lewat 2 set langsung.

Atlet sempat jadi korban kecelakaan jadi penentu

Dheva Anrimusthika [Sumber Gambar]
Seperti yang telah diungkapkan tadi, Dheva Anrimusthika menjadi tokoh utama di balik perolehan emas Indonesia. Ia mengalahkan pebulutangkis Negeri Jiran yakni Mohammad Fariz Ahmad Azri di babak penentuan dengan skor 21-6 dan 21-12. Torehan ini seperti menjadi buah dari kegigihannya dan kerja kerasnya setelah alami kecelakaan parah tahun 2013. Kala itu ia sampai harus keluar meninggalkan olahraga ini lantaran tangan kanannya tidak berfungsi normal. Tapi seperti tidak pernah patah arang, ia terus saja berusaha hingga mendapatkan hasilnya seperti saat ini.

Meneruskan trend positif emas di kejuaraan sebelumnya

Pebulutangkis Asian Para Games 2014 [Sumber Gambar]
Selain jadi bukti orang berkebutuhan khusus tidak boleh dipandang sebelah mata, hasil ini juga melanjutkan trend positif cabor bulutangkis di kejuaraan manca. Dilansir laman Kompas.com, torehan medali emas tersebut menjadi pengulangan untuk mereka setelah Asian Para Games 2014 lalu. Kala itu lewat Ukun Rukaedi dan Herru Sunanto Indonesia sukses meraih medali emas. Hasil baik juga menjadi gambaran jika apapun kejuaraannya cabor satu amatlah bisa mengukir cerita positif. Bahkan tak jarang jadi penyegar dari keringnya prestasi atlet olahraga lain yang jadi wakil Indonesia.

Menjadikan nama Indonesia bertengger di posisi ke 6

Indonesia nomor satu [Sumber Gambar]
Lewat torehan emas pertama ini terlihat Indonesia kini berada di posisi 6 klasemen umum Asian Para Games 2018. Hingga saat tulisan ini ditulis negara kita mengumpulkan tiga medali emas, empat perak, dan 5 perunggu. Torehan tersebut sedikit membukakan peluang untuk Indonesia mencapai targetnya. Dilansir laman Detik.com, Indonesia menargetkan menjadi nomor tujuh di kejuaraan ini. Berkaca dari faktor tuan rumah dan potensi atlet kita, agaknya target tersebut bukan sebuah kemustahilan untuk bisa dicapai.

Melihat beberapa ulasan tadi tidak salah memang jika setiap kejuaraan multi event cabor bulutangkis selalu menjadi andalan sumbang medali. Kendati bukan olahraga warisan leluhur, tapi seenggaknya lewat atletnya nama Indonesia terus saja harum di dunia. Besar harapan mereka mampu torehkan hasil lebih bagus dari pada Asia Games 2018.