“Kalau jalan menuju sukses yang tersedia hanya angkat besi, ya sudah jalani saja”. Begitulah ungkap Eko Yulianto seperti mengutip laman Tirto.id. Sebagai seorang lifter angkat besi bisa dibilang ia  merupakan atlet yang hebat. Beberapa kejuaraan dunia olahraga tersebut berhasil direbut medalinya. Paling baru adalah mendali Asian Games 2018 yang juga berhasil disikatanya. Hal yang juga semakin mengukuhkannya sebagai rajanya di olaharaga ini.

Namun, di balik kegemilangan yang ditorehkan oleh Eko Yulianto ada sebuah perjuangan yang bisa dibilang jauh dari kata enak dahulunya. Tidak terlahir dari keluarga mampan membuat masa kecilnya harus dilalui dengan perjuangan keras. Hari-harinya harus dibagi antara belajar di sekolah, menggembala kambing, dan berlatih. Meski sulit, namun semangatnya tak pernah padam, hingga akhirnya bisa berjaya layaknya sekarang ini. Seperti apakah kisah perjalanan atlet satu ini? Untuk mengetahuinya simak ulasan berikut.

Eko Yulianto sekolah dan membantu kehidupan keluarga

Ilustrasi Eko Yulianto berlatih [Sumber Gambar]
Seperti yang sudah disinggung pada bagian pembuka tadi, keluarganya yang sederhana membuat masa kecilnya banyak dilalui dengan perjuangan. Bahkan harus membagi waktunya untuk menggembala kambing dan bersekolah. Kedua orang tuanya pun, juga harus banting tulang untuk tetap bisa menjamin kelangsungan hidup. Sungguh menjadi perjuangan yang bisa dibilang tidaklah mudah. Kambing-kambing yang didapatkan tersebut, adalah bantuan suadaya dari tetangganya. Lewat hewan tersebut ia mendapatkan sedikit pemasukan untuk membantu ekonomi keluarganya. Namun, kendati harus menggembala, ia tidak pernah melupakan kewajibannya untuk menuntut ilmu di sekolah.

Kebaikan tetangga menjadi jalan baik tuhan untuknya

Ilustrasi Eko Yulianto mengembala Kambing [Sumber Gambar]
Dalam mengarungi kehidupan masa kecil yang sederhana, selain kedua orang tuanya, tetangga di sekitarnya juga memiliki peran, lantaran sering mengulurkan tangan. Seperti ungkapnya pada laman Tirto.id, Eko Yulianto mengatakan apabila tetangganya tersebut merupakan orang yang baik. Selain kambing tadi, kediaman yang ditempatinya saat masih kecil juga berdiri diatas tanah milik tetangganya. Lantaran baik, keluarga Eko Yulianto tidak pernah ditarik uang sewa sepeser-pun selama bertempat di sana. Kondisi semacam ini juga seperti penanda apabila uluran bantuan dari tuhan berupa tetangga tersebut.

Sempat bermimpi menjadi pemain sepak bola

Sempat memimpikan menjadi seorang pesepakbola [Sumber Gambar]
Kebiasaannya yang menggembala sembari membunuh waktu dengan bermain sepak bola, sempat membuat pria asal lampung berkeinginan menjadi seorang pesepakbola. Namun setelah dipikir-pikir, biaya untuk menggeluti olahraga tersebut yang dirasa biayanya mahal. Sebab, harus membanyar banyak hal, mulai dari peralatan sampai biaya latihan. Kondisi tersebut akhirnyya membuat Eko mengurungkan niat untuk jadi pemain bola. Tidak berjodohnya ia terhadap sepak bola, akhirnya membuat Eko dipertemukan oleh sang pencipta dengan angkat besi. Berawal hanya melihat latihan para lifter, akhirnya ia ikut menggelutinya dengan modal sepatu sekolah yang ia miliki.

Juara angkat besi nasional menjadi kompetisi mengubah hidupnya

Aksi eko di ajang Olimpiade [Sumber Gambar]
Semakin bergelut dengan olahraga satu ini, Eko rupanya makin menyukainya. Hal yang juga menjadikannya semakin jago. Akhirnya pada sebuah kejuaraan nasional tingkat remaja dirinya sukses pulang dengan kalungan medali emas. Sebuah prestasi yang bisa dibilang perlahan merubah kariernya di angkat besi. Setelah berpindahnya tempat latihan ke Parungpanjang tahun 2002, kemampuan perlahan terus meningkat. Hingga pada tahun 2006 sukses membuatnya membuka pintu pelatnas (pelatihan atlet nasional) untuk dimasuki. Setahun setelah hal tersebut ia kembali sukses merengkuh gelar angkat besi dunia junior kelas 56 kg.

Perjuang kerasnya berbuah beragam medali di kejuaraan dunia

Eko dan emas Asian Games 2018 [Sumber Gambar]
Setelah beragam rintangan dalam mengembangkan karier bisa dilewati. Eko Yulianto terus meningkat kehebatannya, hingga sanggup meraih beberapa gelar angkat besi di beragam kejuaraan. Selain emas Asian Games 2018 beberapa hari lalu, ia juga persembahkan medali dari ajang olimpiade dan SEA Games. Kala berlaga di Olimpiade, ia menjadi salah satu atlet yang sanggup meraih tiga medali dalam tahun kejuaraan yang berbeda. Dimulai tahun 2008 dan 2012 medali perunggu, berlanjut tahun 2016 dengan raihan perunggu. Sedangkan untuk SEA Games ia meriah emas pada tahun 2017 yang lalu.

Apa yang dijalani oleh Eko Yulianto adalah bukti apabila hanya dengan kerasnya, manusia dapat mengubah nasibnya. Saat ini dirinya seperti telah memanen buah dari kerja kerasnya dahulu. Raihan gelar juara d Asian Games 2018 beberapa hari lalu pun semakin membuat ia layak disebut raja olahraga satu ini. Semoga ia tidak cepat untuk puas diri, agar karier terus meroket.