Menjadi seorang pemimpin bukanlah urusan yang gampang. Seorang pemimpin harus mampu memimpin dengan baik dan juga adil. Ia juga harus rela mengorbankan kepentingannya sendiri demi rakyatnya.

Memang susah menemukan pemimpin yang sempurna, karena pemimpin juga seorang manusia. Sebagai manusia tentunya masih bisa berbuat kekhilafan, bukan? Namun, kalau khilaf sudah berlebihan rasanya pemimpin tersebut nggak patut kita jadikan panutan.

Salah satu pemimpin yang mungkin kurang pantas kita jadikan panutan adalah Idi Amin Dada. Pernah dengar namanya? Yup, dia adalah salah satu diktator kejam dari Uganda.

Lika-liku Kehidupan Idi Amin yang Keras Sejak Kecil

Idi Amin lahir dari keluarga yang tak berada. Sejak kecil ia sudah mengalami kerasnya hidup dengan ibunya sebagai petani. Tanpa pendidikan yang memadai, Idi Amin masuk ke dalam koloni pasukan Inggris sebagai asisten koki. Dari sanalah karier kemiliteran Idi Amin dimulai.

Idi Amin memegang senjata [image source]
Kemudian ia ikut dalam pasukan ke Burma saat perang dunia ke-2 meletus. Pada tahun 1949 Idi Amin dikirim ke Somalia untuk memerangi pemberontakan Shifta. Ia kemudian ikut berperang bersama Inggris melawan pemberontakan Mau Mau di Kenya pada tahun 1952 – 1956. Selama bergabung dengan koloni Inggris, Idi Amin berhasil menarik hati para perwira. Hal itu membuatnya mendapat penghargaan Afande, yaitu pangkat tertinggi tentara Afrika dan menjadi komandan pasukan bersenjata.

Dipercaya Memimpin Pasukan Militer Uganda

Melihat kiprahnya di bidang militer yang menjanjikan, perdana menteri Milton Obote bekerja sama dengan Idi Amin untuk memperkuat militer Uganda. Mereka menyelundupkan gading dan emas dari Kenya yang ditukar dengan senjata. Pada tahun 1966, parlemen Uganda meminta penyelidikan atas kasus penyelundupan tersebut.

Idi Amin memegang bazooka [image source]
Untuk menghindar dari tuduhan tersebut, Obote membuat konstitusi terbaru dan mengangkat dirinya sendiri sebagai presiden. Kemudian ia memerintahkan Idi Amin untuk menggulingkan Raja Mutesa yang saat itu menjabat sebagai presiden. Raja Mutesa akhirnya mengasingkan diri ke Inggris, sementara Idi Amin diangkat menjadi kolonel dan komandan militer Uganda oleh Obote.

Sebagai komandan militer, Idi Amin mulai merekrut pasukan dari etnis Kakwa, Lugbara, Sudan Selatan, dan Nil Barat. Namun rupanya, perekrutan yang dilakukan Idi Amin tersebut malah membuat hubungannya dengan Obote renggang. Apalagi kelompok yang direkrut oleh Idi Amin tersebut telah melakukan pemberontakan dan mencoba membunuh Obote pada tahun 1969.

Menjadi Presiden Uganda Melalui Kudeta

Obote mengambil alih militer Uganda pada tahun 1970 dan menurunkan jabatan Idi Amin. Tak terima dengan hal tersebut serta tahu bahwa ia akan dipenjarakan karena kasus dana militer, Idi Amin melancarkan kudeta pada 25 Januari 1971 saat Obote berada di Singapura. Idi Amin membongkar kebobrokan Presiden Obote. Kemudian pada tanggal 2 Februari 1971 ia mengangkat dirinya sebagai presiden Uganda ke-3.

Idi Amin dilantik sebagai presiden Uganda [image source]
Masa pemerintahan Idi Amin diwarnai dengan hal-hal yang sensasional. Di awal permerintahannya, ia membantai etnis non muslim Lango dan Acholi. Ia menganggap kedua etnis tersebut berbahaya bagi pemerintahannya, karena mereka pendukung Obote. Selain membantai kedua etnis tersebut, Idi Amin juga mengebom kota Tanzania.

Pemerintahan Idi Amin yang Kejam dan Kacau Balau

Selama pemerintahan Idi Amin, pembunuhan karena etnis terus berlangsung. Korban jiwa atas kekejian ini diperkirakan mencapai jumlah puluhan hingga ratusan ribu di Uganda. The International Commision of Jurists memperkirakan pembunuhan mencapai angka 80 ribu, tapi Amnesty International mencatat angka pembunuhan 500 ribu.

Salah satu eksekusi yang dilakukan Idi Amin [image source]
Di segi keamanan, Idi Amin mengubah General Service Unit (GSU) menjadi State Research Bureau (SRB). SRB bermarkas di Kampala dan bertugas menciduk siapa saja yang ketahuan melawan rezim Idi Amin. Sebuah tempat bernama Nile Mansions Hotel menjadi lokasi penyiksaan mereka yang ditangkap.

Idi Amin juga melakukan perubahan di segi ekonomi. Ia mengusir sekitar 60 ribu jiwa orang Asia dari Uganda dengan maksud kemerdekaan sebenarnya bagi masyarakat Uganda, padahal saat itu 90% perdagangan di Uganda dikuasai oleh orang Asia. Akibatnya Uganda mengalami krisis ekonomi.

Hidup Dalam Pengasingan Hingga Akhir Hayat

Selama Idi Amin memimpin, keadaan Uganda kacau balau, sehingga Komisi Hukum PBB menyebut Uganda adalah negeri tanpa hukum. Pada akhirnya banyak pihak yang tak lagi memihak pada Idi Amin.

Idi Amin dan salahs atu istrinya [image source]
Banyak prajurit yang melarikan diri ke Tanzania. Karena hal tersebut, Idi Amin menuduh presiden Tanzania Julius Nyerere ingin menguasai Uganda. Pada Januari 1979 Nyerere menyerang Idi Amin. Serangan tersebut berhasil memukul mundur Idi Amin dan pasukannya. Ia mencari suaka ke Libya hingga tahun 1980 dan kemudian ke Saudi Arabia. Di sanalah ia meninggal karena penyakit pada tahun 2003.

Suatu negara yang memiliki pemimpin diktator tak akan pernah menjadi maju dan makmur. Sebaliknya, negara tersebut kacau dan akan sering muncul peperangan. Namun, selama masyarakat turut serta berperan aktif dalam mencegah terpilihnya pemimpin diktator, negara akan terhindar dari kerusakan.