Punya pohon super besar dan tinggi, tapi buahnya super kecil. Yuph, apalagi kalau bukan buah kersen. Di beberapa daerah, si kecil yang punya rasa manis ini juga disebut ceri. Hayo, siapa yang jaman dulu kerap manjat buah ini? Hampir semua anak pasti suka dengan buah kersen. Bukan cuma karena rasanya yang manis, sensasi manjat pohon besar juga jadi petualangan yang menggembirakan.

Memang sih, sampai saat ini pohon buah kersen masih mudah dijumpai. Tapi keadaan tentu nggak sama lagi. Di pinggir-pinggir jalan, sepertinya jarang ada anak-anak yang memperjuangkan buahnya. Beda banget dengan tahun-tahun sebelumnya. Buat mengenang masa kecil kita yang bahagia, berikut ini sedikit ulasan tentang buah kersen, salah satu buah legendaris yang bikin kita tertawa di masa lalu.

Mendapatkan buah sekecil ini penuh perjuangan

Manjat buah kersen [image source]
Meski buahnya kecil, untuk mendapatkannya juga butuh berjuangan yang nggak sedikit. Pasalnya, pohon buah ini begitu tinggi. Walhasil, untuk dapetin cemilan yang mantap dinikmati siang-siang ini kudu rela manjat pohonnya yang tinggi. Buat kalian anak-anak angkatan 90-an, merasa lucu nggak sih kalau dulu sempet memperjuangkan buah sekecil ini dengan mati-matian? Pernah mikirin risiko jatuh dari pohon? Pastinya nggak pernah, karena yang kelihatan saat itu cuma si kecil berwarna merah melambai-lambai di atas pohon. Ih, padahal pohonnya yang tinggi itu bahaya banget.

Meski buahnya kecil, tapi kandungannya besar

Buah kersen kecil [image source]
Siapa sangka jika buah kersen yang sekecil kelereng itu punya kandungan yang menakjubkan? Mungkin memang masih ada hubungannya, kenapa anak kecil zaman dulu itu kebal meski suka main hujan-hujanan seharian. Hal itu berkaitan dengan hobi manjat buah kersen yang punya kandungan gizi yang nggak main-main. Misalnya saja vitamin C yang jumlahnya 80,5 mg, jumlah tersebut jauh lebih besar dari mangga yang hanya sekitar 30 mg. Selain vitamin C, si kecil merah ini juga punya kandungan kalsium sebanyak 124,6 mg, sedangkan mangga hanya 15 mg. Nggak nyangka ya, buah yang ukurannya sebesar benjolan bisul itu bisa punya kandungan yang melampaui mangga.

Pohonnya yang besar itu nyaman banget buat berteduh

Pohon buah kersen [image source]
Bukan cuma rasa manis buah kersen yang banyak disukai anak-anak, bahkan pohon besarnya juga nyaman banget buat berteduh. Selain rindang, pohon ini juga nggak butuh perawatan khusus. Kemampuannya hidup emang patut diacungi jempol. Tentu kalian kerap menjumpai pohon ini di tepi-tepi jalan raya kan? Yoi, tanpa ada yang menyiramnya tiap hari, pohon ini masih bisa tumbuh dengan baik dengan dedaunan lebat, menyumbangkan oksigen yang melimpah dan tentu saja buahnya merah-merah.

Bermanfaat sebagai obat tradisional

Buah kersen bermanfaat [image source]
Apapun ciptaan Tuhan memang punya manfaat yang luar biasa. Selain enak dinikmati, buah kersen ternyata punya manfaat luar biasa bagi kesehatan. Salah satunya untuk mengobati asam urat. Buah ini bisa dijadikan obat tradisional yang ampuh. Caranya sederhana, hanya dengan memakan sebanyak 9 butir buah kersen tiga kali sehari, dan terbukti manjur untuk mengurangi rasa nyeri akibat asam urat. Selain buahnya, daun buah ini juga berkhasiat menurunkan panas demam. Rebusan air daun kersen juga bisa membunuh mikroba berbahaya dan bisa digunakan sebagai antiseptik.

Saat ini sudah banyak dijual, tapi mahal

Buah kersen dijual online [image source]
Kalau di zaman kecil dulu, kita bisa leluasa memetik buah penuh manfaat ini gratisan. Kapanpun pengen, kita bisa nyemil langsung di atas pohon. Tapi, zaman modern ini, buat kalian yang mulai ‘malu’ jika memetik buah ini di pinggir jalan, masih bisa kok menikmati kersen dengan cara beli. Buah ceri-cerian ini dijual di beberapa toko online di Indonesia. Memang sih, harganya terbilang mahal. Untuk 100 gram buah kersen dipatok dengan harga 30 ribu rupiah. Tapi, tentu saja harga tersebut sesuai dengan manfaat yang didapatkan dari buah kecil ini ya.

Sebenarnya, buah satu ini punya rasa yang nggak kalah enak dengan yang lain. Selain itu, manfaatnya juga luar biasa. Kalau kalian anak angkatan 90-an, tentu bisa ngerasain betapa bahagianya manjat pohon ini. Jadi pengen balik ke masa lalu, deh.