Masa anak-anak yang seharusnya diisi dengan hal-hal yang menyenangkan seperti belajar dan bermain, rupa-rupanya tak dirasakan betul oleh sosok Juwadi. Bocah 15 tahun asal Dukuh Malibari, Desa Ngargoloko, Kecamatan Ampel, Boyolali, Jawa Tengah ini rela menjadi buruh aspal serabutan untuk menghidupi ibu dan empat orang adiknya.

Terlebih setelah kepergian sang ayah yang bernama Mitro Slamet (63), praktis dirinyalah yang kini menjadi tulang punggung keluarga. Tinggal di sebuah rumah dengan segala keterbatasannya, Juwadi dibantu oleh adik almarhum ayahnya, Sendet (56) dan warga sekitar. Terutama bila kekurangan makanan.Tak hanya itu, ruangan yang ia tempati bersama dengan ibu dan ke-empat adiknya pun sangat sederhana.

Juwadi yang harus bekerja keras demi menopang kebutuhan keluarganya [sumber gambar]
Dikutip dari laman wiken.grid.id, rumah sederhana itu tak banyak memiliki perabotan dan bahkan tidak dilengkapi sarana pra sarana seperti ruang tamu maupun kamar mandi. Di sana, Jumadi tinggal di kamar tidur yang dihuni satu keluarga. Ruangan ini sekaligus menjadi satu dengan dapur untuk memasak sehari-hari. Menurutt Sender, kondisi keluarga Mitro Slamet memang sangat kekurangan.

“Juwadi yang masih bocah bantu jadi buruh aspal dan dari kecil tidak sekolah,karena itu buta huruf dan tidak bisa membaca” ujarnya seperti yang dikutip dari laman TribunSolo.com. Sutinem sang ibu bahkan tidak bisa bekerja lantaran menderita keterbelakangan mental. Tak hanya itu, Jumadi juga harus menanggung kehidupan adik-adiknya seperti osidi (14) yang masih SMP, Suwarno (10) duduk di bangku SD, Ajeng (6) akan masuk TK, dan yang paling bontot ada Siti Utari yang baru berusia 2,5 tahun.

Rumah sederhana peninggalan ayah Juwadi dan salah satu ruangannya di dalam [sumber gambar]
Melihat realita yang ada, Juwadi memilih untuk menjadi buruh aspal dan tidak bersekolah demi kelangsungan pendidikan adik-adiknya. “Juwadi sendiri itu susah ngomong kayak celat, dia kerja bantu proyek aspal dan dari kecil tidak sekolah,” kata Sendet. Praktis, hanya Juwadi seorang yang menopang kebutuhan rumah tangga dari keluarga sederhana tersebut. Sendet yang merupakan adik dari ayah Juwadi, juga turut mengawasi mereka. Yang menggembirakan, keluarga Juwadi dikabarkan telah mendapat bantuan PKH dari pemerintah.

BACA JUGA: Sekolah Sambil Jualan Bakso, Beginilah Perjuangan Bocah SD Melawan Kerasnya Kehidupan

Alangkah malunya jika masih saja sering mengeluhkan tentang hidup, atau bahkan lupa bersyukur akan nikmat yang kita peroleh setiap hari. Kisah Jumadi di atas, bisa menjadi cerminan, bahwa masih ada dari mereka yang mungkin nasibnya kurang beruntung dan memiliki masalah lebih pelik yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya ya Sahabat Boombastis.