Sebagai olahraga yang banyak digandrungi, sepak bola selalu menyimpan hal menarik di dalamnya. Salah satunya mengenai perdamaian atau persatuan yang selalu dihadirkannya. Dalam sepak bola sendiri perbedaan (agama, ras, dan suku) bukanlah suatu masalah apabila ingin bermain olahraga ini. Asal mampu menendang bola atau terlibat aktif mereka sudah bisa memainkannya.

Hal tersebutlah yang akhirnya membuat banyak pemain yang tanah kelahirannya berkonflik tetap bisa jadi satu bagian di sepak bola. Seperti kisah salah satu kapten Israel yang ternyata memiliki agama Islam. Israel sebagai basis orang Yahudi memang terkenal sering memiliki konflik dengan beberapa negara Islam. Namun hal tersebut tidak menghalangi Bibras Natkho untuk diterima menjadi bagian dari Timnas Israel. Terus seperti apa kisahnya? Simak ulasannya sebagai berikut.

Menjadi seorang Muslim pertama yang ada di tim negeri bintang daud

Muslim di Timnas Israel [Sumber Gambar]
Bibras Natkho, pastinya menjadi nama yang masih asing di telinga para pencinta bola. Namun, siapa sangka kehadirannya di Timnas Israel kini membuat banyak orang mengenalnya. Hal ini terjadi lantaran Natkho merupakan pemain muslim pertama di Timnas Isreal. Memulai debut tahun 2010, Natkho tidak langsung mampu tampil gemilang, sering kali dirinya juga duduk di bangku cadangan. Baru pada tahun 2012 pemain CSKA Moskow ini mampu menorehkan gol saat melawan Azerbaijan. Bahkan namanya tidak pernah tergantikan di lini tengah Timnas Negeri Bintang Daud tersebut.

Menjadi pemimpin Timnas Israel di kejuaraan sepak bola dunia

Kapten Israel [Sumber Gambar]
Selalu bermain reguler di setiap pertandingan Timnas Israel, membuat Natkho menjadi fenomena yang langka. Hal ini karena belum banyak orang yang mampu melakukannya. Sebagai seorang minoritas kiprah Natkho di Timnas juga bisa dikatakan luar biasa. Lantaran dirinya diberikan kepercanyaan untuk memimpin Timnas Bintang Daud tersebut. Kedewasaan dan keahliannya mengontrol emosi disebut-sebut menjadi alasan kenapa dirinya kini ditunjuk sebagai pemegang ban kapten. Kondisi ini menjadikannya sebagai pemimpin tim muslim pertama yang ada di kesebelasan Isreal.

Menjalankan mandat dari sang ayah untuk jadi pemimpin

Persembahan untuk mediang Ayah [Sumber Gambar]
Bibras Natkho, bukan orang yang memiliki darah sepak bola. Kemampuannya olah bola di olahraga ini diperoleh dari tetangganya. Melalui bantuannya orang samping rumahnya itulah, pria 27 tahun bisa debut di kompetisi sepak bola Israel bersama Hapoel Tel Aviv FC. Lalu berkat perkembangan bakat hebatnya ia kini bisa membela negara. Meski bukan keturunan pesepakbola ayahnya juga memiliki peran penting terhadap karirnya. Bahkan jabatan kapten yang diterimanya sekarang berkat menjalankan mandat sang ayah. Dilansir laman Bolasport ayahnya mengatakan apabila pria ini harus mampu jadi pemimpin di setiap tempat ia berada.

Merupakan seorang muslim yang taat dan mencintai perdamaian

Bibras Latihan [Sumber Gambar]
Sebagai seorang muslim satu-satunya di Timnas Israel tidak membuat Natkho terkucilkan di tim. Meski berbeda dirinya mengatakan apabila rekan-rekannya tidak pernah mempermasalahkan itu. Bahkan saat dirinya ditunjuk sebagai kapten banyak yang memberikan selamat. Menjadi minoritas tidak membuat Bibras Natkho, melupakan kewajibannya sebagai Islam. Dilansir dari Liputan 6 meski berada di tengah-tengah kaum Yahudi, dia berpegang teguh dengan Agama yang disebarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya itu saja, pria 27 tahun juga melakukan puasa setiap tahun dan tidak pernah melewatkan waktu salat.

Bermain di salah satu kesebelasan besar kompetisi tertinggi Rusia

CSKA MOSCOW [Sumber Gambar]
Selain bermain bagus di Timnas Bibras Natkho, juga memiliki karir gemilang bersama klub besar Rusia. Tercatat sudah empat tahun dirinya memperkuat CSKA Moscow. Sebagai bagian dari kesebelasan hebat Rusia itu, Natkho sudah merasakan beberapa gelar liga domestik. Bahkan melalui beberapa aksinya tim berkostum merah dan biru ini meraih kemenangan. Lantaran kehebatannya dalam mengolah bola dirinya sering disamakan dengan legenda Barcelona Xavi Hernandes.

Kisah Bibras Natkho pastinya menunjukkan pada kita semua sisi lain dari olahraga ini. Sepak bola yang dimainkan oleh 22 orang ini dengan sistem persaingan tinggi, ternyata bisa menjadi alat untuk perdamaian. Lalu apa kabar dengan dendam antar suporter tanah air? Harusnya kita mampu mencontoh hal seperti di atas agar bisa bersama-sama majukan sepak bola tanah air.