Memahami Makna dan Kerasnya Realita, Ketika Kita Beranjak Tua

oleh Norman Duarte
06:39 AM on Dec 18, 2016

Setiap dari kita akan mengalami tua (kecuali yang mati muda). Serem ya rasanya membayangkan. Kulit mengeriput, pandangan mata kabur, gigi tanggal, tubuh melemah, hingga akhirnya usia kita berakhir. Tidak banyak orang yang mau memikirkan hal ini, karena bagi mereka masa muda masih panjang.

Tapi sungguh, waktu berjalan sangat cepat. Saat bersekolah kita seolah ingin cepat dewasa. Biar bisa keluar dari rumah. Hidup mandiri, bebas lepas dari aturan orang tua. Tapi akhirnya kita sadar bahwa kita justru sangat merindukan rumah. Merindukan orang tua dan saudara-saudara.

Baca Juga
10 Ilustrasi Ini Bikin ‘Kids Zaman Now’ Sadar Bahwa Perbuatannya Sungguh Merugikan
5 Daerah di Indonesia Ini Berhasil Cetak Wanita Cantik dan Berpendidikan Tinggi, Jomblo Masuk

Perlahan-lahan kita tumbuh. Memasuki dunia kuliah yang penuh warna. Mengalami hidup sebagai anak kost. Mengenal cinta. Bahkan mengenal hal-hal terlarang yang selama ini selalu membuat penasaran.  Waktu seolah-olah berhenti saat kita kuliah. Suka cita anak muda memang berada di saat-saat ini. Uang saku dan biaya hidup masih ditanggung orang tua, tapi kita hidup bebas lepas.

Yang selamat, kuliahnya lancar. Yang bermasalah, kuliahnya molor. Yang tidak beruntung, kuliahnya terputus. Ketika masa kuliah selesai, maka kita memasuki dunia orang dewasa: dunia kerja.

Tidak banyak orang yang menyadari hal ini karena merasa masa muda masih panjang [image source]
Inilah masa di mana, orang tua tak dapat lagi menolongmu. Saat sekolah dan kuliah, jika ada masalah, orang tua mungkin bisa membantu. Tetapi di dunia kerja, kau adalah milikmu sendiri. Segala resiko, susah, perjuangan, beban, menjadi milikmu seorang.

Kau lalu menyadari, mencari uang ternyata tidak gampang.

Hidup mandiri ternyata tidak mudah.

Kau pun kemudian menyadari, hidup adalah tentang perjuangan.

Di saat kuliah, uang sakumu habis untuk bersenang-senang. Di saat sudah bekerja, kau akan memikirkan untuk menabung, bayar cicilan, bayar kontrakan, dan lain-lain.

Di saat kuliah, kau merasa kuat, tampan atau cantik. Di saat telah bekerja, kau menyadari bahwa semua itu tidaklah cukup untuk membuatmu menjadi manusia. Dulu, kau merasa tidak akan pernah tua. Bahwa waktumu masih panjang, lalu kau mulai menyadari bahwa begitu cepatnya waktu berlalu.

Umurmu memasuki usia pernikahan. Bagi yang memilih menikah, ia kemudian menikah. Mempunyai pasangan, dan keluarga. Lalu ketika ia menyadari betapa beratnya tanggung jawab berkeluarga, baru ia paham, betapa tangguh ayah-ibunya dahulu.

Hidup mandiri tidak mudah [image source]
Bagaimana dengan gaji segitu, mereka bisa membesarkanmu dan memenuhi segala kebutuhanmu?

Makanan ada. Cucian selalu rapi terlipat di lemari. Gelas dan piring selalu ada pada tempatnya.

Bagaimana dengan kesederhanaannya, mereka bisa menyekolahkanmu begitu tinggi?

Berhutang di mana mereka? Bagaimana mereka melunasinya?

Kau lalu menyadari betapa menyakitkannya melihat anak muda yang memboroskan uang kedua orang tuanya. Kau menyesal, tapi memang semua sudah terlambat.

Dulu ketika remaja, betapa ingin kau pergi jauh dari rumah. Tetapi di saat ini, kau begitu menginginkan untuk ‘pulang’. Sekedar sekejap untuk menyapa ayah-ibu. Sekedar merasakan lagi kenangan masa kecil.

Tetapi mungkin, semua terlambat.

Orang tua mu mungkin telah meninggal. Rumah keluarga pun telah dijual. Lalu kau menyadari, kau tak lagi punya rumah. Kau tak lagi punya benteng kuat yang melindungimu saat terjadi sesuatu.

Kau hanya bisa membangun bentengmu sendiri, yang entah kekuatannya pun tidak kau yakini.

Inilah hidup.

Fase di mana ketika dulu ingin sekali kau jalani, namun kini ingin sekali kau tinggalkan.

Ketika kecil, kita ingin dewasa.

Ketika dewasa, betapa ingin kita menjadi anak kecil lagi.

Ketika di rumah, ingin merdeka.

Ketika merdeka, ingin kembali ke rumah.

Ketika nganggur, ingin bekerja.

Ketika bekerja, ingin menganggur.

Kemudian pekerjaan memakan usiamu perlahan-lahan. Kau tak dapat lagi bertemu dengan sahabat-sahabatmu. Masing-masing begitu sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Dulu yang berkumpul setiap hari, berubah menjadi ‘jika ada waktu’. Lalu berubah pula menjadi ‘diusahakan sebisanya’.

Lalu mereka menghilang. Entah kemana.

Satu per satu teman mulai sibuk, dan menghilang entah ke mana.

Kemudian rambutmu memutih. Tubuhmu tak lagi indah. Kantong mata mulai datang. Tidur pun sudah mulai mendengkur. Perlahan-lahan kau tak lagi dapat membaca buku kesukaanmu, karena pandanganmu telah berkurang. Padahal usiamu belum lagi 40 tahun!

Kau lalu menyadari, betapa waktu berlalu sungguh cepat. Ketika dulu orang tuamu mengatakan hal ini, kau hanya merasa heran. Kini kau menyadari betapa tepatnya ucapan mereka.

Segala yang mereka ucapkan, dan lakukan, yang dulu begitu salah di matamu, kini menjadi sepenuhnya benar. Dan anak-anakmu melakukan hal yang sama kepadamu, menggeleng heran terhadap pebuatanmu, dan menentang semua perkataanmu.

Dalam hati kau berkata, ‘’Ayah, ibu, betapa benarnya perkataanmu dahulu, Betapa kelirunya aku dahulu.’’

Ayah, Ibu.. Betapa benarnya perkataanmu dahulu. [image source]
Mengapa anak selalu terlambat memahami orang tuanya ?

Mengapa ketika kita tua, baru kita dapat mencintai orang tua sepenuh hati ?

Karena seseorang tidak akan pernah benar-benar mengerti akan sesuatu, sebelum ia mengalaminya.

Waktu demikian kejam. Hidup ternyata begitu singkat.

Kirim doa untuk orang tua, sekarang.

Semoga air mata penyesalanmu diganti Tuhan dengan pahala untuk orangtuamu. Karena perbuatan anak shalih yang mendoakan orang tuanya. Amin.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
5 Kejadian Nyleneh Orang Indonesia yang Terekam Google Street View, Awas Ngakak! Dulu Terkenal Sering Tampil Hot, Begini Kabar ‘Mama Abdel’ Sekarang yang Makin Bikin Deg-degan Potret Kehidupan Mewah Anak Orang Kaya di Hong Kong yang Dijamin Membuatmu Melongo 12 Kelakuan Pengguna Medsos “Kelewat Awam” Ini Dijamin Bikin Kamu Ngakak Jengkulitan Inilah Beberapa Kelakuan ‘Gak Lazim’ Saat Terjadi Kecelakaan Lalu Lintas, Kamu Pasti Salah Satunya 7 Aktris Sinetron Kolosal Cantik dan Seksi ini Pernah Menghiasi Layar Kaca Kamu Zaman Dulu Salut! 5 Artis Tajir Ini Nggak Segan Pamerkan Kelakuan Bak ‘Rakyat Jelata’ di Sosial Media Kisah Sedih Eva, Calon Pengantin Yang Tertabrak Kereta Saat Mengantar Undangan Pernikahannya 5 Ibu Mertua Paling ‘Membahayakan’ Sedunia Inilah Perubahan Wajah Thalia Maria Marcedes dari Cantik Sampai Cantik Banget Chatting Kids Zaman Now Minta Foto “Buka-bukaan” ke Gebetannya Ini, Endingnya Bikin Melongo Kocak, Obrolan Orang Mesum PDKT Ngajak Chatting Endingnya Malah Bikin Ngakak Inilah 4 Pernikahan Super Mewah Anak Pejabat dan Konglomerat Indonesia yang Bikin Mata Terbelalak Inilah 4 Alasan Mengapa Israel Harus Tunduk Hormat pada Indonesia Inilah Alasan Pakai Rok Saat Bersepeda Motor Sama dengan Bunuh Diri 10 Postingan Nyeleneh Pengguna Medsos Pamer Kemesraan, Berasa Pingin Nampol Lihatnya 4 Ciri-Ciri Ini Bisa Jadi Indikasi Kalau Sebuah Warung Pasang Jin Penglaris, Hati-Hati! Inilah 11 Status Kocak “Emak Zaman Now” di Medsos yang Bikin Minder Anak Muda Karena Kalah Eksis Belum 30 Tahun, 5 Cewek Cantik Zaman Now Ini Sudah Bergelimang Harta, Hampir Saingi Syahrini! Foto-Foto Ini Memperlihatkan Betapa Seru dan Kocaknya Adegan di Balik Layar Film Superhero Idaman Anak 90-an
BACA JUGA