Batak adalah salah satu suku bangsa terbesar yang ada di Indonesia. Suku ini mendiami sebagian besar wilayah Sumatera Utara. Meskipun yang terkenal adalah marga Toba, sebenarnya Batak punya banyak kategori, Toba, Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola, dan Mandailing. Orang-orang ini biasanya terkenal karena gaya bicara mereka yang lebih tinggi dan terkesan ngegas dari kebanyakan penduduk di daerah lain. Padahal, ya itu bukan berarti marah loh.

Sama seperti orang Padang, orang Batak tersebar hampir di seluruh penjuru Indonesia loh. Tetapi, uniknya banyak dari mereka yang tidak tau asal muasal lahirnya mereka di Indonesia. Oleh karena itu, kali ini Boombastis.com akan mengulas bagaimana asalnya Suku Batak bisa eksis dan ditemukan di berbagai daerah Indonesia.

Nenek moyang yang menganjurkan mereka merantau

Orang Batak [Sumber gambar]
Selain orang Minang, Batak ternyata punya kebiasaan yang sama, suka merantau. Dari nenek moyang mereka dahulu, suku ini sudah mendapat anjuran untuk bepergian ke seluruh penjuru Indonesia dan tinggal di sana. Sayang, setelah tersebar di berbagai tempat, banyak dari mereka yang ternyata tidak memahami asal usul dari mana mereka berasal. Nah, menurut salah satu warga bernama Victor Gultom, akar Suku Batak sendiri berasal dari daratan di Pulau Samosir yang bernama Pusuk Buhit.

Wilayah Pusuk Buhit yang terkenal sakral

Puncak Pusuk Buhit [Sumber gambar]
Pulau Samosir diyakini warga setempat sebagai kediaman keturunan pertama dari Suku Batak. Di pulau yang dikelilingi oleh Danau Toba ini, terdapat banyak tempat di aman Raja Batak dan keturunannya tinggal. Salah satunya adalah Gunung Pusuk Buhit. Pusuk Buhit dikenal sebagai tempat tertinggi yang sakral serta dipercaya sebagai tempat munculnya Mulajadi Na Bolon (dewa yang maha esa) –menurut orang Batak – menampakkan diri pertama kalinya. Di sini pula, menurut warga sering didatangi oleh orang-orang yang ingin mengambil dan belajar ilmu tertentu.

Batu Hobon di mana keturunan Batak pertama terlahir

Batu Hobon [Sumber gambar]
Sebelum naik ke puncak Pusuk Buhit, ada sebuah batu yang bernama Batu Hobon, yang dikeramatkan karena dinilai melahirkan generasi pertama mereka. Untuk melihat batu ini, setiap orang harus menuruti perintah dari Daniel Pasaribu, sang pemangku adat. Pengunjung harus melakukan ritual tertentu serta memakai sarung khusus. Menurut sang pemangku adat, Batu Hobon menjadi sangat sakral karena dulunya, Deak Parujar –yang kemudian melahirkan Raja Batak pertama – diturunkan di atas batu ini. Bukan itu saja, Batu Hobon konon merupakan tempat menyimpan pusaka dan barang berharga raja zaman dahulu. Bisa dilihat dari bentuknya yang menyerupai peti tertutup, seolah di dalamnya ada sesuatu yang disembunyikan.

Orang yang mencoba membuka Batu Hobon bisa terkena musibah

Yang ingin membukanya bisa saja mendapat musibah [Sumber gambar]
Karena bentuknya seperti peti dan seolah tersimpan hal misterius di dalamnya, banyak orang yang penasaran dan ingin tau apa yang ada di dalam batu tersebut. Sayang, menurut pemangku adat, batu tersebut tidak bisa dibuka oleh manusia biasa. Siapapun yang mencoba mencongkel atau membuka secara paksa, maka ia akan terkena musibah. Jadi, kalau berkesempatan ke sini, jangan coba-coba berbuat jahil ya!

Telaga Tala-Tala yang merupakan tempat keramat lain

Penampakan Telaga Tala-Tala [Sumber gambar]
Setelah meklewati Batu Hobon dan naik ke puncak, ada Parsaktian yang mirip seperti pondok kecil dan berisi silsilah dari Raja Batak pertama (Tatea Bulan). Silsilah ini dipahat dalam bentuk patung. Setelahnya, pengunjung harus naik ke bukit untuk melihat Telaga Tala-Tala. Konon di telaga yang dianggap suci ini, airnya tak pernah kering dan bisa menjadi obat. Di sana pula-lah tempat awal si raja pertama bertemu dengan bidadari yang kelak menjadi nenek moyang Orang Batak.

BACA JUGA: Melihat Ajang Cari Jodoh ‘Take Me Out’ Khusus Batak, Pesertanya Luber-luber

Jadi begitulah asal usul Orang Batak yang ada di Indonesia. Meskipun tersebar di berbagai penjuru tanah air, orang yang dikenal berasal dari Sumatera Utara ini punya satu nenek moyang, yaitu Opung Tatea Bulan.