Sejak beberapa hari lalu heboh tersiar kabar mengenai Gunung Agung yang digadang-gadang telah memenuhi ciri-ciri akan meletus. Gunung yang terletak di Pulau Bali tepatnya di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem ini merupakan gunung tertinggi di sana. Merupakan tipe gunung berapi aktif maka secara otomatis letusan bisa terjadi kapan saja.

Beberapa wilayah di bawah kaki gunung ini diprediksi akan terkena dampak ketika nanti meletus. Alhasil, banyak dari mereka yang memilih untuk mengungsi daripada terkena dampaknya, meskipun tentu belum bisa dipastikan seberapa kecil atau besarnya. Salah satu daerah yang hampir semua penduduknya mengungsi adalah kota Amlapura, ibukota Kabupaten Karangasem, yang hanya berjarak 12 hingga 13 km dari wilayah Gunung Agung. Tak ayal kondisi ini pun membuat daerah tersebut ibarat kota mati yang tak hiruk pikuk manusianya.

Kenaikan Status Gunung Agung Dari Waspada Menuju Awas

Tanda-tanda yang diterima oleh petugas di pusat pemantauan Gunung Agung pertama kali adalah aktivitas dapur magma yang menyebabkan gempa-gempa kecil di sekitaran wilayah gunung. Tanda-tanda tersebut mulai datang dengan jelas beberapa hari terakhir ketika gempa sudah terasa hingga wilayah Klungkung, Buleleng, dan Gianyar. Sudah terjadi hingga 4 kali gempa vulkanik hingga saat ini. Hal tersebut memicu dinaikannya status Gunung Agung yang awalnya adalah waspada menjadi awas.

Gunung Agung Awas [image source]
Status tersebut merupakan level IV atau tertinggi. Namun, hingga saat ini belum diketahui kapan kira-kira Gunung Agung akan meletus. Warga yang diwajibkan untuk mengungsi adalah warga yang berjarak sekitar 9 km dari wilayah gunung. Namun, banyak warga yang meski wilayahnya masih terbilang aman juga memilih untuk mengungsi daripada terkena dampak dari letusan Gunung Agung.

Amlapura Sudah Sepi Aktivitas

Sejak diumumkannya kenaikan status Gunung Agung menjadi awas, penghuni kota Amlapura yang berjarak 13 km dan bukan merupakan Kawasan Rawan Bencana (KRB) III, II, bahkan I sudah banyak yang meninggalkan rumahnya. Mereka memilih mengungsi ke wilayah yang lebih aman, seperti Denpasar. Toko-toko yang biasanya beroperasi di kawasan tersebut pun sudah tutup. Bahkan kegiatan belajar mengajar di sekolah juga sudah dihentikan mengacu pada surat dari Dinas Pendidikan Karangasem.

Amlapura Kota Mati [image source]
Meski kegiatan belajar mengajar dihentikan, Kepala Dinas Pendidikan Karangasem tetap menghimbau tenaga pendidik untuk tetap membantu jalannya kegiatan belajar mengajar di pos pengungsian. Kepanikan yang disebabkan oleh satu warga menular kepada warga yang lain sehingga akhirnya mereka semua memilih untuk mengungsi.

Belum Bisa Dipastikan Kapan Meletus Berbanding Lurus dengan Amlapura Menjadi Kota Mati Sementara

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Satgas yang mempunyai andil untuk memantau aktivitas Gunung Agung belum bisa memastikan akankah Gunung Agung meletus serta bagaimana dampaknya. Hal tersebut akhirnya dimaknai oleh warga Amlapura bahwa mereka harus meninggalkan pemukimannya untuk sementara waktu. Beberapa yang masih tinggal sangat kesulitan untuk menemukan warung-warung yang masih beroperasi dan dipercaya akan segera ikut mengungsi.

Suasana Amlapura yang Sepi [image source]
Meski terdengar desas desus bahwa Amlapura hanya akan terkena dampak hujan abu dan pasir, para warga tetap memilih untuk pergi mengungsi. Menurut salah satu pengungsi dari Jl. Pesalegi Lingkungan Segarkaton, wilayahnya merupakan jalur lahar pada letusan Gunung Agung yang terakhir. Sehingga, banyak dari mereka yang mengantisipasi keadaan dengan mengungsi, sampai-sampai jalanan menjadi macet karena banyak yang berebut ingin cepat-cepat pergi dari wilayah tersebut.

Takut Tragedi Gunung Agung Meletus Tahun 1963 Terulang

Tercatat, terakhir kali Gunung Agung meletus terjadi pada tahun 1963. Kala itu belum ada sosial media yang bisa menyebarkan berita dengan begitu cepat. Sehingga, tanda-tanda akan terjadi letusan pun tidak diketahui banyak orang. Alhasil, tidak ada yang meninggalkan rumah dan terkena dampak letusan Gunung Agung.

Kondisi Pengungsi Gunung Agung [image source]
Tahun 1963 dampak letusan Gunung Agung cukup besar dan parah. Banyak sekali warga yang meninggal kala itu. Bagi mereka yang selamat, mungkin kejadian itu sangat membekas sehingga mereka takut tragedi tersebut akan terulang. Menurut salah satu yang selamat, letusan Gunung Agung terjadi pada pagi hari, pukul 08.00 WITA disertai dengan dentuman keras, hujan abu, pasir, dan kerikil yang terus menerus.

Semoga warga di sekitar Gunung Agung segera mendapat titik terang apa yang akan terjadi setelah status naik menjadi awas. Jika memang akan meletus, semoga tidak ada korban jiwa seperti pada letusan tahun 1963. Para pengungsi dari Amlapura juga sudah mengantisipasi kejadian ini sehingga jika nanti terjadi dampak yang buruk, mereka pun telah siap.