5 Hal ini Jadi Alasan Kenapa KPI Mending Dihapus Saja

oleh Rizal
14:00 PM on Jan 9, 2016

Tayangan yang bagus tak hanya menyajikan visual yang keren dan sangar, tapi juga mengandung muatan nilai-nilai dan juga layak atau tidaknya dikonsumsi umur yang tersegmentasi. Ribet lho menyajikan tayangan yang benar-benar memenuhi kriteria seperti ini. Nah, makanya Indonesia bikin KPI yang punya visi untuk memberikan tayangan terbaik yang sarat akan nilai. Tapi, apakah yang mereka lakukan selama ini sudah benar dan sesuai?

Akhir-akhir ini makin banyak bullying yang diberikan kepada KPI. Banyak yang menganggap jika hadirnya mereka justru tidak berimbas apa-apa, selain malah mengurangi estetika tayangan gara-gara main sensor atau potong adegan yang tidak pas.

Baca Juga
Inilah 4 Kisah Pria Beruntung 2017, yang Berhasil Bikin Bule “Ngebet” Nikah
Inilah Perbandingan Kekuatan Militer Palestina dan Israel, Ibarat Semut Lawan Gajah

Sebenarnya, Indonesia butuh atau tidak sih dengan lembaga satu ini? Jawabannya dikembalikan para pemirsa. Namun, beberapa fakta berikut mungkin akan membuat berpikir sama seperti apa yang ada di judul.

1. Sensornya Berlebihan

Tak semua scene yang tayang di televisi sesuai dan baik untuk pemirsa. Makanya, hal-hal yang mempertontonkan bagian tubuh tertentu, senjata, rokok, dan segala sesuatu yang buruk pengaruhnya, langsung disensor oleh KPI. Bagus sih niatnya, namun lama-kelamaan hal tersebut makin absurd. KPI seolah tanpa analisis mendalam dulu, langsung main sensor semua yang dianggapnya tidak patut dipertontonkan, padahal sebenarnya tidak perlu sampai sebegitunya.

Masa susu sapi saja mesti disensor juga [Image Source]
Masa susu sapi saja mesti disensor juga [Image Source]
Terakhir adalah ketika mereka menyensor puting susu sapi yang sedang diperas. Apa sih maksud dari sensor ini? Sama sekali tak jelas. Apakah karena mengandung muatan negatif? Tentu tidak. Entah apa pertimbangan mereka sampai bisa melakukan hal-hal ngawur dan absurd seperti itu. Lama-lama kita akan menyaksikan sebuah tayangan di mana banyak bagian yang disensor dari pada yang tidak. Akhirnya, televisi isinya sensor semua.

2. Sensor yang Harusnya Tidak

KPI memiliki hak untuk menyensor dan memotong adegan tertentu yang dinilai bermuatan tidak baik. Sayangnya, pada praktiknya mereka sering salah dalam melakukan hal ini. Seringnya, KPI menyensor apa yang tak patut disensor dan sebaliknya.

Kartun disensor jadi menimbulkan pikiran macam-macam bagi anak-anak [Image Source]
Kartun disensor jadi menimbulkan pikiran macam-macam bagi anak-anak [Image Source]
Contohnya adalah sensor karakter kartun. Memberikan sensor untuk serial kartun jelas kesannya seperti memaksakan tontonan dewasa kepada anak. Sangat aneh kelihatannya. Padahal kartun ya kartun, takkan pernah mengandung hal-hal negatif selain beberapa judul yang untungnya tak pernah ditayangkan di Indonesia. Tanpa sensor film kartun aman untuk anak-anak, dan malah gara-gara disensor itu anak-anak justru penasaran akan hal-hal negatif.

3. Tidak Sensor Apa yang Seharusnya

Berkebalikan dengan poin sebelumnya, KPI juga melakukan blunder dengan tidak melakukan sensor tayangan yang harusnya kena sensor. Contoh paling nyatanya ya jelas sinetron. Tayang di waktu prime time, sinetron sama sekali tidak kena filter. Padahal berbahaya tuh dampaknya bagi anak-anak yang kemudian akan mencontohnya.

Kartun disensor, sinetron lolos sensor [Image Source]
Kartun disensor, sinetron lolos sensor [Image Source]
Bermesra-mesraan, peluk-pelukan, saling melontarkan kata sayang, hal-hal seperti ini berpengaruh buruk bagi anak. Gara-gara tontonan yang seperti ini akhirnya muncul berita-berita miris seperti anak SMP yang menyatakan cinta kepada adik kelasnya yang SD dan bikin heboh itu. KPI harusnya melakukan tindakan lanjut soal sinetron-sinetron seperti ini. Belum lagi adegan kekerasannya juga sering sekali lolos dari filter.

4. Apa yang Dilakukan KPI Tidak Benar-Benar Berdampak

Jujur saja, apa yang dilakukan KPI selama ini tidak terlalu memberikan dampak. Lihat saja pergaulan anak-anak sekarang yang jauh dari kata aman. Padahal semua tayangan sudah dibenahi menurut versi KPI.

Meskipun disensor habis, ini nih kelakuan anak-anak Indonesia sekarang [Image Source]
Meskipun disensor habis, ini nih kelakuan anak-anak Indonesia sekarang [Image Source]
Jika dibandingkan dengan dulu, anak-anak tetap dalam relnya. Meskipun tayangan yang mereka lihat tidak mengalami pemotongan adegan atau sensor-sensor. Ini jadi bukti yang sangat nyata jika eksistensi KPI justru tidak memberikan banyak hal.

5. KPI Bikin Tontonan Kehilangan Estetikanya

Adegan berantem di-cut, bertarung dengan senjata-senjata di-cut dan sebagainya. Alhasil, yang kita tonton adalah sisanya. Memang aman sih, tapi tidak ada hal-hal gregetnya. Padahal, apa yang dicari dalam sebuah tayangan justu adalah itu. KPI membuang hal-hal seru dan penting dalam tontonan.

The Raid yang penuh adegan baku hantam dan senjata pun bakal kena sensor habis-habisan [Image Source]
The Raid yang penuh adegan baku hantam dan senjata pun bakal kena sensor habis-habisan [Image Source]
Tentu saja hal ini sama sekali tidak sedap untuk dinikmati. Alih-alih terhibur ketika nonton televisi, yang ada justu kecewa. “Yah, adegan ini kok diputus begitu, nggak seru!” mungkin begitu kata para pemirsa. Makanya gara-gara hal ini penonton tayangan televisi lokal mulai berkurang drastis. Mereka cenderung memakai TV kabel yang dinilai bisa memberikan tayangan yang penuh estetika. Tak main potong-potong adegan seenaknya.

Sensor dan potong adegan sih boleh saja asal memang dalam koridor yang benar. Maksudnya yang benar-benar patut untuk disensor itulah yang harus diremang-remangkan. KPI selama ini sepertinya tidak melakukan sebuah gebrakan yang bagus. Kalau berkaca dari masa lalu, sepertinya apa yang mereka lakukan justru berakibat mundurnya moral pemirsanya, khususnya anak-anak.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
5 Kejadian Nyleneh Orang Indonesia yang Terekam Google Street View, Awas Ngakak! Potret Kehidupan Mewah Anak Orang Kaya di Hong Kong yang Dijamin Membuatmu Melongo 12 Kelakuan Pengguna Medsos “Kelewat Awam” Ini Dijamin Bikin Kamu Ngakak Jengkulitan Kisah Sedih Eva, Calon Pengantin Yang Tertabrak Kereta Saat Mengantar Undangan Pernikahannya Salut! 5 Artis Tajir Ini Nggak Segan Pamerkan Kelakuan Bak ‘Rakyat Jelata’ di Sosial Media Kocak, Obrolan Orang Mesum PDKT Ngajak Chatting Endingnya Malah Bikin Ngakak 7 Aktris Sinetron Kolosal Cantik dan Seksi ini Pernah Menghiasi Layar Kaca Kamu Zaman Dulu 5 Ibu Mertua Paling ‘Membahayakan’ Sedunia Inilah Perubahan Wajah Thalia Maria Marcedes dari Cantik Sampai Cantik Banget Dulu Terkenal Sering Tampil Hot, Begini Kabar ‘Mama Abdel’ Sekarang yang Makin Bikin Deg-degan Inilah Perbandingan Kekuatan Militer Palestina dan Israel, Ibarat Semut Lawan Gajah Inilah 4 Pernikahan Super Mewah Anak Pejabat dan Konglomerat Indonesia yang Bikin Mata Terbelalak Inilah 4 Alasan Mengapa Israel Harus Tunduk Hormat pada Indonesia Inilah 11 Status Kocak “Emak Zaman Now” di Medsos yang Bikin Minder Anak Muda Karena Kalah Eksis 10 Postingan Nyeleneh Pengguna Medsos Pamer Kemesraan, Berasa Pingin Nampol Lihatnya Inilah Beberapa Kelakuan ‘Gak Lazim’ Saat Terjadi Kecelakaan Lalu Lintas, Kamu Pasti Salah Satunya 14 Tahun Berlalu, Begini Kabar Pemain Sinetron “Di Sini Ada Setan” yang Dulu Bikin Kamu Bergidik Ngeri Mulai dari Tikus hingga Lumpur, Inilah 4 Negara Miskin yang Konsumsi Makanan Seadanya Belum 30 Tahun, 5 Cewek Cantik Zaman Now Ini Sudah Bergelimang Harta, Hampir Saingi Syahrini! Foto-Foto Ini Memperlihatkan Betapa Seru dan Kocaknya Adegan di Balik Layar Film Superhero Idaman Anak 90-an
BACA JUGA