in

Menilik Kekuatan Militer Majapahit di Masa Kejayaannya yang Bikin Bangga

Sama seperti negara-negara saat ini, kerajaan di masa lampau mengerahkan kekuatan militer untuk melindungi wilayah mereka dari pihak asing. Mereka juga memanfaatkan bala tentara untuk menyerang kerajaan lain serta memperluas wilayah kekuasaan.

Kerajaan Majapahit adalah salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di Indonesia. Kerajaan ini terkenal berhasil memperluas wilayah mereka hingga ke Papua, Sumatra, Kalimantan, sampai Semenanjung Malaka dan sebagian kecil dari Filipina. Hal itu tentu tidak dapat dicapai tanpa kekuatan militer yang besar. Kira-kira seperti apa sih kekuatan militer Kerajaan Majapahit hingga mereka dapat memiliki kedaulatan hingga seluruh Nusantara?

Pasukan Bhayangkara

Nama Bhayangkara sendiri sudah tidak asing di telinga kita karena digunakan untuk tanda pangkat kepolisian. Namun sejatinya Bhayangkara adalah nama pasukan elit Kerajaan Majapahit. Mereka lah yang dikerahkan di garda depan saat terjadi peperangan. Mereka pula yang membuat rakyat Majapahit selalu merasa terayomi dan aman.

Pasukan Bhayangkara [Image Source]
Seleksi untuk menjadi Pasukan Bhayangkara tidaklah mudah. Seorang calon anggota Bhayangkara harus menguasai berbagai ilmu dan tangkas dalam bela diri. Seleksi yang ketat ini menjadikan jumlah pasukan hanya sedikit. Namun ini tidak menjadi masalah karena kekuatan satu orang Bhayangkara sama dengan kekuatan empat puluh orang prajurit biasa. Bisa dibayangkan betapa kuatnya pertahanan Majapahit jika semua anggota Bhayangkara sedang siaga.

Lima Gugus Kapal Perang

Sebagai kerajaan maritim, Majapahit perlu menjaga perbatasan-perbatasan laut mereka supaya tidak ada musuh yang masuk. Untuk itu, mereka menyiapkan puluhan kapal untuk menjaga perairan. Kapal-kapal ini ditugaskan di lima gugus yaitu di sebelah barat Sumatera, sebelah selatan Jawa, perairan Sulawesi, Kepulauan Natuna, dan Laut Jawa.

Replika kapal Majapahit [Image Source]
Dari kelima gugus, tugas yang paling berat diemban kapal yang berjaga di Kepulauan Natuna karena banyaknya perompak yang berpangkal di Vietnam dan Tiongkok. Sementara itu, armada yang berjaga di Laut Jawa pun memiliki tugas yang cukup berat dikarenakan bertugas untuk mengawal Raja Hayam Wuruk saat meninjau wilayah timur Jawa. Dengan pertahanan maritim seperti ini, musuh akan berpikir dua kali untuk melakukan penyerangan.

Senjata yang Mematikan

Sebuah temuan senjata kuno berbentuk seperti meriam di Australia sempat menyimpan misteri. Apakah senjata tersebut milik penjelajah Eropa atau kapal lainnya. Hasil penelitian menyatakan senjata tersebut rupanya milik kapal perang Majapahit yang dikenal dengan nama Cetbang.

Cetbang yang tersimpan di museum di Bali [Image Source]
Memang untuk menghalau musuh, bala tentara Majapahit tidak bisa hanya mengandalkan panah, tombak, dan keris. Harus ada satu senjata mematikan yang bisa menumpas pihak lawan dari jarak jauh. Cetbang inilah yang mereka gunakan untuk membinasakan kapal musuh. Satu-satunya yang bisa mengalahkan cetbang adalah meriam modern yang digunakan bangsa Barat saat masuk ke Indonesia. Meriam mereka memiliki jarak tembak yang lebih jauh sehingga penyerangan bisa dilakukan dengan lebih mudah.

Panglima yang Handal

Sebesar apapun armada yang digunakan, sebanyak apapun pasukan yang dimiliki, jika tidak ada pimpinan yang dapat mengatur strategi, maka semuanya akan sia-sia. Majapahit di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk memiliki dua pemimpin militer yang jenius, yaitu Gajah Mada dan Mpu Nala.

Mahapatih Gajah Mada [Image Source]
Mpu Nala bertanggung jawab atas pertahanan laut kala itu. Ia mencari sendiri kayu yang cocok digunakan untuk membuat kapal perang yang besar dan kuat. Ia pula yang memimpin penaklukan wilayah-wilayah sekitar Majapahit seperti Kerajaan Samudera Pasai, Selangor, dan Dompo.

Sementara kita tahu Gajah Mada sangat pandai dalam mengatur strategi baik operasi intelijen, penyerangan, maupun pertahanan. Ia memimpin hampir di setiap peperangan. Ia pula yang merakit senjata-senjata yang digunakan oleh prajurit Majapahit. Salah satu rakitannya adalah cetbang yang telah disebutkan di atas.

Dengan teknologi yang terbatas, Majapahit telah memiliki kekuatan militer yang sama baiknya dengan Indonesia saat ini. Sayangnya, sejak Gajah Mada dan Mpu Nala wafat, penerus mereka tidak bisa mempertahankan kejayaan militer Majapahit. Tak lama kemudian kerajaan yang berbasis di Jawa Timur itu pun melemah dan akhirnya runtuh.

Written by Aisyah Putri

Leave a Reply

Desi Utami, Kisah Wanita Desa yang Gagap Bahasa Inggris Tapi Berhasil Kuliah Sampai ke Jepang

Besarnya Dana Saksi Pemilu untuk Parpol Bisa Buat Bangun 85.216 Sekolah, Mahal Banget!