Bagi umat muslim di seluruh dunia, fakta Ka’bah sebagai kiblat untuk berdoa kepada ALLAH SWT merupakan hal yang sangat mutlak. Tak hanya sekedar sebagai patokan arah beribadah, Ka’bah ternyata menyimpan sejuta misteri yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat dunia dan umat muslim itu sendiri.

Bahkan, Ka’bah juga pernah ditetiliti oleh sejumlah ilmuwan NASA Amerika Serikat. Dan hasilnya pun ternyata cukup menggemparkan masyarakat dunia, khususnya negara-negara barat yang notabene non-muslim. Alhasil, penemuan yang dilakukan dengan pendekatan secara ilmu pengetahuan tersebut, sangat menarik untuk disimak. Untuk lebih jelasnya, simak ulasan berikut.

Ka’bah sebagai pusat atau sumbu bumi

Sebagai pusat bumi

Menurut penelitian yang ditulis oleh Hussain Kamel, Ka’bah merupakan pusat atau sumbu dari bumi ini. Hasil temuan ilmiah tersebut, mengambil beberapa garis bujur dan lintang yang ditarik dari semua benua di dunia. Hasilnya pun cukup mencengangkan. Posisi Ka’bah yang berada di Kota Makkah, Arab Saudi, ternyata merupakan sumber pusat bumi yang sesungguhnya. Jauh berbeda dengan yang selama ini berpatokan pada GMT yang dicetuskan kolonial Inggris.

Tempat beribadah paling sejuk meski kondisi sekelilingnya sangat panas

Tetap dingin meski dikelilingi cuaca panas

Daerah Timur Tengah yang mempunyai suhu yang panas, nyatanya tak berpengaruh pada kegiatan beribadah di sekitar Ka’bah. Hal ini dikarenakan tingginya gravitasi yang menyebabkan adanya kadar garam yang cukup dan hawa dari air bawah tanah yang mengalir di bawah Ka’bah (sumber air zam-zam). Maka dari itu, hawa dingin tetap terasa di sekitar Ka’bah meski suhu dan cuaca sedang terik-teriknya.

Memiliki tingkat gravitasi paling stabil

Tetap dingin meski dikelilingi cuaca panas

Fakta Ka’bah yang tak kalah mengejutkan adalah, tingginya kadar gravitasi yang menjadi keuntungan tersendiri bagi tempat tersebut. Tak hanya itu, gravitasi yang terkumpul di sekitar Ka’bah sangat menyehatkan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Hal ini disebabkan sistem imun pada tubuh, bertindak sebagai sistem pertahanan diri dari segala macam jenis penyakit.

Teknologi modern seperti satelit tak mampu mengintip isi Ka Bah

Satelit tak sanggup intip isi Ka’Bah

Tak hanya menyehatkan bagi tubuh, tekanan gravitasi yang tinggi juga berfungsi melindungi privasi Ka’bah sebagai tempat suci umat islam. Gelombang radio pun tak sanggup mendeteksi Ka’bah. Bahkan, teknologi sekelas satelit tercanggih pun, tak akan sanggup mengintip isi dari Ka’bah tersebut. Bukan hanya sekedar bangunan berbentuk persegi, Ka’bah merupakan tempat berkumpulnya semua doa dan pusat dari semua bentuk energi.

Penemuan NASA yang mengejutkan dunia barat

Fakta Ka’bah yang kejutkan NASA

Yang tak kalah mencengangkan adalah, ketika Astronot Neil Amstrong melihat fenomena aneh yang mengusik akal sehatnya sebagai manusia. Saat itu, ia melihat bumi yang diliputi kegelapan, nampak seperti melayang. Ada seutas tali berwarna putih yang seolah menggantung bumi tersebut agar tetap mengambang. Ada pula temuan radiasi yang memancar dari Ka’bah dan menjadi semacam medan magnet di dalamnya. Yang mengejutkan, radiasi tersebut seolah tak berujung alias tanpa batas.

Batu Hajar Aswad yang mampu merekam siapa saja yang mengunjungi Ka’bah

Kelebihan Hajar Aswad dibanding batu lainnya

Tak hanya Ka’bah, batu Hajar Aswad juga mempunyai sebuah fakta yang tak kalah mengejutkan. Menurut salah seorang mantan pejabat NASA, Hajar Aswad dapat merekam siapapun yang datang mengunjungi Ka’bah. Selain itu, Hajar Aswad juga diduga merupakan jenis batuan yang bukan berasal dari sistem tata surya yang dihuni oleh manusia.

Masih ada beberapa Fakta Ka’bah yang belum terkuak secara detail dan jelas. Meski begitu, kelima hal di atas, menjadi sebuah bukti nyata, bahwa Ka’bah merupakan tempat ibadah yang sakral dan penuh akan hal-hal yang bisa ditelusuri dengan pendekatan ilmiah.