Ini Alasan Kenapa Hidup di Zaman Orde Baru Tak Lebih Enak daripada Sekarang

Tagline “Enak zamanku tho?” sepertinya harus direvisi lagi

oleh Nikmatus Solikha
14:00 PM on Mar 16, 2017

Masa pemerintahan Soeharto atau biasa dikenal dengan orde baru disebut-sebut sebagai puncak kemakmuran Indonesia. Bagaimana tidak, semua harga murah, keamanan terjamin, masyarakat tentram dan harga rupiah juga stabil. Apa memang seenak itu? Mungkin sebagian orang yang pernah merasakan hidup di zaman itu beranggapan demikian.

Namun, kalau mau sedikit menelisik, banyak hal yang bisa nyadarin kita kalau hidup di orde baru itu nggak lebih enak dari zaman sekarang. Kenapa? Berikut ini adalah kupasannya.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Kemakmuran negara zaman itu dibiayai utang secara besar-besaran

Indonesia di masa itu memang sangat makmur, Sob. Tentunya karena harga-harga semua pada murah. Tapi, perlu diketahui murahnya harga tersebut dikarenakan adanya subsidi dari pemerintah. Sementara dana subsidi itu sendiri dari utang ke luar negeri secara gila-gilaan.

Dampak buruk utang bagi Indonesia [image source]
Dampaknya? Ya, utang Indonesia membengkak. Bahkan sampai diwariskan sampai zaman sekarang ini. Bahkan, kepemimpinan ekonomi Pak Soeharto bisa dikatakan rabun jauh, siapapun presiden setelah pak Harto, akan menerima warisan utangnya yang nggak kira-kira banyaknya.

Orde baru katanya aman, tapi aslinya mengerikan

Zaman pak Harto, negara sangat aman, tentram, tindak kriminalitas juga sangat jarang. Tapi, mungkin bisa diingat-ingat lagi kasus adanya Petrus (Penembak Misterius). Sebuah operasi dari pemerintahan Soeharto yang menanggulangi tindak kejahatan saat itu. Petrus bertugas membasmi orang-orang yang dianggap mengganggu ketentraman masyarakat.

ilustrasi petrus [image source]
Siapapun target mereka, akan ditembak tanpa ampun dan mayatnya dibiarkan begitu saja di jalanan. Mengerikan banget, kan?  Memberantas kejahatan boleh-boleh saja, sih. Tapi penjahat juga manusia, masa mayatnya digelimpangin gitu aja? Beruntung deh kita yang hidup di zaman ini, nggak usah melihat banyak mayat di jalanan kayak gitu.

Nggak ada yang namanya demokrasi

Indonesia pada dasarnya adalah negara yang demokrasi, di mana semua masyarakat punya hak yang sama dalam mengambil keputusan. Demokrasi mengizinkan setiap warganya menyerukan pendapat, baik secara langsung atau melalui perwakilan.  Pada tahun 1971, pemilu dimenangkan mutlak oleh Golkar.

ilustrasi demokrasi [image source]
Hal itu karena seluruh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) berserta seluruh jaringannya, termasuk pegawai negeri sipil, dan juga persatuan guru diharuskan memilih Golkar. Jadi, yang namanya demokrasi di masa itu hanya hal yang semu. Terlebih pada tahun 1997-1998, banyak terjadi kasus penculikan para aktivis yang pro demokrasi. Hal itu terjadi pada hari-hari jelang pemilu atau menuju sidang MPR

Salah ngomong sedikit, bisa disikat 

Orang zaman orde baru nggak bisa ngomong sembarangan. Salah ngomong sedikit, bisa dianggap musuh negara, bahkan bisa langsung disikat. Mungkin kamu bisa googling tentang kisah Udin, seorang wartawan harian Bernas Yogyakarta yang kerap menulis artikel kritis tentang kebijakan pemerintah orde baru dan militer.

Salah satu meme di sosial media [image source]
Ujung-ujungnya, penyeruan suara tersebut berakhir dengan tewasnya Udin setelah dianiaya oleh orang nggak dikenal. Kasusnya pun nggak nemu titik terang hingga kini. Kamu bisa bayangkan jika media online ada sejak zaman itu, mungkin semua netizen yang menyuarakan pendapatnya bakal dibikin modar juga. Coba bandingin sama pemerintah zaman ini, pak Jokowi banyak dibikin meme berbagai media juga adem ayem aja.

Korupsi membabi buta

Zaman dulu nggak ada korupsi? Jangan salah. Pada masa orde baru, setidaknya ada tujuh yayasan pak Harto yang diduga menggunakan uang Negara. Hasil penyelidikan kasus tujuh yayasan tersebut menghasilkan berkas setebal 2.000-an halaman.

berita tentang korupsi orde baru [image source]
Hasil tersebut merupakan kumpulan dari 134 saksi fakta dan 9 saksi ahli. Setidaknya, sekitar 400 miliar dana mengalir ke yayasan milik Soeharto pada tahun 1996 sampai 1998. Dalam kasus-kasus tersebut, terungkap pula banyak menteri-menteri yang terlibat dalam korupsi yang merugikan Negara.

Gimana? Masih merasa zaman orde baru itu serba enak? Sejatinya, tiap zaman itu memiliki kekurangan dan kelebihan. Sama halnya di masa pemerintahan Jokowi, jika mau menelisik, tentu banyak hal positif yang bisa ditemukan.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA