Yuma Soerianto, Bocah 10 Tahun Berdarah Indonesia yang Pukau Bos Apple dengan Aplikasi Buatannya

Tak disangka, 5 aplikasi di Playstore adalah buatan bocah ini

oleh Aini Boom
07:00 AM on Jun 19, 2017

Masih belia, bocah berusia 10 tahun bernama Yuma Soerianto berhasil membuat beberapa aplikasi yang telah dipublikasikan di Play Store. Hal ini pun membuat CEO Apple Tim Cook sangat kagum. Terlebih siswa yang masih duduk di kelas 5 sekolah dasar itu mempelajari pembuatan aplikasi hanya secara otodidak.

Keberhasilan Yuma membuat bocah itu tembus ke Worlwide Developer Converence (WWDC) di San Jose, Amerika Serikat. Dan di pertemuan yang dihadiri oleh pengembang aplikasi dari berbagai negeri, Yuma menjadi sosok partisipan paling muda. Ia pun lantas menjadi sorotan media Internasional. Dan nama belakang Soerianto yang menggambarkan kekhasan Indonesia, membuat publik langsung paham jika Yuma memiliki darah tanah air. Tentu, hal itu menjadi suatu kebanggaan bagi masyarakat Indonesia.

Baca Juga
Meski Anaknya Seorang Polisi, Kakek Ini Memilih Tetap Bekerja Gotong 5 Bale untuk Dijual Setiap Hari
Mengenang Bastian Tito, ‘Dalang’ di Balik Wiro Sableng yang Melegenda

Yuma Berdarah Indonesia

Yuma dan Ayahnya [image: source]
Yuma merupakan anak tunggal dari lelaki asal Jakarta bernama Hendri. Yuma dan keluarganya beberapa kali pindah tempat tinggal. Sempat menetap di Singapura, dan kini tinggal di Australia. Meski tinggal di luar negeri, banyak pihak yang mengenali Yuma sebagai bocah berdarah Indonesia sebab nama belakangnya yang khas, Soerianto.

Belajar Coding Secara Otodidak Sejak Usia 6 Tahun

Yuma di WWDC 2017 AS [image: source]
Berawal dari rasa bosan terhadap peajar di sekolah, siswa yang terdaftar sebagai murid SD Middle Park Primary School di Meulborne itu memilih belajar coding. Melalui materi yang ada di YouTube, Yuma belajar otodidak bagaimana membuat aplikasi. Kala itu, usia Yuma baru menginjak enam tahun.

Telah Membuat Lima Aplikasi di Play Store

Yuma [image: source]
Meski baru berusia 10 tahun, hingga kini Yuma telah membuat lima buah aplikasi. Di antaranya Let’s Stack, game yang melibatkan kotak susun. Hunger Button aplikasi untuk membantu orang untuk menemukan restoran terdekat untuk makan malam. Tiga lainnya adalah aplikasi Kid Calculator, Weather Duck dan Pocket Poke. Selain itu, ada satu lagi aplikasi yang baru dibuatnya dalam perjalanan menuju WWDC namun belum diberi nama.

Mampu Membuat Sebuah Aplikasi Hanya dalam Waktu 1 Jam

Yuma dan salah satu aplikasi buatannya [image: source]
Dalam perjalanannya dengan pesawat dari Australia menuju Amerika Serikat, Yuma bisa membuat sebuah aplikasi. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat aplikasi yang belum dinamai tersebut hanya satu jam. Aplikasi yang dibuat Yuma adalah sejenis kalkulator. Bedanya, kalkulator ini dapat menghitung harga barang dengan menambah pajak penjualan lokal. Selain itu, kalkulator ini juga mampu mengkonversi mata uang saat penggunanya berbelanja souvenir di perjalanan. Ide ini didapat Yuma untuk membantu orang tuanya untuk menghitung harga barang saat berbelanja untuk oleh-oleh dari perjalanan mereka.

Mendapat Pujian dari Tim Cook, CEO Apple

Kepiawaian Yuma dalam mengotak-atik coding akhirnya terdengar oleh bos tertinggi Apple, Tim Cook. Maka sebeum acara resmi dimulai, Tim Cook meluangkan waktu khusus untuk menemui Yuma. Dalam pertemuan itu, CEO Apple tersebut menyatakan kekagumannya pada aplikasi yang dibuat Yuma dalam perjalanannya di pesawat. Cook sempat berujar “wow” atas apa yang dibuat oleh anak kecil sepuluh tahun itu. Tak hanya itu, Cook secara gamblang menyatakan bahwa dirinya terkesan dan tak sabar meilihat karya Yuma selanjutnya. Pertemuan ini diliput oleh media dan menjadi tersebar di seluruh dunia.

Tim Cook dan Yuma [image: source]
Kehadiran Yuma di acara WWDC merupakan kali pertama. Dan kala itu, Yuma sangat terkesan dengan banyaknya teknologi baru yang diciptakan saat ini. Selain itu, Yuma mengaku senang bisa mendapatkan bantuan dari orang-orang professional yang benar-benar mengerti coding.

Kisah Yuma bisa membuka kesadaran kita bahwa dengan kerja keras dan kedisiplinan, kita bisa meraih apa yang kita inginkan. Karena kesuksesan bukan tergantung dari berapa umur atau seberapa tinggi pendidikan kita, penentunya adalah kegigihan dan semangat yang besar untuk mau belajar.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA