Terry Mart, Ilmuwan Indonesia yang Meyakini Sains Tak Dapat Menolak Keberadaan Tuhan

oleh Endah Boom
07:00 AM on May 7, 2016

Sepintas dari namanya kita tak menyangka kalau Terry Mart adalah orang Indonesia tulen. Namun, anak ketiga dari enam bersaudara ini lahir di Palembang tanggal 3 Maret 1965. Meski namanya kebulean tapi ia adalah orang Indonesia asli. Ia merupakan seorang ilmuwan dan sampai tahun 2011 saja telah terhitung sudah ada sekitar 100 paper di jurnal dan prosiding internasional yang dipublikasikannya.

Ayah dari dua putri, Nadhifa Zahira Ramadhani Mart dan Adelita Putri Mart ini punya kisah perjalanan dan perjuangan luar biasa menapaki dunia sains. Agus Purwanto, D.Sc. dalam bukunya Nalar Ayat-Ayat Semesta menuliskan rangkuman kisah hidup Terry Mart yang sangat inspiratif. Seperti apa kisahnya? Yuk, langsung kita ikuti kisahnya di bawah ini.

Baca Juga
5 Fakta Gahar Pesawat Buatan Anak Bangsa N219 yang Bakal Bikin Negara Tetangga Iri
Deretan 10 Paskibraka Cantik Pembawa Bendera Pusaka Di Upacara Istana Kepresidenan yang juga Pantas Membawa Hatimu

1. Tumbuh dari Keluarga Sederhana

Terry lahir di keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang guru SMA sementar ibunya merupakan seorang ibu rumah tangga. Beruntung ayah Terry sempat mengenyam pendidikan di Australia. Pandangannya pun bisa dibilang cukup maju kala itu dan menjadi salah satu kunci keberhasilan Terry serta saudara-saudaranya dalam mengenyam pendidikan yang tinggi.

Tumbuh dari keluarga sederhana [ Image Source ]
Tumbuh dari keluarga sederhana [ Image Source ]
Cita-cita Terry semasa kecil sering berubah dari waktu ke waktu. Ia sempat ingin jadi petani karena bercocok tanam terlihat menyenangkan di matanya. Lalu ia sempat ingin jadi pelukis saat di bangku SD. Saat di bangku SMP, dia mulai tertarik pada elektronika. Ia pun punya cita-cita menjadi insinyur elektronika. Dia hobi mengutak-atik berbagai alat eletronik sepulang sekolah dan di kampungnya, ia terkenal karena berbagai macam alat elektronik ciptaannya. Nah dari sini ia mulai menyukai fisika karena bagaimana pun penjelasan soal elektronika kebanyakan ada di pelajaran fisika.

2. Suka Membaca Buku tentang Rangkaian Elektronika Juga Fiksi

Terry punya akses yang lebih luas akan bahan bacaan ketika ayahnya ditunjuk sebagai kepala perpustakaan sekolah. Ia bebas membaca buku-buku yang ada. Dan buku yang dibaca tak hanya soal rangkaian elektronika tapi juga buku-buku fiksi seperti karangan Karl May, Mark Twain, Marah Rusli, dan Hamka. Menarik sekali ya bahan bacaanya saat remaja dulu.

Suka Membaca Buku tentang Rangkaian Elektronika Juga Fiksi [ Image Source ]
Suka Membaca Buku tentang Rangkaian Elektronika Juga Fiksi [ Image Source ]
Tahun 1979, ayah Terry dipindahtugaskan ke Jakarta. Mereka pun hijrah ke ibu kota. Kecintaan Terry akan elektronika terus berlanjut hingga SMA. Kalau teman-temannya menganggap pelajaran fisika dan matematika menakutkan, Terry justru merasa sangat tertantang untuk bisa menaklukkannya. Di semester akhir bangku SMA, Terry mendapat surat pemberitahuan kalau dirinya diterima di Jurusan Fisikan FMIPA Universitas Indonesia tanpa jalur tes. Terry sempat bimbang, ia ingin jadi insinyur elektro tapi diterima di Jurusan Fisika.

3. Jatuh Cinta pada Fisika

Atas saran sang ayah, Terry akhirnya masuk menjadi mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UI tahun 1983. Jalani dulu satu tahun baru nanti putuskan ingin lanjut atau tidak, begitu saran sang ayah. Tak disangka, Terry kemudian jatuh cinta pada fisika. Ia pun lulus dengan predikat cum laude dari Jurusan Fisika UI tahun 1988. Dan untuk pertama kalinya ia bisa menghaidiri Simposium Fisika Nasional di Yogyakarta. Dari situ ia mulai berkenalan dengan para pakar fisika partikel dan nuklir Indonesia. Suasana yang menyenangkan dan menarik dalam diskusi dan perdebatan sungguh menginspirasi Terry.

Jatuh Cinta pada Fisika [ Image Source ]
Jatuh Cinta pada Fisika [ Image Source ]
Tahun 1990, Terry ikut ujian pegawai negeri untuk menjadi dosen UI lalu tahun berikutnya ia meneruskan kuliah ke Jerman di bidang fisika nuklir-partikel. Berkuliah di Barat membuka wawasannya. Betapa seorang profesor sangat dihormati atas sisi prestasinya dan bukan dari penampilan atau jabatannya di Jerman serta negara-negara Barat lain membuat Terry kagum. Sungguh berbeda dengan di tanah air di mana masih banyak profesor atau pejabat yang lebih mementingkan citra diri dibandingkan prestasi atau karya.

4. Menurutnya, Sains Tidak Dapat Menolak Keberadaan Tuhan

Sudah banyak penghargaan yang diperolah Terry. Mulai dari Habibie Award (2001), Leading Scientist (2008) dari Comstech, Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (2009) dari Kemdiknas, Excellent Scientist (2009) dari ASEAN-EU Network, hingga Ganesha Widya Jasa Adiutama (2009) dari ITB. Sampai tahun 2011 saja, tercatat sudah ada sekitar 100 paper di jurnal dan prosiding internasional yang ia publikasikan. Ia pun sudah menjadi visiting researcher di Jepang, Jerman, Amerika, Korea, dan Afrika Selatan lebih dari 20 kali. Sedikitnya sudah 40 kali ia menghadiri konferensi internasional.

Menurutnya, Sains Tidak Dapat Menolak Keberadaan Tuhan [ Image Source ]
Menurutnya, Sains Tidak Dapat Menolak Keberadaan Tuhan [ Image Source ]
Menurut pandangannya, yang paling mahal di dunia riset dan bidang kehidupan lain adalah ide atau kreativitas. Yang sayangnya bangsa Indonesia masih harus berjuang lebih keras untuk hal ini dan Terry sangat optimis akan masa depan yang lebih baik untuk tanah air. Untuk mencapai kesuksesan, Terry menggunakan kreativitas, kerja keras, efektivitas, dan hukum kekelan energi sebagai kuncinya. Apa yang dimaksud dengan hukum kekekalan energi di sini? Maksudnya, “Tidak ada sukses yang dapat dicapai dengan kemalasan!” Perjuangannya menjadi sukses seperti saat ini jelas tak terjadi hanya dalam waktu semalam. Ada perjuangan dan kisah jatuh bangun yang tidak mudah.

Tahun 2010 saat buku terbari Stephen Hawking terbit, The Grand Design, dunia dibuat geger. Pasalnya Hawking seolah menolak peran serta eksistensi Tuhan. Fenomena tersebut ditanggapi Terry dari sudut pandang yang menarik. Menurut pandangannya, penyebab banyak sekali ilmuwan jadi ateis adalah karena mekanisme sains yang reduksionis dan mengharuskan penjelasan penciptaan alam semesta melalui proses-proses ilmiah yang dapat diterangkan dengan logika. Seperi itulah mekanisme di dunia sains. Akan tetapi, menurut Terry, sains tidak dapat menolak keberadaan Tuhan.

Ambil contoh teori The Big Bang, teori penciptaan alam semesta yang dianut para kosmolog hingga detik ini. Walaupun teori The Big Bang memaparkan soal proses-proses penciptaan materi hingga ke galaksi, teori ini tak bisa menjelaskan kenapa harus terjadi Big Bang. Pada waktu penciptaan (t = 0 detik) terjadi singularitas, kerapatan massa dan temperatur bernilai tak terhingga. Untuk urusan tak tertingga, menurut Terry, para matematikawan angkat tangan. Para fisikawan pun tak berkutik karena bahasa fisika adalah matematika. Lalu apa kesimpulannya? Solusi kesimpulannya adalah bahwa inilah hukum alam dan Tuhan lah yang menciptakan semua. Tugas manusia tak lain adalah berusaha sebaik mungkin untuk mengerti firman-Nya lewat hukum-hukum alam yang bisa diamati.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
BERITA LAINNYA
BERITA PILIHAN
Seperti Ini Nasib Para Pemain Film Esek-Esek Setelah Pensiun, Dijamin Kaget Kamu Lihatnya 25 Foto Selfie Fail Abis yang Bikin Kamu Ketawa Ngakak Sampe Perut Mules 15 Potret Nona Berlian, Pemeran Ronaldowati yang Kini Cantiknya Tak Kalah dari Gadis Korea Tak Hanya Fenomena Gancet, Ternyata ‘Cupang’ Juga Bisa Membuat Orang Meninggal 7 Fakta Tentang Dunia Esek-Esek Jepang yang Bakal Membuatmu Tercengang Kabar Terbaru Dicky Haryadi, Kontestan AFI 1 yang Dulu Pernah Bikin Para Cewek Meleleh Ternyata Segini Gaji Pemain Film "Dewasa", Penderitaan Tidak Sebanding dengan Penghasilan Cantik dan Soleha, Putri Sulung Almarhum Uje ini Bikin Cowok Rela Ngantri Jadi Imamnya 5 Bercandaan Presiden Soekarno yang Lebih Kocak Dari Stand Up Comedy Wanita Ini Bikin Geger Gara-Gara Mengaku Sebagai Nabi Terakhir dan Punya Kitabnya Sendiri
BERITA TERKAIT
BACA JUGA