Inilah Legenda Terbentuknya 5 Pulau yang Masih Dipercaya Masyarakat Indonesia

oleh Anas Anas
09:34 AM on Mar 17, 2016

Indonesia sangat dikenal dunia sebagai negara kepulauan. Hal ini tak muluk-muluk karena lebih dari 17.000 pulau merupakan jajaran yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Tersusunnya Indonesia atas pulau-pulau ini banyak memiliki legenda yang tersebar di tengah-tengah masyarakat tentang bagaimana pulau-pulau ini bisa terbentuk.

Meski merupakan cerita lama, sebagian besar masyarakat Indonesia masih begitu percaya dengan adanya legenda ini atau menganggapnya benar-benar ada. Walaupun secara ilmiah sulit untuk dibuktikan, cerita rakyat ini sudah turun-temurun diceritakan kepada anak-cucu. Termasuk 5 legenda terbentuknya pulau di Indonesia yang akan kami ulas berikut.

Baca Juga
Tak Banyak yang Tahu, Inilah Aksi Hebat Kepolisian Indonesia yang Begitu Disegani di Dunia
6 Cara Ini Bisa Dipakai Agar Tragedi ‘Panjat Pinang Maut’ Tak Terjadi Lagi

1. Legenda Terbentuknya Pulau Bali

Menurut legenda, ternyata Pulau Bali dulunya satu daratan dengan Pulau Jawa. Konon, terpisahnya Pulau Bali dikarenakan gara-gara ulah Manik Angkara, seorang anak dari Sidi Matra yang kaya raya. Diceritakan Manik Angkara sangat gila judi dan menghabiskan harta orangtuanya sampai terlilit hutang. Untuk melunasi hutangnya, Sidi Matra meminta bantuan naga sakti penjaga harta karun di kawah Gunung Agung.

3
Pulau Bali [ Image Source ]

Namun sayang tabiat Manik Angkara tidak berubah. Justru dia sampai berani menipu sang naga. Karena marah, sang naga membakar Manik Angkara sampai meninggal. Orang tuanya memohon agar sang naga berkenan menghidupkan kembali Manik Angkara. Permintaan itu dikabulkan. Dengan kesaktiannya, sang naga mengeluarkan mata air di antara tempat Sidi Matra berdiri dengan tempat Manik Angkara yang dihidupkan kembali. Lama-kelamaan tanah itu terpisahkan oleh air dan kemudian terbentuklah pulau kecil yang sekarang dinamakan Pulau Bali.

2. Legenda Terbentuknya Pulau Samosir

Legenda terbentuknya Pulau Samosir erat kaitannya dengan cerita terbentuknya Danau Toba. Konon dahulunya ada seorang pemuda bernama Toba yang menikahi sesosok wanita yang merupakan jelmaan dari seekor ikan. Sebelum menikah, sang wanita meminta Toba untuk bersumpah tidak akan mengungkit lagi dari mana dia berasal. Setelah menikah, keduanya dikaruniai seorang putra yang dinamakan Samosir.

9602
Pulau Samosir [ Image Source ]

Petaka datang ketika Samosir disuruh ibunya untuk mengantar bekal makan siang ayahnya yang bekerja di ladang. Karena lapar, di tengah perjalanan makanan itu justru dimakan oleh Samosir. Toba lantas sangat marah dan tidak sengaja menyebut Samosir sebagai anak ikan. Mendengar aduan anaknya, sang ibu menyuruh Samosir mencari gunung yang paling tinggi dan menangis sekeras-kerasnya. Tidak lama kemudian hujan lebat membanjiri daerah itu dan membuat Toba tenggelam. Singkat cerita, gunung tempat Samosir berlindung menjadi pulau di tengah danau. Danau itu adalah Danau Toba dan pulau itu dinamakan Pulau Samosir.

3. Legenda Terbentuknya Pulau Madura

Asal-usul Pulau Madura konon berawal dari pembuangan putri raja ke tengah hutan karena hamil sebelum menikah. Sang putri mengaku, kehamilannya disebabkan mimpinya yang didatangi bulan purnama. Namun sang raja tak mempercayai alasan putri kesayangannya itu. Raja memerintahkan patih untuk membunuh sang putri. Jika alasan sang putri benar, maka dia tidak akan terbunuh. Benar saja, pedang sang patih tidak dapat menyentuh tubuh sang putri.

1
Pulau Madura [ Image Source ]

Patih lalu membuatkan rakit untuk putri dan menyuruhnya melarikan diri. Ketika sedang berlayar, bulan purnama muncul dan lahirlah bayi laki-laki yang dinamakan Raden Sagara. Sesampai di darat, bayi yang baru berumur beberapa hari ini tiba-tiba meloncat dan berlari kesana-kemari sampai menemukan sarang lebah di pohon. Seperti memberi ijin kepada sang bayi, sekawanan lebah itu menyingkir dan Raden Sagara serta ibunya dapat menikmati madu sampai kenyang. Sang putri kemudian menamakan pulau ini dengan nama Madu Ara Ara, artinya madu yang lapang.

4. Legenda Terbentuknya Pulau Belitung

Masyarakat asli Belitung menyebut pulau ini dengan nama Belitong, artinya “Bali terpotong”. Konon dulunya di Pulau Bali ada seorang raja yang mempunyai putri yang sangat cantik. Sayangnya putri ini mempunyai penyakit kelamin. Raja dan ratu mengadakan sayembara untuk menyembuhkan penyakit sang putri, namun tidak ada yang berhasil. Raja akhirnya mengasingkan sang putri ke tengah hutan dengan ditemani seekor anjing. Mereka hidup hanya berdua.

2
Pulau Belitung [ Image Source ]

Suatu hari sang putri didapati lulu balang raja dalam keadaan hamil. Sang raja pun sangat marah dan berdo’a kepada dewa untuk menghancurkan tanah di mana putri itu tinggal. Hujan dan petir kemudian terjadi di sekeliling putri dan anjingnya. Tanah itu lama-kelamaan retak dan terpisah dari Pulau Bali. Tanah itu terombang-ambing di tengah lautan sampai mendekat ke Sumatra. Dua nelayan yang melihat tanah itu segera menancapkan jangkar hingga tanahnya tidak lagi dapat bergerak. Tanah itulah yang kemudian dinamakan Belitung.

5. Legenda Terbentunya Pulau Weh

Pulau Weh, yang merupakan pulau paling ujung Sumatra dan salah satu pulau terluar Indonesia, konon aslinya merupakan bagian dari Pulau Sumatra. Suatu hari terjadi gempa bumi dan hujan hebat di Sumatra sehingga menyebabkan ujung pulau itu patah dan terbentuk pulau kecil yang gersang.

4
Pulau Weh [ Image Source ]

Diceritakan ada seorang putri cantik yang meminta Tuhan supaya menjadikan pulau itu subur dan dapat ditempati oleh penduduknya. Putri membuang semua perhiasannya ke laut untuk sesajen. Hujan lebat pun turun kembali. Akibat hujan itu, terbentuk Danau Anak Laut di tengah Pulau Weh yang menjadikannya subur. Sang putri kemudian menceburkan diri ke laut dan berubah menjadi Pulau Rupiah yang letaknya berdekatan denga Pulau Weh. Sementara perhiasan-perhiasannya yang dibuang di laut berubah menjadi terumbu karang yang indah yang mengelilingi Pulau Weh.

Itulah legenda terbentuknya 5 pulau di nusantara. Anda boleh percaya ataupun tidak, semua kembali kepada sudut pandang Anda masing-masing dalam memahaminya. Yang pasti cerita ini sudah banyak mewarnai kehidupan masa kecil anak-anak Indonesia, terutama mereka yang masih sangat lekat dengan nilai tradisionalnya.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA