7 Kasus Paling Kontroversial Tentang Suntik Mati

oleh titi
09:06 AM on Apr 5, 2015

Suntik mati merupakan praktek yang masih illegal di beberapa negara, namun ada juga yang telah memberikan ijin untuk melakukan praktek ini di  beberapa tempat di dunia. Suntik mati merupakan proses mematikan dengan cara dibius untuk mengurangi rasa sakit pada seseorang yang sudah tidak memiliki harapan hidup atau yang telah sakit parah.

Dan di bawah ini adalah kasus suntik mati yang paling membuat kontroversi sepanjang sejarah. Kesakitan dan keputusasaan membuat mereka rela untuk mati dengan cara suntik mati.

Baca Juga
Bukan Metropolitan, Justru Inilah 5 Kota Paling Kaya yang Ada Di Indonesia
5 Hal Menjengkelkan Tentang SEA Games di Malaysia Ini Bikin Indonesia Meradang

1. Gadis 14 Tahun Asal Chili Memohon Presiden Untuk Membiarkannya Mati

Seorang gadis berusia 14 tahun asal Chili yang menderita Cystic Firbrosis terminal meminta presiden negaranya untuk memberikan ijin untuk mengakhiri hidupnya. Valentina Maureira didiagnosa penyakit Cystic fibrosis sejak bayi, ia kemudian menguploud sebuah video di halaman facebooknya. Dengan penuh keharuan Valentina memohon untuk dapat bertemu dengan presiden Chili, Michelle Bachelet.

Gadis Chili (c) oddee
Gadis Chili (c) oddee

Video yang telah menyebar dan populer di youtube ini berisi pesan Valentina bahwa ia sudah bosan hidup dan menginginkan sebuah suntikan mati untuk mengakhiri hidupnya. Video tersebut diunggah pada Februari 2015 lalu dan hastag ValentinaMoureira menjadi trending topik teratas di Chili Twitter.

Video ini juga memicu diskusi tentang haruskah suntik mati dilegalkan di negara tersebut. Cyctic fibrosis merupakan penyakit genetik yang belum ada obatnya. Penyakit ini melemahkan pasien dengan menyumbat paru-paru dan organ tubuh mereka dengan lapisan lendir tebal. Valentina harus bergantung pada alat bantu pernafasan dan makan melalui tabung. Permintaannya untuk suntik mati datang setelah mengetahui kematian pasien Cystic fibrosis lain dirumah sakit sebulan lalu.

2. Wanita 29 Tahun Pindah ke Oregon Untuk Mendapat Hak Suntik Mati

Pada 1 November 2014 lalu, Brittany Maynard seorang wanita yang didiagnosa telah menderita penyakit parah dan mengambil haknya untuk mengakhiri hidupnya di bawah UU kematian di Oregon. Brittany meninggal di rumahnya dengan mengkonsumsi obat barbiturates dengan dosis yang mematikan. Dia sempat memposting ucapan selamat tinggal di akun facebooknya.

Brittany Maynard (c) oddee
Brittany Maynard (c) oddee

Brittany dan suaminya Diaz menarik perhatian nasional bulan sebelumnya, ketika pasangan ini mengumumkan akan mengambil keuntungan dari adanya UU kematian yang ada di Oregon. UU kematian ini memungkinkan penduduk dengan penyakit parah untuk mengambil keputusan tentang hidupnya sendiri dengan meminum obat mematikan yang disediakan oleh dokter.

Pasangan telah pindah ke Oregon dari California pada bulan Juni khusus untuk menggunakan hak suntik mati di negara tersebut. Brittany didiagnosa menderita kanker otak stadium 4 glioblastoma pada Januari 2014 dan diberitahu memiliki waktu 6 bulan untuk bisa bertahan. Keputusannya untuk mengakhiri hidupnya menjadi perdebatan penggunaan suntik mati sebagai pertolongan atau sebagai keputusan untuk bunuh diri.

3. Seorang Istri yang Ingin Mati Bersama Suaminya yang Sekarat

Menjalani kehidupan pernikahan selama 50 tahun bersama, George dan Betty Coumbias dari Kanada ingin mati bersama-sama. Mereka berusaha untuk menjadi suami istri pertama yang meminta untuk suntik mati di bawah hukum. Keduanya telah tampil dalam Dokumenter John Zaritsky ditahun 2007, ‘The Suicide Tourist’. Suntik mati masih ilegal di negara Kanada, sehingga mereka berharap untuk mengakhiri hidup mereka dengan persetujuan dari pemerintah Swiss.

George dan Betty Coumbias (c) oddee
George dan Betty Coumbias (c) oddee

Permintaan tidak biasa pasangan ini, dilatar belakangi George Coumbias yang menderita sakit jantung. Betty sebenarnya dalam keadaan sehat namun ia ingin terus bersama dengan suaminya. Ludwig Minelli, direktur kelompok Dignitas ‘Swiss Assissted-Suicide’ mengajukan petisi agar dokter memberikan obat mematikan bagi orang-orang yang sebelumnya telah berkonsultasi dengan kelompoknya. Namun pasangan Coumbias ini ditolak untuk mendapatkan ijin suntik mati karena alasan beberapa hal. Ditahun 2009, hal yang tidak terduga terjadi, Betty divonis kanker dan meninggal, sementara George masih sehat dengan kondisi jantungnya yang tetap lemah.

4. Saudara Kembar yang Akan Buta Akhirnya Meminta Suntik Mati

Pada tahun 2012, sepasang saudara kembar identik Marc dan Eddy Verbessem yang lahir tuli dibunuh oleh dokter Belgia dengan suntik mati setelah mengetahui mereka akan segera buta. Kasus ini termasuk unik dan terjadi di negara yang melegalkan suntik mati, dimana saudara kembar yang berusia 45 tahun dari Antwerp memilih mati karena akan menjadi buta untuk selamnya. Pada 14 Desember 2012 mereka diberi suntikan mati di rumah sakit Universitas Brusseldi Jette.

 Marc dan Eddy Verbessem
Marc dan Eddy Verbessem (c) oddee

Kasus ini sangat kontroversial karena keduanya dinilai tidak menderita sakit fisik yang ekstrem. Pasangan ini diketahui bekerja sebagai tukang sepatu dan berbagi rumah bersama. David Dufour, dokter yang memimpin suntik mati tersebut mengklaim jika si kembar telah membuat keputusan bulat untuk mendapatkan suntik mati.

5. Penjahat yang Diberi Hak Suntik Mati Ketimbang Menderita di Penjara

Pada bulan September 2014, seorang pembunuh dan pemerkosa yang mengaku sangat menderita secara psikologis dipenjara meminta hak untuk mati di bawah UU suntik mati liberal Belgia. Permintaan ini kemudian membuat setidaknya 15 permintaan serupa dari narapidana lain. Sejak tahun 2002, orang yang tinggal di Belgia dapat meminta dokter untuk mengakhiri hidup mereka jika ahli medis setuju dengan penderitaan fisik atau mental yang tidak tertahankan terjadi pada mereka dan tidak dapat diubah.

Frank Van Den Bleeken (c) oddee
Frank Van Den Bleeken (c) oddee

Frank Van Den Bleeken, dihukum 50 tahun karena penyerangan seksual dan pembunuhan, berpendapat jika ia tidak bisa mengatasi dorongan kekerasan dan akan menghabiskan hidupnya di penjara. Dia telah dipenjara selama 30 tahun dan meminta untuk mengakhiri hidupnya tiga tahun lalu. Dewan yang menilai setiap kasus mengatakan ia harus mencari bantuan psikologis pertama, tapi setelah ia gagal menemukan pengobatan tersebut permintaan suntik mati akan dikabulkan. Ia kemudian dijadwalkan akan mendapat suntik mati pada Januari 2015 tapi tiba-tiba dibatalkan. Hal ini dikarenakan dokter yang menarik dirinya dari proses mematikan Frank. Keluarga dari korban juga mengutuk keputusan Frank untuk mati secara cepat, mereka menginginkan Frank tetap memenuhi hukumannya dalam penjara setimpal dengan tindakan yang ia lakukan.

6. Keinginan Mati dari Seorang Pria Lumpuh

Pada tahun 2013, seorang pria Indiana lumpuh dari bahu kiri ke bawah tubuhnya setelah kecelakaan memohon untuk mengakhiri hidupnya setelah kecelakaan itu. Timothy ‘Tim’ Bowers, 32 tahun sedang berburu rusa sampai akhirnya ia terjatuh dari pohon ketinggian 16 kaki dan mengalami cedera tulang belakang yang parah.  Tim tidak dapat bergerak dan bergantung pada ventilator untuk bernafas. Meskipun Tim mendapatkan operasi pada tulang belakangnya ia tidak akan pernah bisa berjalan atau bahkan tinggal di luar rumah sakit lagi.

Timothy ‘Tim’ BowersTimothy ‘Tim’ Bowers
Timothy ‘Tim’ Bowers (c) oddee

Tim meminta untuk melepas alat bantu pernafasan dan tiap kali keluarganya memasangkannya lagi Tim selalu menolak dengan tegas. Dokter juga telah berulang kali membantu memasang alat pernafasan tapi Tim tetap menolak. Jadi mereka akhirnya melepas alat pernafasan itu dan Tim akhirnya meninggal lima jam kemudian. Tim, baru saja menikah tiga bulan sebelumnya meniggalkan istrinya yang tengah mengandung. Telah diketahui jika Tim sebelumnya telah berbicara dengan istrinya tentang keinginannya untuk mengakhiri hidupnya dibanding harus berada di kursi roda.

7. Suntik Mati Karena Tumor di Wajah

Pada tahun 200, seorang pensiunan guru Perancis Chantal Sebire didiagnosa dengan Esthesioneuroblastoma. Suatu bentuk yang jarang dari kanker yang hanya ada 200 kasus yang telah dilaporkan dalam 20 tahun terakhir. Chantal menolak untuk segala pengobatan apapun pada saat diagnosa. Ia tidak ingin mengambil resiko operasi atau obat dan mulai berjuang untuk mendapatkan hak untuk mati melalui suntik mati.

Chantal Sebire
Chantal Sebire (c) oddee

Pada Maret 2008, pengadilan Perancis membantah jika mantan guru berusia 52 tahun diberi ijin untuk mengakhiri hidupnya. Chantal memang meminta untuk mendapatkan hak untuk mati dengan suntik mati bukannya ijin untuk mati dengan caranya sendiri. Beberapa hari kemudian, Chantal ditemukan meninggal di rumahnya. Hasil otopsi menyimpulkan dia mati tidak secara normal. Tes darah berikutnya menunjukkan konsentrasi racun obat pentobarbital, barbiturat ada di dalam tubuh Chantal. Kematian Chantal menjadi perdebatan mengingat obat yang dipakai ternyata tidak tersedia di apotik Perancis, namun dipakai oleh beberapa negara untuk suntik mati.

 

Suntik mati memang diperuntukkan bagi mereka yang mengalami penderitaan akibat sakit parah yang tidak tertolong lagi. Meski begitu masih banyak negara yang menolak memberlakukan hukum tersebut. Akankah Indonesia segera ikut melegalkan hak suntik mati pada warga negaranya yang sakit parah?

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA