Korowai, Suku Penganut Kanibalisme Terakhir di Indonesia yang Berdiam di Pelosok Papua

Mereka lebih dari sekadar masyarakat, namun bagian dari harta tak ternilai kebhinnekaan Indonesia Raya.

oleh Faisal Bosnia Ahmad
10:00 AM on Apr 1, 2017

Ada sebuah suku yang hidup terpencil di pelosok Papua. Di sebuah tempat eksotis dengan akses jalan yang sangat terbatas dan belum terpetakan secara utuh tersebut, hiduplah suatu suku yang dipercaya sebagai suku penganut kanibalisme terakhir yang ada di Indonesia. Namanya adalah suku Korowai.

Suku yang telah lama eksis ini baru ditemukan oleh masyarakat peradaban modern pada tahun 1980. Sepuluh tahun sebelumnya, seorang misionaris Kristen asal Belanda secara tak sengaja masuk ke wilayah ini.

Baca Juga
Blunder! 9 Pejabat Ini Pernah Salah Ucap Ketika Sedang Menyampaikan Pidato Penting
Inilah Perbandingan Tunjangan Veteran Indonesia dan Luar Negeri Ibarat Langit dan Bumi

Merasa diterima dengan baik, ia memutuskan untuk tinggal bersama suku tersebut selama beberapa waktu. Selama hidup di sana, sedikit demi sedikit ia berhasil mempelajari bahasa Awyu-Damut, bahasa yang suku Korowai gunakan sehari-harinya. Ia juga ikut mendirikan permukiman di sana. Sejak saat itu, suku Korowai mulai terbuka dengan kedatangan warga asing.

Ciri-ciri fisik dan jumlah populasi

Ciri-ciri fisik dan penampilan mereka tak ubahnya dengan suku lain yang ada di Papua. Hanya saja, mereka termasuk salah satu suku yang tak mengenakan koteka. Sejauh ini tercatat populasi mereka ada 3000 orang.

Ciri-ciri fisik mereka tak ubahnya mayoritas suku lain yang ada di Papua. [Image Source].
Tepatnya, mereka menempati suatu kawasan hutan yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Laut Arafuru. Seperti halnya suku lain yang belum tersentuh kehidupan modern, masyarakat Korowai menjalani kehidupannya dengan cara berburu. Hampir semua tanaman atau hewan yang ada di hutan biasa mereka makan.

Mereka buat sendiri alat penunjang perburuan, seperti kapak yang terbuat dari batu maupun tombak untuk mempermudah mereka menangkap ikan di sungai-sungai.

Meski begitu, suku ini sudah lama punya kebiasaan berkebun. Mereka menanam buah-buahan dan sayuran hijau. Layaknya warga Papua, sagu adalah santapan utama mereka. Suku ini juga memelihara anjing liar yang siap membantu mereka ketika berburu.

Tempat berlindung di pucuk pohon

Satu dari sekian banyak hal unik dari suku ini adalah tempat tinggalnya. Mereka hidup di atas sebuah rumah yang menyatu dengan pohon tinggi menjulang. Bahkan, kabarnya salah satu rumah mereka ada yang tingginya mencapai 50 meter di atas tanah.

Citra “perumahan” mereka yang diambil dari ketinggian. [Image Source].
Rumah-rumah ini dibangun di atas pohon-pohon yang kokoh sebagai tiang penyangga utama dan pondasi satu-satunya. Teknik pembuatannya primitif, namun jenius. Lantainya hanya terbuar dari dahan kayu, sedangkan kulit pohon sagu menjadi dindingnya. Dedaunan yang lebar digunakan sebagai atap rumah mereka.

Tak ada paku atau semen sama sekali. Mereka hanya menggunakan tali rotan yang kuat untuk merekatkan material yang ada. Akses ke rumah mereka juga cukup ekstrem sebetulnya. Jalan masuk dan keluar satu-satunya adalah dengan menaiki tangga panjang berbahan ranting yang menjuntai dari atas ke bawah.

Salah seorang anggota suku tengah memanjat ke rumahnya. [Image Source].
Usut punya usut, ternyata rumah mereka adalah satu-satunya rumah di dunia yang didirikan di atas pohon setinggi itu. Tujuan mereka mendirikan rumah dengan ketinggian tersebut tak lain adalah untuk berlindung dari ancaman hewan buas terutama ketika malam tiba. Ada juga yang mengatakan kalau rumah tersebut dipancang di atas pucuk pohon sebagai tempat berlindung dari ancaman suku lainnya.

Kanibalisme yang mengerikan namun sesuai dengan norma setempat

Berbeda dengan imajinasi kita mengenai kanibalisme seperti yang banyak terpengaruh dari film-film barat, suku Korowai punya aturan tersendiri dan sakral untuk dipatuhi dalam pemahaman mereka yang satu ini.

Raffaele tengah bercengkerama dengan Suku asli Korowai. [Image Source].
Menurut penuturan seorang jurnalis yang bernama Paul Raffaele, yang berkunjung dan ikut menetap bersama suku primitif tersebut selama beberapa hari, kanibalisme yang dilakukan oleh suku ini berbeda dengan stereotip kita kebanyakan.

Tak sembarang manusia yang dibunuh lalu disantap, suku Korowai hanya mempraktikkan hal tersebut terhadap manusia yang mereka anggap menyimpang dari aturan dan kepercayaan mereka. Mereka yang ketahuan sebagai khakhua saja yang jadi target kanibalisme suku Korowai.

Apa itu Khakhua? Itu adalah bahasa mereka yang berarti penyihir atau dukun. Warga dari suku mereka atau suku sekitarnya yang dicurigai sebagai Khakhua akan diadili. Jika terbukti benar, orang tersebut akan dibunuh dan dimakan. Setiap bagian akan dibagikan secara merata, tungkai, lengan, badan, bahkan organ dalam seperti usus dan otak pun tak luput mereka makan.

Syarat lain untuk menjalankan praktik ini adalah apabila ada seorang warga yang sakit atau terluka parah hingga merasa tak bisa diselamatkan. Meski kedengarannya cukup mengerikan, namun menurut Raffaele, kanibalisme hanyalah suatu bentuk adat yang diwarisi secara turun temurun dan merupakan bagian dari sistem kehidupan mereka.

Itulah sekelumit kisah singkat dan eksplanasi mengenai Korowai, suku yang hidup di pelosok timur Papua sana. Sekadar diketahui, saat ini sudah banyak warga suku Korowai yang mulai membuka diri dan hidup membaur dengan masyarakat modern lainnya di Papua.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA