Pesona Suku Indonesia Bermata Biru di Siompu yang Mulai Punah

oleh Sastranagari
14:13 PM on Dec 13, 2016

Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri dari gugusan kepulauan. Jika dihitung, pulau di Indonesia jumlahnya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan. Beberapa pulau di Indonesia ini sudah dihuni oleh manusia, sedangkan yang lainnya ada yang sama sekali belum terjamah.

Selain memiliki banyak pulau, penduduk Indonesia juga terdiri dari beragam suku. Suku-suku ini memiliki perbedaan bahasa dan budaya sesuai dengan tempat tinggal mereka. Namun kalau dilihat dari segi fisik, penduduk Indonesia memiliki ciri yang umum, yaitu tubuh kecil, rambut hitam, kulit sawo matang, dan iris mata berwarna hitam atau coklat.

Namun, pada tahun 2016 ini ada sebuah penemuan mengejutkan mengenai rumpun bangsa Indonesia. Di sebuah desa di Sulawesi Tenggara terdapat penduduk yang memiliki ciri fisik berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya. Mereka lebih mirip dengan rumpun kaukasian eropa, yaitu memiliki iris mata berwarna biru.

Suku Indonesia Bermata Biru di Desa Siompu

Keberadaan sukuĀ Indonesia bermata biru ini terkuak oleh seorang peneliti bernama La Ode Yusrie. Ia yang sejatinya akan meneliti tentang benteng-benteng di Siompu berubah haluan ketika mendengar kabar adanya suku Indonesia yang bermata biru dari seorang pedagang. Awalnya ia menganggap berita tersebut hoax, tapi rasa penasaran menuntunnya hingga sampai di Desa Kaimbulawa yang jauh dari Kecamatan Siompu Timur.

Lelaki bermata biru di Siompu [image source]
Lelaki bermata biru di Siompu [image source]
Di sana ia bertemu dengan Dala, salah seorang warga Desa Kaimbulawa yang memiliki iris mata berwarna biru. Yusrie sempat bercakap-cakap dengan Dala, tapi dari gerak-geriknya lelaki yang berprofesi seperti guru itu seperti menjaga jarak. Tak hanya bertemu dengan Dala, Yusrie juga bertemu dengan Ariska Dala yang juga memiliki iris mata berwarna biru. Gadis tersebut mewarisi iris mata biru dari ayahnya, Dala.

Warisan Iris Mata Biru dari Portugis

Ariska Dala [image source]
Ariska Dala [image source]
Saat ditanyai lebih lanjut mengenai bagaimana ia mempunyai iris mata biru, Dala mulai bercerita. Dengan ingatannya yang terbatas, ia memaparkan bahwa mata biru miliknya dan Ariska Dala diwarisi dari orang-orang Portugis. Pada abad ke-16, Desa Siompu juga dikuasai oleh Portugis. Mereka berhubungan baik, bahkan orang Portugis diperbolehkan meminang gadis Siompu.

Kemudian pemimpin Portugis menikahi gadis keturunan bangsawan bernama Waindawula. Ia adalah keturunan dari La Laja, bangsawan Wolio. Salah satu keturunannya La Ode Ntaru Lakina Liya (Raja Liya) yang berkuasa pada tahun 1928 memiliki perawakan seperti bangsa Eropa.

Hanya Tinggal Segelintir Pemilik Mata Biru di Siompu

Ras campuran [image source]
Ras campuran [image source]
Menurut Dala, saat ini sudah banyak rumpun bermata biru yang pergi dari Siompu. Mereka banyak yang memilih pindah ke daerah lain, salah satunya Ambon. Di sana hidup beberapa orang Indonesia bermata biru, termasuk kakak Dala, orang yang dianggapnya sangat paham mengenai asal usul rumpun orang Indonesia bermata biru di Siompu.

Desa Kaimbulawa sendiri dihuni oleh sebanyak 20 KK. Namun, hanya 10 orang saja yang memiliki mata biru termasuk Dala dan anaknya. Sisanya hanya memiliki perawakan mirip dengan orang Eropa, berambut pirang dan berkulit putih, tapi tak memiliki iris mata berwarna biru.

Jejak Rumpun Bermata Biru di Indonesia

Pemuda Aceh mirip bule [image source]
Pemuda Aceh mirip bule [image source]
Adanya rumpun bermata biru ini membuktikan bahwa Indonesia kaya akan keanekaragaman masyarakatnya. Sebelum ramai diberitakan rumpun bermata biru di Siompu, di sebuah pedalaman Halmahera juga terdapat suku Lingon yang memiliki ciri-ciri hampir sama dengan penduduk Siompu.

Selain Lingon, di kawasan Lamno Jaya, Aceh juga terdapat masyarakat bermata biru. Mereka juga berbagi kesamaan ciri-ciri ras kaukasoid lainnya, yaitu berkulit putih, tinggi, dan pirang.

Dari beragamnya ciri fisik manusia tersebut, kita bisa belajar satu hal, yaitu perbedaan adalah hal yang menarik. Dengan adanya perbedaan, seharusnya kita dapat saling memahami dan menikmati keindahannya. Bukannya malah saling mencaci dan menebar kebencian. Setuju nggak? Next

BERITA TERKAIT
BACA JUGA