5 Sisi Lain OSPEK dan MOS di Indonesia Meski Banyak Dihujat

oleh Ayu
13:35 PM on Jul 30, 2015

Belakangan ini OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) dan MOS (Masa Orientasi Siswa) di Indonesia, jadi sorotan yang penuh pro dan kontra. Wajar sih, kepercayaan masyarakat menipis sejak kasus OSPEK yang makan korban mulai bermunculan. Padahal para orang tua hanya ingin anaknya sekolah tinggi dan mendapatkan bekal untuk masa depan yang lebih baik.

Tapi yakin deh, masih ada sebagian besar di antara kita, pernah melihat sisi lain OSPEK dan MOS di Indonesia yang belakangan bisa bikin parno banyak calon siswa/mahasiswa baru dan para orang tua ini. Apa saja sih? Coba intip dulu yang berikut ini sambil agak bernostalgia.

Baca Juga
Inilah 4 Fakta Meikarta, Kota Baru yang Katanya Bakal Menyaingi Ibukota
Inilah 4 Jasa Tak Terlupakan yang Dilakukan Malaysia Kepada Bumi Pertiwi

1. Pengalaman Masuk Kuliah/Sekolah Tak Terlupakan

Berangkat pagi buta, dibentak-bentak karena telat, disuruh pake atribut aneh-aneh dan malu-maluin sambil dijemur di tengah lapangan panas, itulah stereotip dari masa orientasi yang sering kita alami. Beberapa tahun lalu, belum ada yang bersuara tentang MOS dan OSPEK meski harus menjalani banyak syarat yang konyol. Tapi belakangan, banyak yang bilang orientasi dengan cara seperti ini nggak berguna sama sekali.

MOS tak terupakan
Masa orientasi tak terlupakan [Image Source]
Di sisi lain, mereka yang sudah pernah menjalani OSPEK dan MOS pasti inget banget dengan hal-hal konyol namun nggak terlupakan itu. Kalau diceritakan lagi malah bikin ketawa sendiri dan mungkin, nggak nyesel-nyesel amat pernah menjalani masa orientasi yang seperti itu. (Walau nggak ingin mengulang untuk yang kedua kali..)

2. Lebih Akrab dengan Teman Baru

Pernah nggak, gara-gara dihukum bareng sama peserta OSPEK lain, kita malah dapet teman baru dan akrab dengan mereka? Orientasi kita memang konyol dan malu-maluin, apalagi kalo udah ketauan salah dan dihukum di depan umum.

Lebih akrab [Image Source]
Lebih akrab [Image Source]
Tapi nggak sedikit yang gara-gara kejadian itu, malah bisa dikenal orang satu kampus atau dapet teman baru. Apalagi biasanya dalam satu tim atau satu kelas, misalnya ada satu yang salah, seluruh anggotanya bisa kena getahnya. Ngerepotin sih, tapi tanpa sadar kita malah jadi lebih akrab. Notice that?

3. Cinlok dengan Kakak Tingkat

Dalam masa orientasi, pasti ada kakak yang baik, kakak yang galak, kakak yang religius dan sebagainya. Intinya ada kakak-kakak OSPEK yang meninggalkan kesan tersendiri di hati. Sampe-sampe ada momen untuk polling atau nulis surat buat ‘Kakak Ter-..’ di setiap kali menjelang masa orientasi berakhir. Nggak semua kakak yang judesnya setengah mati itu dibenci, karena ternyata itu hanya akting. Dan di luar itu, selepas OSPEK ternyata mereka mempesona banget.

Cinlok sama kakak pendamping waktu MOS/OSPEK [Image Source]
Cinlok sama kakak pendamping waktu MOS/OSPEK [Image Source]
Nggak sedikit pula cinlok alias cinta lokasi terjadi gara-gara OSPEK atau MOS. Ada yang cuma sampai jadi gebetan, ada juga yang sampai lanjut ke pelaminan. Ehem, siapa nih yang pernah ngalamin?

4. Nggak Gengsian Lagi

Karena waktu OSPEK dan MOS, sepersekian harga diri kita agak ditanggalkan. Maksudnya kita nggak bisa gengsi melakukan aksi yang aneh, pakai baju yang nggak biasa, sampai menjalani hukuman yang malu-maluin.

Nggak gengsian lagi [Image Source]
Nggak gengsian lagi [Image Source]
Sedikit menanggalkan gengsi ini jadi latihan untuk beradaptasi di tempat baru, dengan teman yang baru dan norma lingkungan yang baru pula. Nggak peduli latar belakang, warna kulit atau apapun, saat orientasi sebenarnya kita sedang ‘disambut menjadi satu keluarga’ dengan almamater yang baru.

5. Belajar Survive

Waktu OSPEK, kita pasti diminta bawa yang aneh-aneh. Makanan yang dikode-kodein seperti sayur yang dalam bahaya (sayur trancam), atau benda-benda yang penuh teka-teki dan ‘mendadak dangdut’ banget nyarinya.

Survive hunting atribut OSPEK sendiri [Image Source]
Survive hunting atribut OSPEK sendiri [Image Source]
Buat anak rumahan, mungkin hal ini nggak susah-susah amat. Tapi buat mereka yang pendatang, budget terbatas dan jauh dari orang tua, hal ini bisa jadi tantangan banget. Karena selain belajar survive di tempat baru, kita diajari untuk lebih tangguh dan lihai menghadapi ‘kesulitan yang nggak penting-penting amat tapi jadi penting’. Karena nantinya waktu kuliah, fenomena semacam ini bisa sungguhan terjadi, dalam bentuk tugas dosen yang mintanya macem-macem, memahami dosen yang nyentrik dan sebagainya.

Itulah beberapa sisi lain MOS dan OSPEK yang belakangan mulai pudar esensinya. Masa orientasi hanyalah sarana yang punya tujuan baik di awalnya. Tapi bagaimana cara-cara yang digunakan di lapangan, adalah yang menentukan kesungguhan dari masa orientasi itu sendiri. Apa hanya jadi ajang marah-marah balas dendam oleh kakak tingkat? Atau perploncoan bagi mahasiswa baru? Sesungguhnya kita juga tahu, bahwa masa orientasi juga ‘tidak sebercanda itu’.

MOS dan OSPEK sebenarnya tetap perlu. Hanya saja, masa orientasi seperti apa yang sebenarnya kita perlukan untuk benar-benar menyiapkan peserta didik yang baru? Ini yang masih menjadi PR di Indonesia.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA