Inilah Sisi Gelap Atlet Olimpiade yang Selalu Disembunyikan Petinggi Olahraga

oleh Adi Nugroho
13:16 PM on Aug 11, 2016

Hingga hari ini, Indonesia baru menyumbangkan dua medali perak Olimpiade dari cabang olahraga angkat besi. Mereka adalah Sri Wahyuni dan Eko Yuli Irawan yang bertanding dengan sekuat tenaga dan nyaris menggondol medali emas yang sangat berharga itu. Di cabor lain, Indonesia masih menunggu hasil pertandingan dari atlet Panahan dan juga atlet badminton yang diharapkan mampu menyumbangkan emas dan mengumandangkan Indonesia Raya di Rio, Brazil.

Anyway, menjadi seorang atlet apalagi olimpian adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Namun, dibalik kebanggaan itu ternyata banyak sekali sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang. Menjadi atlet ternyata tidak serta merta membuat hidup mereka jadi hebat, bahkan ada yang sampai mempertaruhkan nyawa. Lho, kok bisa? Bisa, coba simak uraiannya di bawah ini.

Baca Juga
Menengok Gaji dan Tunjangan Gubernur dan Wagub DKI, Kalau Dijumlah Bisa Beli Kerupuk 3 Kontainer
4 Kejadian Generasi Micin Pingin Ngeksis Tapi Gak Tahu Tempat Ini Bikin Netizen Geram

Butuh Banyak Biaya dan Tidak Semua Ditanggung Pemerintah

Olahraga memang menyehatkan badan, namun untuk alasan tertentu olahraga adalah sesuatu yang sangat mahal. Hal ini bisa terlihat dari banyaknya atlet yang bangkrut dengan banyak hutang untuk mendukung kariernya dalam berolahraga. Komite olahraga yang menaungi mereka tidak selalu bisa memberikan dana. Apalagi organisasi itu berjenis non profit. Untuk mendapatkan kualitas latihan yang baik serta makanan yang terjaga terkadang atlet harus mengeluarkan banyak uang sendiri.

donasi [image source]
donasi
Beberapa situs seperti realtime sempat mewadahi banyak sekali atlet yang punya kemungkinan tidak bisa bertanding di Rio. Sebagian besar dari mereka tidak memiliki biaya untuk terbang atau akomodasi dan juga makanan yang terjamin lantaran negara tidak mampu menjaminnya. Atlet dari kawasan Amerika dan Inggris banyak menggunakan media ini untuk mencari donatur yang mau membiayai mereka.

Skandal Doping yang Terus Ada Hingga Sekarang

Tidak bisa dimungkiri lagi kalau doping selalu bisa membuat atlet bisa menjalankan pertandingan dengan biak. Bahkan seperti tidak ada penurunan kualitas stamina meski harus bertanding dengan kuat selama berkali-kali. Penggunaan doping sebenarnya sangat dilarang oleh komite olimpiade sejak lama, namun atlet-atlet nakal masih saja menggunakan obat ini agar bisa punya kesempatan untuk memenangkan pertandingan.

Skandal Doping [image source]
Skandal Doping [image source]
Anyway, doping mudah sekali didapatkan di toko-toko atau apotek. Bahkan satu wadah saja hanya dihargai kurang dari Rp100.000,00. Mudahnya akses kepada doping dan obsesi untuk menjadi juara membuat seorang atlet mau melakukan apa saja meski hal ini melanggar aturan yang ada.

Mengorbankan Tubuh Hingga Terjadi Kematian

Olahraga seperti renang memiliki risiko yang sangat besar. Misal pada cabang syncro di mana setiap perenang akan masuk ke dalam air, bolak-balik tubuh di dalam air selama berkali-kali. Gangguan pada kepala karena tekanan tinggi pada air bisa terjadi. Bahkan pingsan setelah melakukan olahraga ini adalah hal yang sangat biasa dan bisa terjadi kapan saja di setiap pertandingan.

Kecelakaan [image source]
Kecelakaan [image source]
Selanjutnya olahraga jenis-jenis angkat besi. Mungkin para atlet sudah mengetahui metode atau prosedur yang tepat. Namun dalam beberapa hal kecelakaan bisa saja terjadi. Pada cabang lari, kemungkinan kerusakan pada kaki bisa terjadi karena anggota tubuh ini diforsir untuk melakukan kerja keras. Selain olahraga yang telah disebutkan risiko cidera hingga cacat permanen bisa terjadi dan akan membuat hidup dari para atlet ini menderita.

Tidak Adanya Jaminan Hidup Saat Pensiun

Saat menjadi atlet maka semua orang akan memujanya. Pemerintah akan memperhatikan hidup dengan jauh lebih baik. Namun, setelah pensiun karena terbentur usia dan cedera, atlet cenderung dibiarkan begitu saja. Mereka akan dibiarkan hidup dengan kemampuannya sendiri. Dana pensiun yang seharusnya diberikan tentu saja tidak ada. Daripada membiayai orang pensiun bukankah lebih baik digunakan untuk pelatihan atlet baru.

penisun [image source]
penisun [image source]
Keadaan seperti ini kerap terjadi di Amerika. Atlet yang dahulu kerap mendapatkan medali harus rela hidup menderita. Bahkan untuk membuayai hidup sendiri mereka harus rela melakukan lelang medali yang merupakan kebanggaan dari mereka. Dari sini saja sudah terlihat bahwa atlet lebih banyak tidak memiliki jaminan hidup saat tua nanti.

Inilah beberapa sisi gelap yang banyak dialami oleh atlet olimpiade di dunia. Bagaimana dengan atlet olimpiade di Indonesia ya? Apakah memiliki nasib yang sama dengan mereka?

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
5 Artis Cilik Zaman Dulu yang Penampilannya Sekarang Bikin Kita Mangap Gak Percaya Potret Kehidupan Mewah Anak Orang Kaya di Hong Kong yang Dijamin Membuatmu Melongo Sempat Jadi Terkenal Secara Instan, Seperti Ini Nasib 4 Artis Dadakan yang Karirnya “Terjun Bebas” 7 Wanita Tercantik di Jepang ini Bikin Dengkul Lemes Orang-orang yang Dulunya Terkenal Ini Kini Nasibnya Berputar 180 Derajat Pria Menikahi Boneka yang Ceritanya Menuai Kontroversi, Ternyata Kenyataannya Bikin Nyesek Inilah 11 Status Kocak “Emak Zaman Now” di Medsos yang Bikin Minder Anak Muda Karena Kalah Eksis 15 Meme FTV Ini Bikin Kamu Nyadar, Bahwa Hidup Nggak Semanis Adegan Film di TV Bukan So Sweet, 10 Foto Prewedding Ini Malah Punya Konsep Kocak Abis, Pasti Ketawa Liatnya Kisah Sedih Eva, Calon Pengantin Yang Tertabrak Kereta Saat Mengantar Undangan Pernikahannya
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA