Lolicon, Sindrom Ketertarikan Pada Gadis di Bawah Umur yang Ternyata ‘Berbeda’ dengan Pedophilia

Lolicon aman saja, yang bahaya itu pedophil

oleh Nikmatus Solikha
16:00 PM on Aug 15, 2017

Istilah Lolicon atau Lolita Complex mungkin masih terdengar asing di Indonesia. Namun, sejak merebaknya kasus anak Nafa Urbach tempo hari, istilah Lolicon mulai banyak dibahas. Seperti diketahui, belakangan ini nama Mikhaela Lee menjadi sorotan karena foto-foto cantiknya dikomen oleh para pedophil yang menyebutnya ‘Loli’. Tak ayal panggilan tersebut membuat sang ibu murka, karena kata ‘Loli’ selama ini dianggap mengarah pada obsesi terhadap anak kecil.

Lolita Complex alias Lolicon sendiri memiliki pengertian seseorang yang punya obsesi terhadap sesuatu yang imut, bisa jadi gadis kecil di bawah umur, menjelang atau sebelum pubertas yang biasanya disebut ‘Lolita’. Namun, makna obsesi tersebut tidak berhubungan dengan seksualitas, hanya suka saja. Lantas, apa sih Lolicon itu sebenarnya?

Baca Juga
Mulai Bentuk Pocong Hingga Kuyang, Inilah 4 Fakta Bantal Guling Model Hantu yang Viral di Thailand
Fenomena Harga Tiket Wisata yang Harganya Jadi Berkali-kali Lipat untuk Wisatawan Asing, Pantaskah?

Pada dasarnya Lolicon berbeda dengan pedophilia

Istilah Lolicon sendiri sebenarnya berasal dari Jepang. Istilah tersebut banyak digunakan oleh para penggemar komik dan film kartun Jepang. Terlebih, saat ini memang nggak sedikit komik dan film kartun yang menampilkan tokoh anak kecil yang cantik dan imut atau disebut Loli. Bagi mereka para penggemar kartun Jepang, Lolicon yang menyukai Loli mungkin bisa dikatakan biasa.

Lolicon suka sesuatu yang imut [image source]
Namun, banyak yang salah paham dan menuding Lolicon sama halnya dengan pedophilia. Memang, secara etimologi makna Lolicon hampir sama dengan pedophilia. Yang membedakan adalah, Lolicon mengarah pada kecintaan pada objek-objek loli seperti anak kecil. Nah, sementara untuk kasus pedophilia adalah kelainan seksual. Namun, sepertinya saat ini banyak yang kadung salah paham dengan para Lolicon. Tak sedikit yang menuding bahwa para Lolicon sudah dipastikan sebagai pedophilia, padahal sih belum tentu.

Kasus Lolicon yang sekaligus pedophil

Kasus Nafa Urbach yang anaknya diicar pedophil [image source]
Jika sebelumnya dibahas makna sebenarnya dari Lolicon, mungkin nggak ada salahnya dari suka anak-anak. Tapi, kasus yang terjadi pada Nafa Urbach yang lagi marak dibahas di media itu jauh berbeda. Dari beberapa hasil komen yang di-capture, memang banyak kata-kata tidak senonoh yang mengarah pada pedophil. Dan tentu saja para para netizen kurang ajar tersebut bukan Lolicon murni. Sebab, Kritikus budaya Hiroki Azuma mengatakan bahwa sangat sedikit sekali ‘Lolicon murni’ yang melakukan kejahatan. Mirisnya, saat ini banyak pedophil yang menggunakan istilah yang sama dengan para Lolicon, sehingga citra Lolicon sendiri jadi rusak.

Lolicon adalah bagian dari industri hiburan di Jepang

Contoh otaku Lolicon yang murni [image source]
Kalau kembali pada makna asli, maka Lolicon merupakan sumber pendapatan bagi industri Jepang. Lolicon hanya menyukai sesuatu yang imut-imut seperti objek kecil. Kecintaan tersebut cenderung membuat mereka kerap mengoleksi sesuatu yang imut seperti komik dengan tokoh Loli, game, boneka dan juga film animasi. Namun hal itu tidak sama sekali tidak berhubungan dengan kelainan seksual seperti pedophil. Bisa diartikan bahwa para Lolicon adalah penggemar tokoh imut, seperti halnya para K-Poper yang mencintai para Oppa-Oppa boyband.

Banyak pedophil yang mengatasnamakan Lolicon

Ilustrasi pedophil [image source]
Jika sebelumnya istilah Loli hanya digunakan oleh para Lolicon, saat ini sepertinya penggunaan kata tersebut justru dipakai sebagai kode bagi para pedophil untuk menyebut objek. Lain kasus Nafa Urbach, di Jepang sendiri juga banyak kasus pedophil yang mengatasnamakan Lolicon. Bermula dari tertangkapnya seorang pemuda bernama Kaoru Kobayashi yang melakukan kejahatan seksual dan juga pembunuhan terhadap gadis tujuh tahun yang mengaku sebagai Lolicon. Namun, setelah ditelisik, tak ada koleksi komik, boneka, dan atau pun game yang merujuk sebagai tanda-tanda bahwa ia merupakan seorang Lolicon, maka dipastikan jika Kaoru sejatinya memang pedophil, bukan Lolicon.

Itulah sedikit penjabaran tentang Lolicon. Meski saat ini banyak yang menilainya buruk, bahkan sama dengan pedophil. Namun sebenarnya Lolicon berbeda dengan orang-orang yang memiliki kecenderungan seksual ngawur itu. Semoga kita makin bijak menyikapi perbedaan Lolicon dengan pedophil, hingga tak ada satu kaum yang merasa tersinggung karena disamakan dengan kaum lain.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
Seperti Ini Nasib Para Pemain Film Esek-Esek Setelah Pensiun, Dijamin Kaget Kamu Lihatnya Inilah Mongrel Mob, Gangster Selandia Baru yang Namanya Mulai Jadi Pembicaraan di Dunia 25 Foto Selfie Fail Abis yang Bikin Kamu Ketawa Ngakak Sampe Perut Mules Potret Kehidupan Mewah Anak Orang Kaya di Hong Kong yang Dijamin Membuatmu Melongo 7 Aktris Sinetron Kolosal Cantik dan Seksi ini Pernah Menghiasi Layar Kaca Kamu Zaman Dulu 5 Kejadian Nyleneh Orang Indonesia yang Terekam Google Street View, Awas Ngakak! Kisah John Kei, Preman Gahar Sang 'Godfather of Jakarta' yang Kini Menempuh Jalan Kebenaran Miris! Bukan Kebahagiaan, Pengantin Ini Malah Dibuat Malu oleh Wedding Organizer Ternyata Segini Gaji Pemain Film "Dewasa", Penderitaan Tidak Sebanding dengan Penghasilan Niru Gaya Anniesa Hasibuan, 11 Foto Kelakuan Netizen Ini Pasti Bikin Kamu Ngakak
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA