4 Alasan kenapa Sepak Bola Indonesia Tak Bakal Maju Sampai Kiamat!

oleh Rizal
07:00 AM on Oct 20, 2015

Gegap gempita para Bobotoh masih terasa hingga pagi ini. Yup, mengingat tim kebanggaan mereka menang gemilang di final Piala Presiden kemarin hal tersebut sepertinya sangat lumrah. Piala Presiden sendiri jadi ajang tempat para klub elit sepak bola kita bertarung, setelah kompetisi liga lokal di-hold alias ditahan untuk sementara.

Silahkan sangat berpuas diri dengan gelaran tersebut, tapi yang pasti ada fakta miris terpampang di sana. Ya, apalagi kalau bukan tentang gelaran liga dalam negeri yang nasibnya tak jelas itu. Jika menilik hal tersebut, maka ikut terseret pula organisasi dalam negeri alias si pengurusnya yang katanya tidak becus hingga dibekukan FIFA. Bisa dikatakan kalau begini terus maka tamat sudah sepak bola negeri ini.

Baca Juga
Inilah 4 Darah Indonesia di Luar Negeri yang “Menolak” Ajakan Timnas Membela Bumi Pertiwi
5 Tunas Muda Indonesia yang Sudah “Merumput” di Luar Negeri Namun Namanya Jarang Dikenali

Tak hanya soal profesionalisme, ada banyak fakta lain yang turut bikin persepakbolaan kita tidak pernah maju. Bahkan ketika Malaysia sudah jadi juara dunia, Indonesia mungkin masih terseok-seok dibantai di partai penyisihan. Berikut ulasannya.

1. Fans Fanatis yang Bodoh

Tak ada yang menyangkal keseruan gelaran Piala Presiden kemarin. Namun, jika kamu mengikuti prosesnya mulai awal terutama hari Minggu lalu, terpampang banyak hal memalukan. Salah satunya menyinggung fanatisme fans. Seperti yang kamu tahu, lantaran bermain di GBK fans Persib yang akan menonton klub kesayangan mereka harus dikawal sedemikian rupa. Bahkan jumlah aparat yang menjaga sangat banyak dan tak lupa pakai kendaraan taktis kelas berat. Jadi bingung ini pertandingan sepak bola atau konflik Suriah sih?

Pemain saja sudah jengah dengan fanatisme fans. Kenapa fans tetap buta? [Image Source]
Pemain saja sudah jengah dengan fanatisme fans. Kenapa fans tetap buta? [Image Source]
Ya, begitulah potret fans sepak bola di negeri kita. Masih saja mengunggulkan klub-klub sendiri dibanding yang lainnya. Tidak masalah sih sebenarnya, tapi ketika levelnya sudah fanatis dan ditambah anarkis maka hal seperti itu justru bikin kerugian besar. Salah satunya ya tadi, tak bisa nyaman ketika mampir ke kota sebelah untuk menonton pertandingan klub favorit.

Sudah berapa kali sih fans sepak bola kita kena sanksi? Mungkin puluhan kali bahkan lebih. Fakta itu menunjukkan jika suporter kita masih primitif dan tidak bisa berpikir ke depan. Bahkan beberapa ulah suporter seringkali berakibat hukuman pula bagi klub. Kalau seperti ini terus, ya silahkan bermimpi untuk klub yang dibela bisa bersinar di Piala Asia bahkan dunia.

2. Klub Dikelola Ala Kadarnya

Sangat tidak imbang sih membandingkan Real Madrid atau Barcelona dengan klub dalam negeri. Tapi dari hal tersebut setidaknya ada pelajaran yang bisa diambil. Ya, deretan klub level atas benar-benar dikelola dengan sangat baik.

Diego Mendieta yang mati sedangkan gajinya belum terbayar, jadi potret ketidakbecusan klub di Indonesia [Image Source]
Diego Mendieta yang mati sedangkan gajinya belum terbayar, jadi potret ketidakbecusan klub di Indonesia [Image Source]
Dikelola dengan baik ini maksudnya dalam hal apa pun. Baik sistem, manajemen, fasilitas dan hal-hal lainnya. Profesionalitas dari klub sangat berdampak bagi pemain lho. Sehingga secara tak langsung dari dalam diri mereka muncul gairah dan semangat agar bisa lebih baik lagi. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Gaji sering telat, fasilitas klub kacangan, tidak ada ini dan itu. Alhasil, pemain kita ya begitu-begitu saja.

Cristiano Ronaldo pun bakal main tak karuan jeleknya jika gajinya tak dibayar. Bahkan Messi tak pernah bisa jumawa di dunia jika Barca dikelola dengan sistem yang amburadul atau lewat orang-orang yang tak kompeten.

3. Organisasi Terkait Tak Pernah Berbenah Diri

Membicarakan organisasi dalam negeri terkait dengan sepak bola, maka sudah pasti akan menyangkut nama PSSI dan juga Menpora. Keduanya adalah yang berwenang dan jadi penentu utama sebenarnya bagi kemajuan sepak bola Indonsia. Tapi apa yang terjadi? Keduanya malah gontok-gontokan saling klaim kebenaran hingga akhirnya tidak menghasilkan apa pun selain yang terjadi sekarang.

Masyarakat masih tetap berharap PSSI dan Menpora bisa bawa sepak bola Indonesia makin maju [Image Source]
Masyarakat masih tetap berharap PSSI dan Menpora bisa bawa sepak bola Indonesia makin maju [Image Source]
Flash back ke beberapa waktu lalu, banyak sekali kericuhan yang terjadi antara organisasi terkait. Mulai dari klaim liga yang legal dan diakui, masalah dualisme beberapa klub, sampai yang paling greget adalah pembekuan PSSI oleh FIFA. Deretan kejadian ini pun ditanggapi dengan berbagai macam aksi. Rapat sana sini, protes dan sebagainya.

Maunya masyarakat Indonesia sebenarnya simple kok. Tidak menuntut klub bisa mentereng mengalahkan skuad luar negeri, cukup sementara dengan digelarnya liga. Sayangnya, egoisme dan mungkin ada kepentingan pribadi di sana membuat semuanya jadi berantakan. Kalau begitu terus, silahkan malu kalau mimpi klub Indonesia bakal sementereng klub luar negeri.

4. Banyak Oknum yang Bikin Sepak Bola Indonesia Sakit

Ngomongnya sih sepak bola Indonesia harus bersih, bla bla bla. Namun pada kenyataannya jauh panggang dari api. Masih banyak ditemui kejanggalan-kejanggalan yang sedikit banyak jadi batu sandungan majunya sepak bola Indonesia.

Skandal wasit, pengaturan skor, korupsi dan lainya masih jadi musuh utama yang harus diberangus [Image Source]
Skandal wasit, pengaturan skor, korupsi dan lainya masih jadi musuh utama yang harus diberangus [Image Source]
Wasit dibayar, pengaturan skor, korupsi tiket, dan lain sebagainya adalah fakta yang ada namun dianggap tidak ada. Jika tak percaya silakan tanya orang dalam apakah hal tersebut masih ada dan monggo kalau mau malu ketika mengetahui bagaimana jawabannya. Jangan bikin kepercayaan masyarakat Indonesia dan fans seperti tak ada harganya dengan melakukan hal-hal tersebut. PSSI dan Menpora juga harus berbenah diri, dan agenda penting yang sebaiknya didahulukan adalah membersihkan oknum-oknum duri dalam daging seperti ini. Setelah itu, urus birokrasi, sistem dan lain sebagainya.

Masyarakat Indonesia sangat tahu jika sepak bola dalam negeri sudah bobrok. Tapi, harapan akan bersinarnya tim-tim Indonesia masih sangat besar.

Sampai kapan pun sepak bola Indonesia bakal tidak berkembang jika keadaannya seperti ini terus. Kita sebagai rakyat juga tidak bisa memaksakan perubahan dengan cepat apalagi lewat jalan anarkisme. Satu-satunya harapan ya hanya lewat organisasi terkait yang mudah-mudah rela tidak tidur untuk membenahi carut marutnya sepak bola dalam negeri.

Sementara itu, silahkan nikmati LaLiga atau Liga Inggris dulu dan bermimpilah jika liga Indonesia suatu saat akan bisa sebesar itu. Kapan? Mudah-mudahan kita tidak perlu menunggu sampai kiamat.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA