Sejarah Bahasa Walikan Ala Kota Malang yang Khas

oleh Tetalogi
09:54 AM on Nov 8, 2015

Kalau kamu pernah pergi ke kota Malang yang terletak di Jawa Timur, kamu tentu mengenali bahasa unik yang sering digunakan oleh masyarakatnya, bukan? Di kota Malang, terdapat dialek khas kota Malang yang disebut dialek Malangan, Ngalaman, atau Boso Walikan.

Boso Walikan ini memang sudah menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari arek Malang. Mereka yang lama menetap di Malang tentu sudah familiar dengan dialek yang unik dan khas dengan membalik kata-kata baik dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia ini.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Sebenarnya belum ada catatan atau kesimpulan yang pasti tentang kapan bahasa Walikan ini diciptakan atau bagaimana asal-usulnya. Namun pengamat sejarah mengatakan bahwa bahasa ini muncul dari pemikiran para kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK) sebagai komunikasi rahasia dan untuk mengenali identitas kawan.

Balai Kota Malang [Image Source]
Balai Kota Malang [Image Source]
Fungsi bahasa ini menjadi penting karena pada masa Agresi Militer ke-2, Belanda menyusupkan banyak mata-mata di antara kelompok pejuang Malang. Suyudi Raharno yang merupakan salah satu pejuang Malang kemudian menciptakan bahasa baru bagi sesama pejuang sebagai identitas dan menjaga keamanan informasi.

Meski fungsinya emang untuk menjaga kerahasiaan, boso walikan ala kota Malang bukanlah bahasa sandi karena tetap menggunakan bahasa Jawa atau bahasa Indonesia yang lazim digunakan sehari-hari. Hanya saja, cara membacanya saja yang diubah yaitu dengan cara dibalik dari belakang ke depan. Misalnya Sam, dari kata Mas, oyi artinya iyo atau iya dalam bahasa Indonesia, Ongis Nade yang artinya Singo Edan, dan lain-lain.

Bahasa ini juga fleksibel dan menyesuaikan dengan dialek Malangan. Jadi tidak semua kata langsung dibalik begitu saja, seperti uklam-uklam yang berarti mlaku-mlaku atau jalan-jalan, adapes yang berarti sepeda, dan lain-lain. Namun karena ke-fleksibel-an bahasa ini pula, maka perlu disepakati beberapa istilah dikalangan pejuang agar bisa dimengerti.

Oskab, bahasa walikan dari Bakso [Image Source]
Oskab, bahasa walikan dari Bakso [Image Source]
Beberapa contoh kata yang digunakan pada masa itu adalah Nolo yang digunakan untuk menyebut Belanda yang dalam bahasa Jawa disebut Londo. Karena kata londo sulit dibalik, maka digunkanlah kata nolo. Untuk menyebut peralatan senjata juga digunakan kode Benduk. Sedangkan laras panjang disebut benduk owod atau owod saja. Owod diambil dari kata dowo atau panjang dalam bahasa Indonesia.

Memang saat ini boso Walikan tidak digunakan secara penuh dalam keseharian masyarakat Malang. Namun sering kali kata-kata walikan ini masih disisipkan dalam bahasa pergaulan sehari-hari. Siapa sangka jika bahasa yang digunakan sehari-hari ini ternyata memiliki sejarah perjuangan dibaliknya.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
5 Artis Cilik Zaman Dulu yang Penampilannya Sekarang Bikin Kita Mangap Gak Percaya Potret Kehidupan Mewah Anak Orang Kaya di Hong Kong yang Dijamin Membuatmu Melongo 7 Wanita Tercantik di Jepang ini Bikin Dengkul Lemes Orang-orang yang Dulunya Terkenal Ini Kini Nasibnya Berputar 180 Derajat Pria Menikahi Boneka yang Ceritanya Menuai Kontroversi, Ternyata Kenyataannya Bikin Nyesek Inilah 11 Status Kocak “Emak Zaman Now” di Medsos yang Bikin Minder Anak Muda Karena Kalah Eksis Bukan So Sweet, 10 Foto Prewedding Ini Malah Punya Konsep Kocak Abis, Pasti Ketawa Liatnya Sempat Jadi Terkenal Secara Instan, Seperti Ini Nasib 4 Artis Dadakan yang Karirnya “Terjun Bebas” Kisah Sedih Eva, Calon Pengantin Yang Tertabrak Kereta Saat Mengantar Undangan Pernikahannya 16 Foto Ini Jadi Bukti Kalau Orang Indonesia Kreatifnya Bukan Main
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA