Inilah Sarmi, Kota Ombak yang Memukau dari Ujung Timur Indonesia

oleh Adi Nugroho
10:00 AM on Nov 5, 2015

Sarmi bukanlah sebuah kota besar seperti Jayapura yang dikenal banyak orang. Sarmi hanyalah sebuah kota kecil yang masih berkembang namun menyimpan banyak sekali keindahan. Salah satu yang terkenal dari kota yang berbatasan dengan Samudra Pasifik ini adalah ombaknya. Banyak sekali peselancar dalam dan luar negeri yang mengagumi ombak hebat yang akan membawa mereka ke puncak adrenalin.

Saat ini Sarmi mulai berbenah. Memperbaiki infrastruktur dan mengusahakan pariwisata menjadi hal paling penting di sana. Mari sejenak mengenal potensi hebat yang dimiliki Sarmi, kota ombak di ujung timur Indonesia.

Baca Juga
Bukan Metropolitan, Justru Inilah 5 Kota Paling Kaya yang Ada Di Indonesia
5 Hal Menjengkelkan Tentang SEA Games di Malaysia Ini Bikin Indonesia Meradang

Terbentuknya Kota Sarmi Sebagai Kota yang Mandiri

Sarmi adalah nama kabupaten yang berdiri sejak 2003 silam di Provinsi Papua. Nama Sarmi sendiri berasal dari singkatan 5 nama suku terbesar di daerah ini. Mereka adalah suku Sobey, Armati, Rumbuai, Manirem, dan Isirawa. Orang yang memberi nama Sarmi adalah seorang antropolog asal Belanda bernama Van Kouhen Houven. (Video di bawah ini menujukkan Sarmi dari udara, dan mendarat di pinggir pantai yang indah.)

Saat ini Sarmi memiliki sekitar 30.000 penduduk yang mendiami 10 distrik dan terbagi menjadi 84 kampung dan 2 kelurahan. Dengan total wilayah mencapai 17.740 km2, Sarmi memiliki 87 suku dengan 87 bahasa suku yang berbeda. Bisa dibayangkan bagaimana keberagaman tak membuat Sarmi menjadi pecah. Justru semakin kuat dan berkembang.

Ombak yang Memukau dan Diburu Peselancar

Sarmi berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik yang dikenal memiliki ombak yang hebat. Sekitar Mei-Juli ombak di beberapa pantai dan sekitar pulau tidak begitu tinggi. Namun di bulan setelahnya, ombak akan meningkat tajam hingga menjadi buruan banyak sekali peselancar dunia. Penduduk lokal, terutama anak-anak biasanya memanfaatkan ombak untuk berselancar, meski hanya menggunakan kayu.

Sarmi kota ombak [image source]
Sarmi kota ombak [image source]
Seorang peselancar bernama Erwan yang merupakan anggota surfEXPLORE mengatakan jika ombak di sekitar Pulau Wakde sungguh hebat. Daerah ini memproduksi ombak-ombak yang mampu membuat peselancar terpuaskan. Tak salah jika julukan Kota Ombak layak disandang Sarmi yang lebih dikenal orang asing dari pada orang Indonesia.

Lumba-Lumba yang Kerap Menyambut Wisatawan

Terdapat banyak sekali pulau kecil di lepas pantai Sarmi. Pulau-pulau ini nantinya akan dibangun menjadi objek wisata unggulan oleh pemerintah setempat. Untuk saat ini kita masih bisa menikmati keindahan alam di Pulau Kosong. Sebuah pulau tak berpenghuni yang biasanya digunakan oleh warga lokal untuk mencari buah dan juga bahan makanan. Ombak di pulau ini lumayan tenang namun tak menghilangkan keindahan alam yang luar biasa.

Lumba-Lumba yang Kerap Menyambut Wisatawan [image source]
Lumba-Lumba yang Kerap Menyambut Wisatawan [image source]
Tak jauh dari Pulau Kosong terdapat Pulau Armo yang lagi-lagi tak berpenghuni. Biasanya setiap sore ada kawanan lumba-lumba yang mendekati perahu pengunjung. Jumlahnya bisa sampai ratusan dan meloncat-loncat ke udara. Lumba-lumba ini berasal dari Samudra Pasifik dan menggunakan Pulau Armo sebagai rumah.

Pulau Wakde dan Peninggalan Zaman Perang Dunia ke-II

Salah satu pulau paling menarik dari Sarmi adalah Pulau Wakde. Di pulau ini terdapat ombak yang sangat dipuja banyak peselancar. Selain itu, Pulau Wakde juga menyimpan kisah kelam masa lalu yang terjadi saat perang dunia ke-II. Pulau Wakde pernah digunakan sebagai salah satu pangkalan militer Amerika di bawah pimpinan Jendral Douglas Mac Arthur.

Pulau Wakde dan Peninggalan Zaman Perang Dunia ke-II [image source]
Pulau Wakde dan Peninggalan Zaman Perang Dunia ke-II [image source]
Di pulau ini terdapat landasan pesawat sepanjang 2 km dengan lebar 80 meter. Sisa-sisa besi kapal perang juga masih ada di sini. Semuanya dibiarkan teronggok tak terurus. Di masa lalu banyak sekali nyawa yang gugur di tempat ini. Entah dari warga lokal atau pun dari Amerika dan juga Jepang yang menguasai Indonesia saat perang dunia ke-II berlangsung.

Hutan Kelapa Sejak Zaman Belanda

Sarmi adalah penghasil kopra paling besar di Papua. Di daerah ini terdapat 50.000 hektar lahan kelapa yang ada sejak zaman belanda. Pohon-pohon kelapa dibiarkan tumbuh tak terawat sejak Belanda runtuh. Kelapa-kelapa yang tua akhirnya runtuh ke bawah dan tumbuh lagi. Akhirnya daerah ini menjadi hutan kelapa yang sangat padat.

Hutan Kelapa Sejak Zaman Belanda [image source]
Hutan Kelapa Sejak Zaman Belanda [image source]
Kopra yang dihasilkan oleh penduduk lokal banyak digunakan untuk membuat VCO atau Virgin Coconut Oil yang dikenal sangat baik dikonsumsi. Selain itu mereka juga membuat MGP atau Monolaurin Grade Premiun yang digunakan sebagai suplemen tubuh. Biasanya dibuat serbuk atau pun kapsul. Produk-produk ini mulai menjadi produk andalan yang menjadi ciri khas Sarmi.

Itulah Sarmi. Kota ombak yang menyimpan banyak sekali keindahan. Semoga di masa yang akan datang, infrastruktur di Sarmi segera diperbaiki. Dengan begitu akan semakin banyak wisatawan yang datang dan membuat Sarmi mendunia, seperti layaknya Raja Ampat yang juga terletak di Papua.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA