Menjejaki Riwayat Rohana, Wartawati Pertama Indonesia yang Terlupakan

oleh Aini Boom
07:00 AM on Feb 9, 2017

Pada hakikatnya, banyak sosok putra putri bangsa yang berjasa bagi bumi pertiwi. Sebagian telah dihargai dengan baik, diberikan gelar pahlawan. Namun, sebagian lagi hanya berhasil dikenang oleh orang-orang terdekatnya atau melalui peninggalannya. Berbicara soal sosok penting yg tak begitu dikenal tapi berjasa besar, tentu nama Rohana Kudus tak bisa dilupakan.

Ya, sosok satu ini memiliki jasa dan kiprah besar bagi Indonesia. Mulai dari menjadi pelopor pendidikan akademis, penggerak ekonomi kreatif, sampai pelopor majalah yang imbasnya dapat membatasi gerak Belanda. Pemilik nama lengkap Siti Rohana Kudus ini juga yang mendirikan majalah wanita pertama di Indonesia.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal, tokoh kelahiran 20 Desember 1884 itu tekun berguru beragam ilmu dari ayahnya Mohammad Rasjad Maharadja. Semangat belajar yang tinggi, membuatnya mampu menguasai baca tulis dengan mudah. Tidak hanya itu, bahasa Arab, bahasa Belanda, bahasa Melayu serta ilmu menghitung yang diajarkan ayahnya dapat ia tangkap dengan baik.

Tidak hanya pandai di bidang akademis, Rohana kecil pun tertarik belajar keterampilan dan kesenian. Dari tetangganya (seorang perempuan Belanda), ia juga belajar keterampilan merajut, menenun, menjahit, menyulam, bahkan memasak. Pengetahuan tentang pendidikan, politik, gaya hidup, dan seputar perempuan ia dapat dari majalah Belanda yang dibawakan ayah atau tetangganya. Meski begitu, kakak tiri perdana menteri pertama Indonesia ini tetap rajin menimba ilmu agama di surau dekat rumahnya.

Sejak Kecil Mengajar Baca Tulis

Rohana Kudus [Image Source]
Di usia 8 tahunan, Rohana telah mahir baca tulis. Konon, saat bermain dengan teman sebayanya, bibi penyair Chairil Anwar ini lebih suka ‘bermain membaca buku’. Ia akan membaca buku dengan keras dan lantang sementara teman-temannya mendengarkan. Setelah mendengarkan, mereka tertarik dan Rohana mengajari mereka. Hal yang sama ia lakukan pada kedua adiknya, Ratna dan Roeskan.

Pendiri Perkumpulan Kerajinan Amai Setia (KAS)

Pusat Organisasi Kerajinan Amal Setia [Image Source]
Pada 11 Februari 1911, perempuan kelahiran Koto Gadang, Sumatera Barat ini mendirikan perkumpulan KAS. Tujuan KAS cukup sederhana, yaitu untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan melalui pendidikan. Berbekal ilmu dari ayahnya, dan pengalaman mengajar teman-teman sebayanya, Rohana pun kemudian mendirikan sekolah keterampilan khusus wanita di kampung halamannya. Di sekolah ini Rohana mengajarkan berbagai ilmu juga keterampilan. Di antaranya bahasa Belanda, budi pekerti, baca tulis huruf latin dan arab, serta pendidikan Islam.

Wartawan yang Kerap Membuat Tulisan Anti – Belanda

Ilustrasi surat kabar [Image Source]
Semasa penjajahan Belanda, Rohana yang aktif menulis turut membantu pergerakan politik dalam dunia jurnalistik. Ia banyak membuat tulisan-tulisan yang mengandung semangat untuk berperang melawan penjajah. Tidak hanya itu, Rohana juga ikut membantu strategi bagi gerilyawan. Termasuk di dalamnya, ikut andil dalam ide pembuatan dapur umum dan penyelundupan senjata ke Koto Gadang Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan disembunyikan pada tumpukan buah dan sayur.

Penggagas Surat Kabar Perempuan Pertama di Indonesia

Kegiatan belajar di Amal Setia [Image Source]
Setelah pengalamannya dalam dunia jurnalistik lumayan banyak, pada 10 Juli 1912 Rohana akhirnya menerbitkan surat kabar perempuan pertama di Indonesia, Sunting Melayu. Semua staff dan karyawan Sunting Melayu adalah perempuan. Melalui surat kabar inilah Rohana fokus menyampaikan gagasan mengenai pentingnya organisasi bagi kemajuan wanita.

Atas jasanya dalam memelopori dunia jurnalistik perempuan, pemerintah Sumatera Barat memberikan penghargaan sebagai wartawati pertama Indonesia. Selain itu, Menteri Penerangan (Harmoko) memberikan Rohana penghargaan sebagai Perintis Pers Indonesia.

Meski segudang jasa telah diberikan untuk negara, namun belum mampu membuat nama Rohana sejajar dengan nama Kartini. Sungguh disayangkan, tanpa bermaksud memprovokasi, jika ditilik lebih dalam, peran Rohana untuk memperjuangkan pendidikan kaumnya sudah dimulai sejak usia 8 tahun, sebelum Kartini melakukan perjuangannya. Hingga patutlah juga kiranya sang pioneer jurnalis dari Sumatera ini mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA