5 Ritual Tradisional di Indonesia yang Dipercaya Bisa Mendatangkan Hujan

oleh Tetalogi
07:00 AM on Feb 13, 2016

Hujan adalah salah satu hal yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup. Dengan adanya hujan, tanaman bisa tumbuh dengan baik. Kemarau yang terlalu panjang pada akhirnya bisa menimbulkan kekeringan panjang dan hal ini bisa jadi bencana bagi manusia.

Ketika kemarau berkepanjangan dan hujan tidak juga segera datang, masyarakat Indonesia punya beberapa cara tradisional untuk memanggil hujan. Dengan beberapa ritual tradisional ini, dipercaya hujan akan segera datang.

Baca Juga
Inilah 4 Bukti Pengorbanan Hebat Para Paskibraka Demi Mengibarkan Merah Putih
5 Fakta Gahar Pesawat Buatan Anak Bangsa N219 yang Bakal Bikin Negara Tetangga Iri

1. Unjungan

Ritual Unjungan dilakukan oleh masyarakat Purbalingga dan Banjarnegara. Konon asal muasal dilaksanakannya tradisi berawal dari para petani yang berebut air untuk mengairi sawahnya saat musim kemarau. Perebutan ini membuat para petani cekcok hingga saling memukul dan melukai satu sama lain.

[Image Source] Ritual Unjungan
Ritual Unjungan [Image Source]
Sama dengan ritual Ojung, tradisi ini juga menggabungkan antara seni musik, tari, dan bela diri. Dalam acara ini, laki-laki juga saling memukul dengan sebilah rotan. Bagian yang boleh dipukul hanya bagian kaki ke bawah.

2. Manten Kucing

Ritual manten kucing dilaksanakan di Tulungagung khususnya di Desa Pelem. Dalam ritual ini, sepasang kucing yang dimandikan di Coban Kram dipercaya bisa membuat hujan segera turun. Karena ritual memandikan ini mirip seperti ritual siraman pengantin manusia, upacara ini disebut dengan manten kucing.

[Image Source] Manten Kucing
Manten Kucing [Image Source]
Konon kabarnya begitu ritual selesai, hujan langsung turun. Warga sangat percaya dengan ritual ini sehingga kebanyakan orang juga akan berebut air bekas memandikan kucing. Mereka percaya bahwa dengan membasuh muka dengan air tersebut bisa membuat mereka mendapatkan berkah atau awet muda.

3. Ojung

Ritual Ojung biasanya dilakukan oleh masyarakat di daerah Bondowoso, Pulau Madura, dan di Tengger. Di Bondowoso dan Madura, Ojung dilaksanakan untuk mengundang hujan setelah musim kemarau, sementara di Tengger diadakan setiap perayaan hari raya Karo.

[Image Source] Ritual Ojung
Ritual Ojung [Image Source]
Ritual ini diawali dengan tarian Topeng Kuna dan Rontek Singo Wulung. Puncak dari ritual ini adalah saling menyabet dengan rotan. Dua orang pria bertelanjang dada sambil memegang erat rotan. Begitu musik dimainkan, mereka akan bergoyang sambil saling menyabetkan rotan. Dari setiap darah yang menetes diharapkan dapat mengundang turunnya hujan.

4. Cowongan

Di daerah banyumas, ritual Cowongan dilakukan untuk meminta hujan. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, ritual ini dilakukan dengan meminta bantuan Dewi Sri atau dewi padi. Konon Dewi Sri akan turun melalui pelangi untuk menurunkan hujan.

[Image Source] Ritual Cowongan
Ritual Cowongan [Image Source]
Ritual ini dimulai dengan mencuri gayung yang kemudian ditancapkan pada sebuah batang pohon pisang raja. Gayung yang dirias tersebut menjadi properti pelaksanaan ritual. Doa-doa dan mantra kemudian dibacakan agar bidadari turun dan merasuk ke properti tersebut.

5. Gebug Ende

Gebug Ende adalah ritual tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Bali. Ritual ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ojung atau cowongan. Ende adalah sebutan untuk rotan, sedangkan gebug adalah alat untuk menangkis pukulan rotan.

[Image Source] Ritual Gadub Ende
Ritual Gebug Ende [Image Source]
Dalam ritual ini, petarung menggungkan rotan dan penangkis. Dalam ritual ini, petarung akan saling adu pukul hingga berdarah-darah. Dengan cara ini dipercaya hujan akan segera turun.

Bagi sebagian orang, tradisi ini memang terlihat tidak masuk akal. Namun, ritual ini adalah tradisi yang sudah mengakar dan melekat kuat pada keseharian masyarakat. Keunikan tradisi ini juga menunjukkan betapa kaya tradisi dan budaya Indonesia.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA