Ritual Kedewasaan Brutal di 5 Tempat Ini Akan Membuatmu Ingin Jadi Anak-anak Terus

oleh Tetalogi
12:49 PM on Feb 15, 2016

Di kota-kota besar umumnya menjadi dewasa tidak ada ritual tertentu. Bertambah usia juga cukup dirayakan dengan ulang tahun dan makan-makan. Itu pun tidak semua yang melewati hari bertambahnya usia dengan perayaan.

Berbeda dengan kebiasaan di kota besar, beberapa desa dan suku di dunia ini masih menjalankan ritual ketika seseorang mulai menginjak usia dewasa. Hanya saja, ritual yang mereka lakukan terbilang brutal dan akan membuatmu bersyukur tidak perlu mengalami hal yang sama.

Baca Juga
Ternyata Beberapa Negara Ini Benderanya Terinspirasi Dari Majapahit Loh, Mana Saja Tuh
Bikin Emosi! Rombongan Pemuda Indonesia Ini Malah Sengaja Membentangkan Bendera Secara Terbalik

1. Satere Mawe

Satere Mawe adalah nama sebuah suku dari pedalaman hutan Amazon. Saat mencapai usia kedewasaan, para pemuda dari suku ini harus bersiap melakukan ritual yang sangat menyakitkan. Dalam ritual tersebut, tangan mereka akan dimasukan ke dalam sebuah sarung tangan yang terbuat dari anyaman bambu.

Rutual Suku Satere Mawe [Image Source]
Rutual Suku Satere Mawe [Image Source]
Di dalam sarung tangan tersebut sebelumnya sudah dimasukkan semut-semut peluru. Pria yang mengikuti ritual tersebut kemudian menari sambil menahan rasa sakit dari gigitan semut-semut tersebut selama 10 menit tanpa boleh berteriak kesakitan. Gigitan semut peluru terkenal sebagai yang paling menyakitkan dari semut lainnya. Kulit akan terasa terbakar dan nyeri akibat gigitan tersebut bisa terasa hingga 24 jam lamanya.

2. Vanuatu

Vanuatu, sebuah pulau kecil Selatan Samudera Pasifik memiliki tradisi yang unik untuk ritual kedewasaan para pria. Secara sekilas, ritual ini terlihat seperti bungee jumping biasa. Hanya saja, ritual ini jauh lebih berbahaya daripada bungee jumping modern.

Bungee jumping vanuatu [Image Source]
Bungee jumping vanuatu [Image Source]
Ritual ini dilaksanakan sekitar bulan April – Mei. Pemuda yang beranjak dewasa akan memanjat konstruksi tiang kayu setinggi 30 meter atau lebih. Tali tambang diikat pada kedua kakinya dan pria tersebut harus melompat terjun bebas ke tanah. Parahnya lagi, kepalanya harus sedikit menyentuh tanah. Terlalu banyak mengenai tanah artinya pemuda tersebut mati, tidak mengenai tanah sama sekali artinya pria tersebut bukan lelaki sejati. Mengerikan!

3. Suku Matausa – Papua Nugini

Suku Matausa di Papua Nugini percaya bahwa darah wanita itu tidak bersih atau tidak murni. Karena itulah, agar bisa menjadi pria dewasa, mereka perlu membersihkan diri dari pengaruh tidak murni yang diberikan dari ibu mereka. Ritual ini dimulai dengan memasukkan dua buah tongkat ke dalam tenggorokan agar mereka muntah darah.

Ritual Suku Matausa [Image Source]
Ritual Suku Matausa [Image Source]
Selanjutnya, tongkat juga dimasukkan ke hidung agar mengeluarkan lendir dan darah. Tidak berhenti sampai di situ saja, mereka juga menusuk lidah dengan alat seperti panah agar darah mereka keluar. Setelah ritual ini selesai, barulah mereka bisa dianggap sebagai seorang pria dewasa sejati.

4. Suku Mandan

Suku asli Amerika yang bernama Mandan memiliki ritual yang sangat brutal untuk mencapai kedewasaan. Sebelum mereka melakukan ritual ini, seorang pemuda Mandan harus berpuasa selama 3 hari untuk membersihkan dan memurnikan tubuhnya. Kemudian di hari ritualnya, otot dada, bahu, dan punggungnya akan ditusuk dengan kayu besar.

Ilustrasi Ritual Suku Mandan [Image Source]
Ilustrasi Ritual Suku Mandan [Image Source]
Sebuah tali diikatkan pada kayu tersebut dan pemuda tersebut akan digantung dengan menumpu pada dada, bahu dan punggung yang ditusuk tadi. Pemuda tersebut harus menahan rasa sakit dan tidak boleh berteriak. Setelah ia pingsan, barulah pemuda tersebut diturunkan dan dilepaskan dari kait penyangga.

5. Suku Sepik – Papua Nugini

Suku Sepik menganggap buaya sebagai makhluk suci dan mereka mengaku memiliki hubungan spiritual dan budaya dengan reptil ini. Karena itulah, saat pria mulai memasuki usia dewasa, mereka akan menjalani ritual menyakitkan yang ditujukan untuk membuat kulit mereka terlihat seperti buaya.

Ritual Suku Sepik [Image Source]
Ritual Suku Sepik [Image Source]
Dengan menggunakan pisau, tetua suku akan menyayat kulit seorang pemuda berulang-kali. Proses menyakitkan ini nantinya akan memunculkan sebuah pola yang sangat mirip dengan kulit buaya. Setelah ritual ini selesai, pemuda tersebut dianggap sudah dewasa.

Memang terdengar mengerikan, tapi bagi suku-suku tersebut ritual kedewasaan ini adalah hal yang penting. Tidak melakukan ritual ini, mereka akan dianggap lemah dan ada juga yang sampai kehilangan hak tertentu seperti menikah.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA