Kisah Rio Vamory yang Rela Melepas Karir Sebagai Bankir Demi Jadi Tukang Sate di Swiss

Bukan jabatan, yang terpenting adalah ketentraman

oleh Nikmatus Solikha
12:00 PM on May 3, 2017

Jika membahas tukang sate, mungkin kita bakal memandang profesi tersebut biasa saja. Yah, di Indonesia penjual menu bakar ini memang sangat banyak. Makanan dengan harga murah itu juga mudah dijumpai di pinggir-pinggir jalan.

Di Swiss, makanan khas Indonesia tersebut juga dipandang sebagai penganan unik. Itulah yang membuat sate dagangan Rio Vamory laris manis. Lantas, siapa sebenarnya Rio Vamory tersebut? Dialah pria kelahiran Padang Panjang, Sumatera Selatan. Pria 34 tahun yang rela melepas karir gemilangnya sebagai bankir demi berjualan sate di pinggir jalan. Beginilah kisah kehidupan Rio selengkapnya.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Seorang anak yang dicampakan ayahnya

Tak lama setelah kelahiran Rio, Rosmidar yang merupakan ibu kandung Rio harus menerima kenyataan bahwa ia telah dicampakkan oleh suaminya. Tak ingin terus menderita, akhirnya Rosmidar pun membuka lembaran baru dan menikah dengan seorang warga Swiss keturunan Tibet.

Rio Vamory [image source]
Sementara itu, Rio dititipkan di salah satu pesantren yang ada di Bogor. Selama hidup di Swiss, rupanya Rosmina bisa berbahagia, namun rasanya kebahagiaan tersebut tak lengkap jika harus berpisah dengan putranya. Rosmidar akhirnya memboyong Rio untuk tinggal di kota paling mahal di dunia tersebut.

Menetap di Swiss tapi masih mencintai tanah kelahiran

Rio pun meneruskan sekolahnya di Swiss. Dari segi pendidikan, Rio termasuk siswa yang berprestasi. Terbukti ia bisa beberapa kali lompat kelas berkat kecerdasannya. Setelah menyelesaikan pendidikannya, karir Rio juga terbilang bagus.

Rio saat memasak sate [image source]
Ia bekerja di salah satu bank ternama di Swiss. Namun, gaji besar dan kehidupan yang mapan rupanya tidak membuat lelaki tersebut hidup tentram. Hingga akhirnya Rio lebih memilih meninggalkan karirnya yang cemerlang hanya untuk berjualan sate. Keputusan Rio rupanya juga mendapat restu dari sang ibu, yang membuat Rio makin mantap menjalani profesi barunya.

Terus mengingat dan selalu ingin membantu tanah kelahirannya

Diketahui jika Rio memang gemar memasak sejak kecil. Dan ia juga bahagia bisa melestarikan kuliner dari negeri asalnya. Tak ingin melupakan  Indonesia, Rio juga selalu ingin membantu tanah kelahirannya dengan cara menyisihkan satu frank Swiss tiap sate yang dia jual untuk membantu pelestarian alam di Sumatera.

Rio selalu menyisihkan penghasilannya untuk Alam sumatera [image source]
Rio juga masih ingat dengan saudara-saudaranya di Sumatera. Beberapa tahun lalu ia bahkan pernah bertemu dengan saudara tirinya di Sumatera. Bahkan, ia pernah mencari ayah kandungnya yang ditemukan di Jakarta. Rio mengaku sangat lega bisa bertemu dengan ayahnya, meski setelahnya mereka sama sekali tidak melakukan komunikasi lagi.

Kisahnya menarik perhatian koran beken di Swiss

Neuer Zurcher Zeitung adalah salah satu media koran paling prestisius di Swiss. Media tersebut memberikan satu halaman penuh untuk memuat kisah hidup Rio. Menurut salah satu redaktur di media tersebut, ia sangat tertarik dengan kisah Rio yang unik. Meski tergolong sepele, rupanya bisnis Rio cukup menjanjikan.

Koran Swiss memuat Rio Vamory [image source]
Terlebih, sebagian besar pelanggannya merupakan orang-orang berdasi. Mereka sama sekali tidak peduli dengan kepulan asap hasil pembakaran tusukan daging ayam. Dinginnya angin yang berembus dari danau Zurich juga sama sekali tidak mengurangi antrian panjang para pelanggan Rio yang ingin menikmati seporsi sate buatannya. Rencana Rio, nantinya ia akan berjualan sendiri di sebuah taman di Zurich dengan menggunakan gerobak beroda tiga.

Itulah kisah hidup Rio Vamory, seorang yang rela melepas karirnya yang gemilang hanya untuk berjualan sate. Yah, tak peduli gaji atau jabatan, sejatinya yang dibutuhkan seseorang adalah kenyamanan. Tentu nggak ada ruginya melepas karir sebagai bankir jika berjualan sate justru bikin bahagia.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA