Betapa Mudah Menarik Perhatian Remaja Putri Lewat Sosial Media

oleh Tetalogi
07:00 AM on Aug 14, 2015

Para orang tua atau yang akan menjadi orang tua perlu baca artikel ini baik-baik.

Para pedofil atau pelaku kejahatan seksual seringkali bersembunyi di balik identitas palsu yang mereka pasang di media sosial sejak bertahun-tahun lamanya. Tapi sayang sekali, meski orang tua sudah memberi peringatan hingga berkali-kali tentang bahaya berbicara dengan orang asing secara online, para remaja putri sepertinya menganggap apa yang dikatakan orang tua mereka itu berlebihan.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Namun bintang YouTube berusia 21 tahun, Coby Persin mencoba untuk mengubah keadaan ini dan mengajarkan pada anak-anak dan remaja tersebut bahwa ancaman pedofil, pemerkosa, dan penculik adalah hal yang nyata. Caranya adalah dengan menyamar sebagai seorang remaja di Facebook dan membujuk para remaja wanita ini masuk ke situasi berbahaya yang mungkin terjadi.

Julianna menangis dan minta maaf pada ayahnya [Image Source]
Julianna menangis dan minta maaf pada ayahnya
Di awal videonya, ia bertanya seberapa sulit sih bagi pedofil untuk mendapatkan anak di bawah umur menggunakan sosial media. Setelah kamu melihat videonya, jawabannya ternyata sama sekali tidak sulit.

Ia membuat sebuah profil Facebook menyamar sebagai remaja putra berusia 15 tahun dengan nama Jason Biazzio. Dengan ijin dari orang tua para remaja putri tersebut, ia menambah teman tiga orang remaja putri berusia 14, 13, dan 12 tahun. Tidak makan waktu lama bagi Coby untuk mengajak tiga remaja putri tersebut untuk bertemu. Yang ia butuhkan hanyalah ngobrol dengan mereka secara online atau lewat sms selama empat hari.

Gadis pertama yang bernama Mikayla dengan mudah terperangkap rayuan ‘Jason’. Ia dengan mudah percaya bahwa ‘Jason’ adalah seorang remaja yang juga tinggal di daerahnya meskipun keduanya jelas-jelas belum pernah bertemu sebelumnya dan tidak punya teman yang sama. Coby bahkan tidak menyebutkan nama daerah ia tinggal, namun Mikayla percaya padanya dan menganggapnya tidak berbahaya. Keduanya dengan segara membuat janji untuk bertemu di taman di dekat rumah Mikayla.

Jenna benar-benar ketakutan mengira ia akan diculik
Jenna benar-benar ketakutan mengira ia akan diculik [Image Source]
Setelah menunggu kedua orangtuanya pergi dari rumah, Mikayla menyelinap keluar dan pergi ke taman. Ketika ia sampai, ia melihat Coby – seorang pria berotot dan brewok -sedang menunggunya. Ayahnya yang dari tadi bersembunyi segera keluar dan berteriak mengapa Mikayla melakukan hal tersebut.

Remaja putri kedua, Julianna juga melakukan hal yang sama. Namun ia berkata hanya bisa hang out saat ayahnya tidak ada di rumah. Maka keduanya membuat rencana untuk bertemu di rumah Julianna saat ayahnya tidur. Tentu saja ayahnya berpendapat bahwa putrinya tidak akan membukakan pintu untuk ‘Jason’, tapi ternyata ia salah. Julianna benar-benar membukakan pintu untuknya, padahal bisa saja orang tersebut adalah seorang pedofil atau penjahat seksual.

Remaja putri ketiga bernama Jenna mendapatkan pengalaman yang lebih menakutkan. Sama seperti dua remaja lainnya, ia dengan mudah percaya dengan apa yang dikatakan ‘Jason’ dan naik ke mobil van yang sudah disiapkan. Sementara itu kedua orangtuanya bersembunyi di kursi belakang dengan menggunakan topeng.

Hanya dalam waktu 4 hari atau kurang dari itu, Coby bisa mengajak para remaja tersebut untuk bertemu [Image Source]
Hanya dalam waktu 4 hari atau kurang dari itu, Coby bisa mengajak para remaja tersebut untuk bertemu [Image Source]
Saat Jenna benar-benar naik ke mobil van, Coby dan kedua orangtuanya segera menangkapnya. Jenna yang ketakutan berteriak-teriak dan berusaha melepaskan diri tapi gagal sampai akhirnya kedua orangtuanya membuka topeng mereka.

Para orang tua tiga remaja putri tersebut akhirnya kembali menegaskan bagaimana jika hal buruk tersebut benar-benar terjadi. Jika orang yang ia temui ternyata benar-benar seorang penjahat, maka para remaja tersebut tidak akan pernah bertemu dengan orang tuanya lagi.

Para orang tua harus benar-benar menjelaskan pada anak-anak mereka tentang bahaya berkenalan dengan orang asing lewat media sosial. Setiap orang bisa berpura-pura menjadi orang lain dengan akun palsu dan merencanakan kejahatan dengan memanfaatkan sosial media dan keluguan para remaja ini.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA