Heboh, Panglima TNI Membacakan Puisi yang ‘Menampar’ Mengenai Keadaan Miris di Negeri Ini

Menurutnya, negeri kita memang kaya sumber daya tapi siapa yang punya? apa bangsa sendiri?

oleh Arief Dian
13:00 PM on May 26, 2017

Bicara mengenai tentara republik Indonesia, pastinya tidak lepas dari kepemimpinan Gatot Nurmantyo  sebagai Panglima TNI. Selain dikenal sebagai sosok yang sholeh, beliau juga dinilai tegas mengambil keputusan. Misalnya saja saat keputusan beliau memutuskan hubungan militer dengan Australia dulu, keberaniannya bikin asing jadi ketar-ketir. Itu bukti kepedulian panglima TNI pada Indonesia.

Namun beberapa waktu yang lalu, lagi-lagi panglima TNI menunjukkan kepeduliannya pada bangsa. Di sebuah rapat terbuka, beliau membacakan sebuah puisi menampar bagi rakyat Indonesia. Meskipun menuai banyak kritikan, namun semua dilakukan untuk kemajuan negeri ini. Bagaimana cerita lengkapnya? Simak ulasan berikut.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Menjadi pembicara di rapat Golkar

Beberapa waktu yang lalu, panglima TNI Gatot Nurmantyo diundang oleh partai Golkar untuk datang dan menjadi pembicara di rapat rapirnas Golkar. Di sana beliau sempat berpesan pada para anggota partai dan masyarakat Indonesia mengenai keadaan di Indonesia ini. Menurut beliau keadaan Indonesia sangat ini sedang rawan dengan bahaya imigrasi yang mulai menyebar.

Menjadi pembicara [image source]
Beliau mencontohkan suku Indian di Amerika, suku Melayu di Singapura dan suku Aborigin yang ada di Australia yang telah hilang akibat dari imigrasi tersebut. Panglima TNI itu menekankan, bukan karena mengungsi namun imigrasi mencari hidup yang lebih layaklah yang membuat hal tersebut bisa terjadi. Beliau berharap agar Indonesia juga tidak mengalami hal serupa.

Sebuah puisi yang menggelitik, beliau bacakan

Di akhir pidato Panglima TNI itu, beliau sempat membacakan sebuah puisi yang menurutnya cukup menggelitik dan menggambarkan keadaan saat ini. Puisi tersebut bercerita mengenai “Jaka” yang mulai menyadari sebuah kenyataan pahit di negeri ini. Di mata sosok “Jaka” tersebut, Indonesia memiliki banyak kekayaan baik alam atau sumber daya manusia.

Namun sayang semua itu bukan kita sendiri yang memilikinya melainkan lebih banyak milik pihak asing. Melalui puisi tersebut, panglima TNI berharap agar bangsa Indonesia sadar baik para petinggi dan rakyat biasa saling gotong royong untuk bertahan dari serangan “migrasi” yang sempat beliau ceritakan. Agar negeri ini benar-benar kaya dengan hasil alamnya sendiri.

Deny JA, sang pengarang puisi tersebut

Ternyata puisi yang dibacakan itu bukan karangan dari Panglima TNI Gatot Nurmantyo sendiri. Puisi tersebut adalah karangan dari seorang sastrawan bernama Deny JA. Beliau adalah salah satu sastrawan terkemuka di Indonesia yang karyanya bahkan pernah menjadi nomor satu sebagai penjualan terbanyak di situs Amazon.

Dany JA [image source]
Selain itu dia juga seorang konsultan politik dan aktif di media sosial. Sedangkan puisinya sendiri berjudul “Tapi bukan kita yang punya”, yang sudah lama dibuat karena kepedulian atas kondisi bangsa yang ada di Indonesia.

Menuai pro dan kontra

Meskipun niatan dari pembacaan puisi tersebut memang bagus, namun juga banyak kontra dari beberapa kalangan. Mereka yang tidak setuju dengan pembacaan puisi “Tapi bukan milik kita” menganggap hal itu adalah kritik terhadap pemerintahan saat ini. Beberapa ahli politik menganggap hal tersebut tidak terlalu baik dilakukan oleh seorang panglima TNI, karena seharusnya beliau bicara langsung saja pada Presiden atau para Dewan.

Menuai kritik [image source]
Sedangkan yang setuju dengan pembacaan puisi tersebut menganggap bahwa itu bukan merupakan kritik pada pemerintahan, namun sebuah pengingat agar kita kembali bersatu supaya mampu dalam melawan ancaman-ancaman yang bakal datang ke bumi pertiwi ini.

Terlepas dari pro dan kontra, kita mesti mengacungi jempol pada panglima TNI di Indonesia. Pasalnya upayanya dalam memperingatkan bangsa ini agar waspada pada yang akan mengancam kestabilan nasional. Mau setuju atau tidak, itu kembali pada keputusan masing-masing yang jelas semua punya alasan yang sama benarnya.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA