4 Keberanian Jokowi Memutuskan Proyek yang Terkatung-katung

oleh Agus Supriyatna
20:00 PM on Feb 28, 2017

Pemimpin harus bijak. Tapi pun mesti tegas. Berani memutuskan ketika semua ragu-ragu. Jadi, bagi seorang pemimpin ‘haram’ hukumnya untuk mengeluh. Karena kalau selalu mengeluh, apalagi terus ragu, masalah yang muncul tak akan pernah dapat solusinya.

Beruntunglah sekarang negeri ini punya Presiden seperti Jokowi. Dia pemimpin tipe pekerja. Bukan pemimpin yang selalu berkata-kata. Berikut 4 bukti Jokowi pemimpin yang bekerja. 4 bukti keberanian Jokowi memutuskan proyek yang pemimpin sebelumnya tak berani memutuskan.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

1. Berani memutuskan proyek MRT

Jakarta sebentar lagi akan punya ikon baru transportasi massal  selain Trans Jakarta,  ibukota akan punya moda transportasi baru. Moda transportasi itu bernama Mass Rapid Transit atau kita kenal dengan sebutan MRT. Ya, proyek ini mulai dikebut sejak era Jokowi jadi gubernur Jakarta. Sekarang proyek tersebut mulai kelihatan hasilnya.

MRT Jakarta [image source]
Di Australia, dalam sebuah pertemuan Jokowi bercerita tentang proyek MRT. Kata dia, proyek itu terus hanya jadi konsep karena tak ada keberanian dari pemimpinnya untuk memutuskan itu. Padahal masterplan MRT sudah ada sejak 26 tahun yang lalu. Proyek itu memang mahal. Tapi kata Jokowi, mahalnya proyek itu tak akan terjadi andai dulu cepat diputuskan.

Ia mencontohkan harga tanah. Andai dulu cepat diputuskan, harga tanah ketika itu masih murah, hanya sekitar 2-3 juta rupiah per meter. Tapi karena puluhan tahun tak juga diputuskan, harga tanah terus merangkak naik. Bahkan kini melonjak mencapai  ratusan juta per meternya.

Menurut Jokowi, semakin lama diputuskan, semakin mahal pula nilai sebuah proyek. Atas dasar itu ia berani memutuskan mau mengerjakan proyek MRT. Jika tidak, MRT tak akan jadi-jadi. Sekarang kelihatan hasilnya. Dan publik yang akan menikmatinya nanti.

Kata presiden lagi, pemimpin terdahulu selalu berkutat soal untung rugi sebuah proyek. Tapi tak pernah menghitung kerugian yang diderita rakyat andai proyek itu tak jalan-jalan. Misalnya, MRT. Proyek itu menjadi salah satu solusi  untuk mengurai kemacetan di Jakarta. Tiap tahunnya Jakarta menderita kerugian sekitar 150 trilyun rupiah karena macet. Rugi waktu. Rugi materi. Rugi psikis. Menurut Jokowi, itu yang tak pernah dihitung pemimpin sebelumnya.  Selalu yang dilihat apakah proyek tersebut itu akan menghasilkan keuntungan atau tidak.

2. Proyek Light rail Transit (LRT)

Proyek Light rail Transit atau LRT juga demikian. Kata Jokowi, dirinya berani memutuskan proyek itu karena keuntungan jangka panjang yang akan dinikmati warga. Jika tak dikerjakan sekarang, proyek tersebut akan terus hanya jadi rencana. Hanya sekedar konsep yang tergeletak di atas meja, atau bahkan masuk arsip saja.

LRT di Jakarta [image source]
Proyek tersebut memang memerlukan biaya besar. Tapi kalau tak segera dikerjakan, justru akan kian mahal. Harus ada yang berani memutuskan. Toh rakyat juga yang akan menikmati itu. Dan akan banyak keuntungan yang akan dirasakan andai proyek tersebut dikerjakan sekarang dan selesai secepatnya. Kerugian dari kemacetan yang membuat ekonomi berbiaya tinggi akan bisa ditekan. Karena itu,  ia berani memutuskan. Sebab jika pertimbangannya keuntungan atau laba jangka pendek, proyek infrastruktur tak akan jadi-jadi. Yang harus dilihat itu adalah keuntungan jangka panjangnya. Dan manfaat bagi rakyat juga harus dilihat, bukan yang dilihat laba semata.

3. Pembangunan di perbatasan

Dalam pertemuan dengan warga Indonesia di Australia, Jokowi juga bercerita tentang pembangunan infrastruktur di perbatasan. Kata dia, puluhan tahun, bahkan sejak Indonesia merdeka, wajah perbatasan seakan tak di lirik negara. Ia contohkan, pos lintas batas di perbatasan, selama puluhan tahun wajahnya begitu-begitu saja. Bahkan menyedihkan. Sementara wajah tapal batas negara tetangga dipoles terus menerus. Sehingga, warga Indonesia di perbatasan pun lebih bangga melihat pos perbatasan negara sebelah ketimbang yang ada di negerinya sendiri. Seperti di Entikong Kalimantan Barat misalnya, kata Jokowi, pos lintas batas milik Indonesia kalah jauh dengan milik Malaysia. Perbedaannya ibarat langit dan bumi. Pun di perbatasan Indonesia- Timur Leste atau di perbatasan lainnya, seperti di Papua.

Pos lintas batas [image source]
Melihat itu ia miris. Maka ia pun memutuskan, Indonesia jangan kalah. Bahkan harus lebih hebat dengan negara tetangga. Ia pun menggebrak, 2 tahun wajah perbatasan Indonesia harus berubah. Harus lebih bagus dan lebih lengkap dari yang dimiliki negara tetangga. Hasilnya kini kelihatan. Warga di Entikong sekarang lebih bangga dengan fasilitas pos perbatasan Indonesia. Mereka pun bisa menepuk dada, tak lagi malu dengan warga tetangga sebelah. Begitu pun dengan masyarakat di  perbatasan NTT atau yang ada di perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini.

Tak hanya pos perbatasan yang dipoles. Mengutip pernyataan Mendagri Tjahjo Kumolo, fasilitas publik lainnya gencar dibangun di perbatasan. Misalnya sekolah, puskesmas, pasar dan pusat pertumbuhan ekonomi lainnya seperti pelabuhan, bandar udara perintis dan lain sebagainya. Distribusi guru, dokter atau tenaga kesehatan pun jadi perhatian. Itu semua kata Tjahjo menjadi bagian tak terpisahkan  dari program besar membagun Indonesia dari pinggiran yang dicanangkan pemerintahan Jokowi.

4. Membangun siang malam jalan tembus di Papua

Papua adalah Provinsi di Indonesia yang luas dan besar. Provinsi ini juga kaya akan sumber daya. Tapi, ada kendala yang membuat sumber daya tak bisa diolah maksimal. Pun potensi lainnya. Masyarakat Papua banyak yang miskin. Ini tak lepas dari kendala geografis di provinsi tersebut.

Jalan tembus Papua [image source]
Tak banyak akses darat yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya di Papua. Yang diandalkan hanya transportasi udara yang mahal. Akibatnya harga-harga kebutuhan bahan pokok di Papua tak masuk akal. Bensin misalnya liter bisa mencapai puluhan bahkan ratusan ribu. Pun semen dan bahan pokok lainnya.

Jokowi tak mau kondisi tak adil itu terus terjadi di Papua. Sejumlah kebijakan ia tempuh, mulai dari penyeragaman harga BBM, sampai dengan proyek pembangunan jalan tembus atau jalan trans Papua. Dan tak sekedar bicara. Proyek itu langsung dikebut. Fisiknya kini mulai kelihatan. Jalan tembus Papua, sedikit demi sedikit mulai tersambung. Padahal, ada ribuan kilometer yang ditargetkan. Kata Jokowi, siang malam jalan itu dikerjakan. Semua demi Papua yang lebih sejahtera.

Saat ada di persimpangan masalah, pemimpin harus segera bertindak, bukan menunggu. Tentu tindakan yang diambil haruslah terukur. Pendek kata negeri ini butuh pemimpin yang bekerja, bukan cuma banyak berkata-kata.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
5 Artis Cilik Zaman Dulu yang Penampilannya Sekarang Bikin Kita Mangap Gak Percaya Potret Kehidupan Mewah Anak Orang Kaya di Hong Kong yang Dijamin Membuatmu Melongo 7 Wanita Tercantik di Jepang ini Bikin Dengkul Lemes Orang-orang yang Dulunya Terkenal Ini Kini Nasibnya Berputar 180 Derajat Pria Menikahi Boneka yang Ceritanya Menuai Kontroversi, Ternyata Kenyataannya Bikin Nyesek Inilah 11 Status Kocak “Emak Zaman Now” di Medsos yang Bikin Minder Anak Muda Karena Kalah Eksis Bukan So Sweet, 10 Foto Prewedding Ini Malah Punya Konsep Kocak Abis, Pasti Ketawa Liatnya Sempat Jadi Terkenal Secara Instan, Seperti Ini Nasib 4 Artis Dadakan yang Karirnya “Terjun Bebas” Kisah Sedih Eva, Calon Pengantin Yang Tertabrak Kereta Saat Mengantar Undangan Pernikahannya 16 Foto Ini Jadi Bukti Kalau Orang Indonesia Kreatifnya Bukan Main
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA