Miris, Pria Ini Harus Merasakan Hukuman 10 Tahun Penjara Hanya karena Mengambil Cacing di Hutan

Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa yang curi cacing 10 tahun penjara dan yang korupsi gede-gedean tidak selama itu?

oleh Arief Dian
11:00 AM on May 14, 2017

Tidak bermaksud menjelek-jelekkan hukum di Indonesia, tapi pada kenyataannya ada banyak kasus peradilan yang sungguh timpang di negeri ini. Istilah yang bilang hukum pisau alias tumpul ke atas tajam ke bawah, agaknya memang sering kejadian di Indonesia. Buktinya ya para koruptor itu yang hanya dihukum beberapa tahun penjara. Sedangkan kriminal level cetek macam mencuri kayu atau sendal jepit, hukumannya kurang lebih sama bahkan lebih berat.

Satu lagi kisah yang jadi bukti hukum pisau tengah terjadi di Indonesia. Ya, ini adalah tentang seorang pria yang harus dijebloskan ke penjara selama 10 tahun. Alasannya sangat sepele. Bukan menempeleng gubernur atau korupsi yang bikin daerahnya miskin, tapi hanya lantaran mengambil cacing di hutan. Tentu ini sangat mengenaskan. Lalu, seperti apa kisahnya? Simak ulasannya berikut ini.

Baca Juga
5 Sepeda Balap Termahal di Dunia yang Harganya Bisa Bikin Kamu Miskin dalam Sekejap
Inilah 4 Negara yang Dulunya Kaya Raya namun Sekarang Terluntah Akibat Korupsi

Mencari cacing untuk obat

Didin, pria berumur 48 tahun itu awalnya mencari cacing untuk dijadikan obat. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang asongan itu, diminta untuk mencari cacing Sonari untuk obat penyakit. Pria itupun menyanggupi permintaan tersebut dan pergi ke hutan untuk mencari cacing Sonari. Sayangnya cacing itu tidak akan dapat ditemukan di tanah melainkan di dahan, sehingga Didin harus naik dan mencarinya di atas pohon.

Dihukum karena cacing [image source]
Meskipun mencarinya di kawasan Nasional, Didin tidak sampai masuk di bagian yang dilindungi dan tidak sama sekali merusak pohon dan satwa yang ada di sana. Namun sayangnya meskipun melakukan hal yang tidak melanggar hukum, Didin masih tetap saja ditangkap oleh polisi.

Didatangi oleh 10 orang

Selang beberapa hari, rumah Didin didatangi oleh 10 orang yang akan menangkap Didin. Setelah digeledah, akhirnya ditemukan beberapa ekor cacing Sonari di bawah tempat tidur. Cacing-cacing tersebut akhirnya dijadikan sebagai barang bukti penangkapan Didin. Padahal pria itu sudah menjelaskan panjang lebar bahwa dia tidak masuk ke daerah hutan lindung atau merusak lingkungan.

Cacing [image souce]
Apalagi cacing tersebut juga tidak digunakan untuk kepentingan komersil melainkan murni memang untuk pengobatan dan budidaya. Sayangnya para polisi yang menangkap Didin nampaknya tak peduli dengan apapun alasan yang dia ungkapkan. Akhirnya Didin dibawa hingga nantinya dia akan diproses secara hukum.

Proses hukum yang tidak jelas dan sangat memberatkan

Sayangnya, Didin harus terancam dengan hukuman 10 tahun penjara akibat pencarian cacing Sonari tersebut. Istri Didin tidak tahu mengenai penangkapan itu, pasalnya para petugas mengatakan bahwa akan membawa Didin sebentar. Namun setelah telah mereka kembali, istri Didin malah disuruh untuk menandatangani surat penangkapan.

Istri dan anak [image source]
Didin dituduh telah melakukan pengerusakan hutan karena mengambil cacing sonari, mereka berdalih bahwa untuk medapatkan hewan tersebut maka harus memanjat dan mencari di ujung pohon sehingga bakal ada yang rusak. Meskipun sesuai dengan undang-undang kehutanan, hukuman tersebut dinilai tidak logis karena Didin telah melakukan hal yang benar dengan tidak mendekati daerah yang dilarang, apalagi tidak ada bukti bahwa hutan menjadi rusak. Namun sayang itu semua percuma dan Didin akan tetap diproses.

Keluarga menjadi terlantar karena Didin ditangkap

Pria paruh baya itu memang merupakan tulang punggung keluarga, oleh sebab itu dengan tertangkapnya dirinya, kini istri dan anaknya jadi terlantar. Istri Didin terpaksa harus bekerja serabutan dan menjual jagung bakar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kerja serabutan [image source]
Miris melihat kenyataan ternyata usaha memenuhi kebutuhan itu kadang tidak cukup sehingga mereka sering sekali harus berhutang pada tetangga. Sedangkan anak Didin bingung harus bagaimana bisa membayar sekolah, pasalnya untuk makan saja mereka sangat kesulitan.

Seperti inilah kenyataannya, hukum begitu menghujam orang kecil tapi sepoi-sepoi untuk orang yang levelnya tinggi. Mudah-mudahan tidak ada lagi kejadian semacam ini karena sangat mengiris hati. 10 tahun untuk beberapa cacing tentu agak berlebihan. Apalagi kalau dibandingkan dengan korupsi miliaran yang jelas bikin sengsara banyak orang.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA