Deretan Polisi Baik ini Menepis Citra Miring Tentang Kepolisian di Indonesia

oleh dwiandika
07:00 AM on Jul 18, 2016

Memang citra polisi dari tahun ke tahun kurang begitu baik di mata masyarakat karena banyaknya kasus yang melibatkan intern di dalamnya. Akan tetapi, bukan berarti dapat dipukul rata bahwa polisi semuanya buruk, karena setidaknya masih ada beberapa di antara mereka ya layak diteladani.

Memang dapat dikatakan bahwa sangat langka dapat menemukan polisi-polisi baik, jujur dan dapat dijadikan teladan serta inspirasi bagi semua orang karena cap jelek yang sudah melekat selama bertahun-tahun terhadap instansi pemerintah satu ini sudah sangat kuat.

Baca Juga
Tak Banyak yang Tahu, Inilah Aksi Hebat Kepolisian Indonesia yang Begitu Disegani di Dunia
6 Cara Ini Bisa Dipakai Agar Tragedi ‘Panjat Pinang Maut’ Tak Terjadi Lagi

Nah, untuk melihat sisi baik dari instansi polisi, tidak ada salahnya juga jika kita harus mengetahui bahwa setidaknya ada beberapa polisi-polisi yang layak diacungi jempol karena kerja keras, usaha, kejujuran dan kebaikannya. Berikut daftar para polisi teladan tersebut.

1. Agus Setyoko

Agus Setyoko adalah seorang polisi yang pernah menjabat sebagai Kapolres di Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Masa jabatannya di daerah tersebut terbilang singkat, yaitu hanya 6 bulan, karena dia harus pindah ke Jakarta untuk menduduki posisi lain.

Polisi-polisi Baik yang Dimiliki Indonesia - a
Agus Setyoko [image source]
Di mata masyarakat Ketapang dan Kayong Utara, sosok Agus Setyoko layak dianggap sebagai polisi yang luar biasa. Walaupun saat itu menjabat sebagai Kapolres, akan tetapi setiap hari dia berangkat dan pulang kerja mengendarai sepeda onthel miliknya.

Selain itu, sepak terjangnya dalam melawan mafia-mafia di daerah tersebut juga patut diacungi jempol. Kerap kali dia menolak sogokan yang diberikan pihak tertentu untuk memuluskan suatu tender atau proyek. Tidak hanya itu saja, Agus Setyoko juga memerangi ilegal logging, membereskan oknum-oknum nakal di instansinya sampai dengan mengawasi secara ketat penyaluran BBM.

2. Jailani

Polisi baik lainnya ada di Kota Gresik, Jawa Timur, bernama Aiptu Jaelani. Dia adalah seorang anggota Satlantas Polres Gresik yang terkenal dengan ketegasan, kedisiplinan dan kejujuran dia saat mengemban tugasnya.

Jailani [image Source]
Jailani [image Source]
Bahkan karena nilai plus yang dimilikinya tersebut, pernah ada kejadian, yaitu banyak anak yang lebih mengenal namanya dibandingkan dengan nama Kapolres Gresik sendiri.

Jaelani bukanlah seorang kaya ataupun lahir dari keluarga berkecukupan yang dapat mengantarkannya ke pendidikan polisi tingkat tinggi, dia hanyalah anak seorang petani yang berusaha terus meneladani dan melaksanakan apa yang diajarkan ibunya sejak kecil, yaitu kejujuran dan kerapian.

3. Seladi

Masih di Jawa Timur, kali ini di Kota Malang, ada seorang polisi yang menjadi buah bibir banyak orang di Indonesia karena keuletan, kejujuran, kesederhanaan dan kerja kerasnya dalam bertugas dan menjalani hidup, yaitu Brigadir Kepala (Bripka) Seladi.

Seladi [image source]
Seladi [image source]
Dia adalah penguji SIM A di Polres Malang yang tiap hari berangkat dan pulang kerja menaiki sepeda onthel. Selain kesederhanaan tersebut, Seladi juga terkenal karena kejujurannya. Sejak bertugas di bagian SIM selama 16 tahun, dia tidak pernah sekalipun menerima uang suap dari orang-orang yang ingin cepat lulus mudah dan mendapatkan SIM.

Kisah lain dari Seladi yang tak kalah menarik adalah selepas bertugas, dia kembali bekerja sebagai pemulung. Menurutnya bekerja seperti itu lebih baik daripada harus menerima uang haram dan mencoreng nama instansi juga merugikan negara.

4. Mustamin

Jika Anda pergi ke daerah kawasan Monumen Mandala, Makassar, Sulawesi Selatan, setiap sore pastinya akan dapat menemui seorang tukang tambal ban yang jika ditilik dari umurnya, pria tersebut sudah berusia lanjut. Siapa sangka tukang tambal ban itu adalah seorang anggota satuan Sabhara Polsek Ujung Pandang bernama Aiptu Mustamin. Selama 20 tahun lebih, Mustamin melakoni pekerjaan sebagai tukang tambal ban seusai pulang bertugas.

Mustamin [image source]
Mustamin [image source]
Mustamin beranggapan bahwa dia tidak malu bekerja sebagai tukang tambal ban karena memang tidak ada yang harus dibuat malu dengan profesi tersebut. Selain itu, Mustamin juga terus memupuk sifat sabar dan jujur dalam segala hal yang mana dia praktikkan juga dalam kesehariannya ketika bertugas.

5. M Taufiq Hidayat

Jika selama ini ada pandangan bahwa seorang polisi tentunya bergaji besar dan memiliki tempat tinggal layak, maka coba koreksi lagi pandangan tersebut dengan melihat kehidupan Bripda M Taufiq Hidayat atau seorang anggota korps Bhayangkara di Yogyakarta yang tinggal di bangungan bekas kandang sapi dengan orang tua dan adik-adiknya.

Taufiq Hidayat [image source]
Taufiq Hidayat [image source]
Sontak namanya menjadi terkenal karena dia mengaku bekerja keras untuk mewujudkan cita-citanya tersebut menjadi seorang abdi negara. Taufiq menganggap bahwa kemiskinan bukan suatu penghalang peraihan cita-cita dan hal tersebut dia buktikan dengan hanya berbekal pengalaman sebagai anggota pramuka dan ijazah SMAK, Taufiq berhasil lulus di Sekolah Polisi Negara (SPN) Selopamioro tahun 2014 silam.

Keteguhan, keuletan dan kesabarannya tersebut membuatnya dianugerahi penghargaan sebagai ikon Kepolisian Republik Indonesia dari World Peace Committee.

6. Rochmat Tri Marwoto

Brigadir Rochmat Tri Marwoto adalah seorang anggota Brimob Detasemen C Satbrimob Polda Jawa Timur yang namanya melambung karena memiliki hati yang mulia, yaitu menyekolahkan 54 anak kurang mampu, walaupun jabatan dan gaji yang diterimanya tidak terlalu tinggi.

Rockmat Tri Marwoko [image source]
Rockmat Tri Marwoko [image source]
Dalam sebuah wawancara di stasiun TV swasta Tanah Air, Rochmat mengatakan bahwa dia melakukan hal tersebut sejak tahun 2007 silam. Rata-rata anak yang dia sekolahkan berstatus yatim piatu, anak jalanan dan anak yang terlantar.

Kegigihan dalam menjalan tugas serta mengarungi kehidupan pantas diacungi jempol. Dengan gaji yang tidak seberapa, Rochmat rela membagi rezekinya untuk menyekolahkan anak kurang mampu. Bahkan dia pernah menjadi tukang ojek untuk mencari tambahan penghasilan ketika ditugaskan di Jakarta.

7. Miran

Bagi warga Kota Malang asli, pastinya akan mengenal nama Miran, seorang mantan anggota polisi di Polresta Malang. Dia juga pernah menjabat sebagai waka primko (Wakil Kepala Primer Koperasi) dan Kasat Sabhara (Satuan Bhayangkara) Polresta Malang.

Miran [image source]
Miran [image source]
Dalam pencapaian dan meraih jabatan tersebut, Mayor Miran mengatakan bahwa dia tidak menggunakan apapun, apalagi uang pelicin. Miran meniti karirnya dari bawah dan dilakukan dengan kerja keras.

Kejujuran dan ketegasannya tersebut berbuah manis dengan didapatkannya penghargaan dari mantan Presiden Soeharto pada tahun 1997 silam.

8. Ruslan

Mungkin bagi seseorang yang sudah menjabat sebagai kepala unit, tentunya akan malu jika harus bekerja sebagai tukang sol sepatu di pasar. Akan tetapi, hal ini tidak dirasakan oleh aiptu Ruslan, seorang Kanit Binmas Polsek Pidie di Aceh.

Ruslan [image Source]
Ruslan [image Source]
Dia melakukan pekerjaan tersebut dengan iklas dan tanpa malu sedikitpun. Bahkan profesinya sebagai tukang sol sepatu selepas bertugas tersebut dilakoninya sejak bertahun-tahun. Dalam prinsipnya, Ruslan mengatakan bahwa mencari rezeki itu dapat dari mana saja, yang penting halal.

9. Kaharoeddin Dt Rangkayo Basa

Kaharoeddin Dt Rangkayo Basa adalah seorang perwira polisi pertama di Indonesia yang diangkat untuk menduduki jabatan sebagai gubernur berdasarkan keputusan mantan Presiden Soekarno.

[image source]
Kaharooeddin Dt Rangkayo Basa [image source]
Walaupun memiliki jabatan yang sangat tinggi, akan tetapi Pak Kahar atau nama panggilan dari Kaharoeddin Dt Rangkayo Basa tetap memegang teguh kejujuran, kedispilinan dan ketegasan dalam setiap langkah yang diaambil dan dilaluinya, termasuk ketika bertugas.

Bahkan dia selalu menolak menerima uang di luar gaji yang wajib diterimanya. Tak ayal, hingga akhir hayatnya, Pak Kahar tidak memiliki rumah sendiri dan melarang  keluarganya untuk menggunakan fasilitas negara, sampai-sampai menolak tawaran Kapolri pada waktu itu yang ingin memberangkatkannya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji.

10. Ursinus Ellias Meddelu

Irjen Ursinus Ellias Meddelu juga termasuk dalam golongan polisi jujur dan patut diteladani. Betapa tidak, selama tujuh tahun bertugas di tempat yang ‘basah’ dan dapat dengan mudah dia pergunakan untuk kepentingan pribadi, Ursinus tak tergoda untuk mencoba mengambil keuntungan dari tempat di mana dia bekerja.

Polisi-polisi Baik yang Dimiliki Indonesia - j
Ursinus Ellias Meddelu [image source]
Ursinus juga mengajarkan kepada keluarganya untuk hidup sabar dan tidak bermewah-mewah, sekaligus jangan pernah silau juga iri akan apa yang tampak dalam kehidupan sehari-hari, seperti gaya hidup glamour para istri perwira dan sebagainya.

Walaupun kehidupannya terbilang memprihatinkan, namun dia bangga karena Ursinus tidak pernah tergoda untuk melakukan korupsi atau membuat negara merugi.

11. Hoegeng Imam Santoso

Yang terakhir dan menjadi panutan serta legenda di Korps Kepolisian adalah Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso. Dia dianggap sebagai salah satu dari pejuang kepolisian yang ingin menegakkan hukum dan kebenaran di Indonesia walaupun banyak halangan menghadang.

Hoegeng Imam Santoso [image source]
Hoegeng Imam Santoso [image source]
Ketegasan dan kejujurannya serta dianggap sebagai icon polisi anti-suap sangat melekat pada diri pria yang juga turut berperang melawan penjajah Belanda ini. Dia pernah menjabat sebagai Kapolri namun hanya sebentar saja karena ‘diturunkan’ secara halus oleh mantan Presiden Soeharto pada tanggal 2 Oktober 1971 karena terlalu jujur dan tidak dapat menerima suap.

Bahkan banyak hal yang membuat banyak pihak termasuk pejabat negara geram terhadap Hoegeng karena dia selalu ingin membongkar kasus yang dirasanya aneh dan tidak berkesudahan, seperti kasus SUm Kuning sampai dengan penyelundupan mobil mewah oleh Robby Tjahjadi. Dia dicopot dari jabatannya dan ditawari untuk kembali bertugas sebagai diplomat di negara lain. Akan tetapi Hoegeng menolak karena dia merasa hal tersebut merupakan langkah halus untuk menyingkirkannya.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA